Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1446 Hijriyah ini, terasa istimewa bagi anak-anak yang ingin menghabiskan waktu lebaran dengan bertamasya ke destinasi wisata. Rencana semula ingin ke Medan, sambil menikmati sensasi Mickey Holiday di Berastagi. Rencana itu dianulir. Ya, ada kekhawatiran akan keterbatasan waktu, juga tenaga untuk melajukan kendaraan sendiri. Pasti akan sangat melelahkan.
Akhirnya kami memutuskan ke destinasi wisata yang ada di Aceh. Pilihan utama adalah ke daratan tinggi Gayo, Aceh Tengah yang dikenal berhawa dingin dengan destinasi wisata beragam. Perjalanan ke Kota dingin Takengon diawali dengan berangkat usai salat magrib. Kami menuju Bureun dan menikmati makan malam di sebuah cafe di kawasan dekat sawah yang merupakan Shortcut dari kota Bireun menuju Matang, kota kecamatan yang terkenal dengan sate Matang.
Sambil mencicipi sajian makanan yang telah kami pesan, kami mencoba mencari penginapan, hotel, motel atau wisma, bahkan home stay. Jawabannya, eh semua penuh. Celaka dua belas jadinya, ya kan? Bayangkan saja, kalau ke Takengon tidak dapat tempat penginapan, pingsan juga kita tidur di mobil. Apalagi kami berangkat membawa anak-anak yang pasti masih kecil. Bisa sangat repot bukan?
Nah, karena kami berangkat dari Ule Gle yang jarak tempuh sekitar 30 menit ke Bireun, muncul ide untuk mencari hotel atau penginapan di Bireun, tapi istri dan adik ipar serta makcik, pasti keberatan kalau menginap di Bireun. Kata mereka kita kembali saja ke Ule Gle, besoknya pukul 06.00 pagi kita berangkat. Ya, saran itu pun diikuti dan kami kembali ke Ule Gle, sembari membayangkan perjalanan pagi esok hari.
Tepat pukul 04.30 kami semua bangun dan mandi serta menyiapkan segala yang sudah diturunkan dari mobil semalam, dan melaksanakan salat subuh dan bergegas menghidupkan mobil, lalu tancap lagi ke Bireun. Karena berangkat pagi, perjalanan ke Bireun menjadi jalan TOL alternatif. Bisa lari 100-120 km/h. Hanya dalam waktu kurang dari 30 menit sudah tiba di Bireun dan langsung melaju ke arah Juli yang merupakan jalan ke Kota penghasil kopi Arabicca Gayo highland itu.
📚 Artikel Terkait
Alhamdulilah jalan yang berbukit dan berliku-liku serta menanjak tajam, masih sepi, sehingga laju kendaraan bisa lebih cepat dan aman. Alhamdulilah bisa tiba lebih cepat tanpa hambatan di kota Takengon. Setiba di kota ini, matahari mulai meninggi dan suasana kota juga sudah tampak ramai. Mungkin karena banyaknya pengunjung yang berhari raya dan berlibur ke kota ini.

Kami mengarahkan mobil ke jalan yang mengelilingi danau laut tawar atau juga disebut danau Lot atau Lut Tawar. Danau yang terbentang luas dengan air yang tenang itu mengundang banyak pengunjung, sehingga untuk mengemudi mobil dari arah kota Takengon menuju Bintang, jalan penuh sesak dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Hampir sepanjang jalan harus dikawal dan diarahkan oleh Polisi. Para pengunjung datang dan memenuhi tempat -tempat wisata di pinggir danau Lot Tawar. Banyak home stay, cafe dan restoran yang dipenuhi pengunjung. Juga pada pasangan jalanan yang menjajakan makanan dan minuman di pinggir sisi jalan panen besar.
Kami sendiri akhirnya menemukan sebuah tempat yang begitu tepat bagi kami serombongan. Kami berangkat ke Takengon dengan dua mobil. Kami menemukan sebuah cafe dan home stay, Dallof yang letaknya di pinggir danau dan lereng gunung tinggi. Kami berhenti dan masuk ke cafe bagian atas memesan makanan dan kemudian memilih tempat duduk di pinggir danau Lot Tawar.
Cafe yang memiliki home stay ini menyuguhkan daftar makanan yang menjadi kesukaan anak-anak sekarang. Tidak lupa pula kami memesan kopi Arabicca Gayo, Americano sebagai penghangat dan penyemangat tubuh. Kami menempati payung yang letaknya pas di bibir laut tawar, sehingga bisa menyaksikan kumpulan ikan kecil yang dikenal depik itu berenang mencari makanan bergerombolan.
Pemandangan Danau Laut Tawar dan indahnya bukit pegunungan serta sejuknya udara di pinggir danau Laut Tawar menyejukan hati dan pikiran. Apalagi sambil duduk mencicipi makanan, ada banyak keindahan yang bisa dinikmati. Bahkan kami merasa terhibur ketika menyaksikan kelihatan pramuniaga, para pelayan restoran yang mengantarkan makanan dengan mengendarai sepeda motor dan naik dan turun di jalan yang menanjak dengan lihainya.
Tempat ini, selain menyediakan sajian makanan yang sesuai lidah dan selera, juga menjadi tempat yang sangat cocok bagi orang yang suka berswafoto atau foto bersama keluarga dengan sajian keindahan alam di danau dan sekitar danau Laut Tawar itu. Wajar saja, rombongan kami, tak habis-habisnya menggunakan kamera untuk mengabadikan moment lebaran di tempat ini.
Tanpa terasa waktu salar dhuhur tiba dan kami melaksanakan salat dhuhur di musala yang letaknya di bagian atas dari lokasi tempat duduk kami. Usai salat dhuhur, aktivitas foto-foto dilanjutkan dengan berbagai jurus dan gaya selfie. Kami memutuskan untuk meninggalkan Dall of dengan meminta nomor kontak Dall of serta mendsosnya yang aktif dan digunakan secara aktif. Kepada kami diberikan IG agar lebih mudah dihubungi.
Eh, ternyata, foto-foto belum berakhir istri, anak, ipar dan juga makcik dengan 4 sepupu terus berfoto ria sambil mendaki ke pintu gerbang. Setiap satu langkah mendaki, berfoto lagi. Mereka tidak ingin kehilangan momen saat menikmati keindahan alam di sekitar Laut Tawar.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






