Dengarkan Artikel
Oleh Don Zakiyamani
Saat melihat anak kecil dipukul orang tuanya, lalu kisah itu viral. Apa yang biasanya kita respon, umumnya kita akan mengatakan kejamnya orang tua itu. Kasus lainnya, misalnya ketika ada orang tua membuang anaknya, kita pun akan merespon yang sama.
Namun, bagaimana kalau kita tersenyum dan bahagia. Apakah respon itu salah? Ya, saya yakin akan disalahkan. Namun Yang Maha Kuasa memberi setiap kita pikiran dan hati yang berbeda. Sekejam apapun perbuatan seseorang, bagaimana kalau kita menggunakan cara pandang berbeda.
Kita dapat belajar dari kisah Nabi Khidir dan Musa. Dalam kisah yang terkenal itu, Nabi Khidir membunuh seorang anak. Sontak Nabi Musa protes atas tindakan itu. Sikap yang wajar, namun setelah penjelasan dari Nabi Khidir, Musa menjadi paham.
Demikian pula dalam realitas yang kita rasakan dan saksikan. Ketika anak usia 4 tahun ditinggal ibunya, atau kisah anak yang dibuang orang tuanya. Sebagai manusia tentu kita akan merasa kasihan dan iba, itu wajar saja. Namun jangan berlebihan sampai mempertanyakan keputusan Yang Maha Kuasa.
Bagaimana kalau kita melatih cara pandang. Kita melihatnya sebagai peluang bagi korban mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Sama seperti anak yang dibunuh Nabi Khidir, ia mendapat surga tanpa hisab. Bayangkan bila ia dewasa dan menjadi pelaku koruptor maupun pembunuh. Ya, Yang Maha Mengetahui lebih tahu daripada kita.
Hal yang sama juga terjadi pada hal-hal yang kita pandang sangat menyedihkan atau menyakitkan. Ketika keinginan kita tidak terpenuhi misalnya, Yang Maha Kuasa lebih tahu yang terbaik untuk kita dan orang sekitar kita bahkan bangsa dan negara.
Itulah mengapa saya lebih sering menyaksikan sesuatu dengan senyum sambil mencoba menerka maksud baik dari Yang Maha Tahu (Allah). Meski senyum saya tentu jarang dikeluarkan, efisiensi gesture. Soal ini, kapan-kapan kita bahas. Kita kembali soal melatih cara pandang.
Dengan latihan rutin, kita akan terbiasa melihat sesuatu dengan ragam cara pandang. Misalnya ketika orang yang kita percaya berkhianat, kita wajib syukur. Pèrtama ia telah membuka topengnya sendiri, tentu Yang Maha Kuasa tidak ingin dia dalam kemunafikan yang akut. Dan kita pun telah diselamatkan. Artinya kita dan dia sama-sama diselamatkan dari hubungan transaksional, hubungan kemunafikan. Atau nama lain sesuai analisis masing-masing dari kita.
Hal lainnya, misalkan teman Anda malas ibadah. Itu peluang dakwah karena Islam agama dakwah bukan agama hardik. Jika ia enggan ibadah karena akalnya, maka yang harus dilakukan ialah kita upgrade akal, ilmu, dan pengetahuan kita. Dakwah bukan hanya dengan lisan, bisa dengan tindakan. Terutama contoh keteladanan yang logis.
📚 Artikel Terkait
Melatih cara pandang baru bukanlah perkara mudah. Pasalnya, cara pandang kita yang selama ini digunakan sudah mengakar, berbuah dan kita nikmati bahkan kita sembah sebagai kebenaran absolut. Karenanya Anda akan sedikit tersiksa, melawan diri sendiri yang sudah candu pada cara pandang yang selama ini dianut.
Ya, melawan diri sendiri adalah perkara paling sulit kita lakukan. Kita harus menyesuaikan hal baru yang mungkin selama ini kita tentang. Misalnya kita anggap kentut di depan orang itu biasa saja, dengan nilai-nilai yang selama ini kita pegang. Lalu kita ubah cara pandang, ah tidak sopan, nah menuju ke arah ini akan sulit. Kita rela debat panjang dengan diri sendiri, namun bila kita masih berpandangan sama dengan awal, tentu debat pada diri sendiri tidak terjadi.
Proses latihan cara pandang baru dalam melihat realita butuh kemandirian pikiran, butuh kemerdekaan berpikir termasuk bebas dari sesuatu yang selama ini kita pahami sangat benar. Misalnya menangis saat musibah, bayangkan jika ketika musibah kita malah tersenyum. Bagaimana kira-kira respon orang lain. Ya, orang lain menjadi salah satu siksaan ketika melatih cara pandang baru.
Kita yang tersenyum saat musibah atau melihat musibah, pasti dianggap tidak empati, sudah hilang rasa kemanusiaan, dan beberapa kalimat hardik lainnya. Padahal kita melihat musibah dari sisi berbeda, cara pandang kita berbeda sehingga hadir respon berbeda. Ketika ayah saya meninggal, harusnya saya menangis. Namun saya malah tersenyum, pertama karena kalimat syahadat yang terucap di akhir hayat, saya ikut membantu. Kedua, rasa sakitnya hilang.
Kita tentu pernah membaca bagaimana para penghuni neraka berharap segera dimatikan. Rasa sakit itu sudah tak tertahan lagi. Dengan demikian, ayah saya sudah terbebas dari rasa sakit penyakitnya. Ketiga, kematian adalah sesuatu yang pasti, cepat atau lambat akan terjadi pada kita maupun orang sekitar kita. Toh air mata kita tidak akan mengurangi dosa, hal terpenting adalah mendoakannya agar terhindar dari siksa kubur dan neraka. Cara pandang ini yang saya gunakan.
Raja Julius Cesar jelang wafatnya berpesan tiga hal pada asistennya. Pertama, ia harus digotong para dokter terbaik, kedua, sepanjang jalan menuju pemakaman, hartanya harus disebarkan, ketiga biarkan tangannya terbuka ke luar. Pesannya itu bermakna bahwa sehebatkan apapun dokter tidak akan mampu mengobati kematian, tidak akan mampu mencegah kematian. Lalu, harta yang kita miliki akan kita tinggalkan, dan makna pesan ketiga, kita lahir dan mati dengan tangan kosong, tidak ada lagi kekuasaan melekat saat mati.
Dalam urusan lain pun demikian. Saya pernah membaca kalimat lelucon, dia tulis begini; “sudah hidup hanya sekali lahir pula di Indonesia yang elitnya senang korupsi”. Kalimat itu mengandung kesalahan secara tauhid, kita hidup tidak sekali, yang sekali itu mati. Jika hidup hanya sekali tentu kita tidak akui konsep surga dan neraka. Bila dia atheis pun kalimat tetap salah, mengapa?
Cara pandangnya tentang pemimpin yang korup melupakan konsep ikhtiar. Bagaimanapun buruknya petugas konstitusi hari ini, itu adalah peluang bagi kita memperbaiki. Agar mampu memperbaiki, kita harus paham area yang rusak, lalu memberi onderdil baru jika perlu. Kita pun kemudian belajar, kita membuka kembali kisah masa lalu, teori yang sudah ada, dan kita punya peluang melahirkan ide dan gagasan baru bahkan teori baru.
Hal itu membutuhkan cara pandang baru dalam melihat realitas. Kita dapat mulai dari diri sendiri, apakah kita bukan pelaku korupsi. Misalnya dengan jatah usia, uang, waktu, pikiran, teman, ilmu, apakah kita sudah sesuai SOP (Standard Operating Procedure) Yang Maha Kuasa dengan segala fasilitas yang diberikan sebagai khalifah. Tapi ini bukan berarti kita haram mengkritisi pemerintahan. Cara pandang ini berguna untuk mengetahui akar persoalan bangsa dan negara.
Selama ini saya temui pertanyaan, “kenapa dia yang awalnya baik malah menjadi koruptor”, pertanyaan ini kemudian menunjukkan cara pandang seorang tentang perubahan sikap dan tindakan tanpa mengetahui akar persoalan. Ia hanya melihat hasil, akibatnya ia trauma memilih orang baik dan memilih penjahat asalkan kasih uang. Hal itu kemudian menjadi dominan di tengah kita, cerita selanjutnya kita semua tahu.
Bagi saya, cara pandang adalah hal penting, siapapun dan apapun profesi kita. Anda seorang PNS, jika Anda memiliki cara pandang bahwa pekerjaan itu cara membantu orang banyak, tentu tindakan korupsi Anda pandang sebagai tindakan merugikan orang banyak. Mari kita latih cara pandang beragam, agar kita tidak berhenti berpikir alias fanatik buta minimal terhadap pandangan pada diri sendiri.
Dan tulisan ini dapat dikatakan sebagai cara pandang terhadap cara pandang. Sehingga dipemuhi subjektifitas yang diharapkan dapat membuka ruang berpikir. Tidak masalah, Anda setuju atau tidak karena sisi lain diri saya pun agak protes. Wallahualam.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






