• Latest
Budaya Nongkrong di Tanah Rencong - IMG_3833 scaled | # Begadang | Potret Online

Budaya Nongkrong di Tanah Rencong

April 2, 2025
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Budaya Nongkrong di Tanah Rencong - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | # Begadang | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Budaya Nongkrong di Tanah Rencong - IMG_3833 scaled | # Begadang | Potret Online

Budaya Nongkrong di Tanah Rencong

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
April 2, 2025
in # Begadang, Aceh, POTRET Budaya, Warung kopi
Reading Time: 4 mins read
0
594
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Tabrani Yunis

Jam sudah menunjukan pukul 23.41 menit. Kursi dan meja di warung Sumatera kopi, di kota Ule Gle, Pidie Jaya masih penuh dengan orang muda yang nongkrong malam itu, Senin 31 Maret 2025, bertepatan dengan  1 Syawal 1446 H. Para kaula muda yang duduk berkelompok di meja-meja yang ditempati oleh 4 hingga 6 orang itu, terdengar ribut dengan suara-suara yang saling bercerita, berbincang dan juga bercanda serta  juga  banyak yang sibuk dan senyap menggunakan gadget masing-masing, sambil menikmati kopi atau minuman lainnya dalam waktu yang lama hingga larut malam.

Esok malamnya, pada malam dua lebaran, sekitar pukul 21.30 WIB penulis bersama keluarga ikut nongkrong, ke kawasan Samalanga, kabupaten Bireun. Wow! Di kawasan ini ternyata banyak sekali tumbuh tempat nongkrong yang bangunannya besar dan bisa menampung ratusan pengunjung. Dahsyat sekali. Banyak sekali orang yang nongkrong sambil mencari makanan yang disantap sambil ngobrol bersama teman atau keluarga. Kondisi ini memperlihatkan dan membuktikan bahwa tradisi nongkrong di kota ini pun begitu semarak. 

Tentu saja tradisi nongkrong ini bukan hanya menjadi bagian budaya dari masyarakat di dua kecamatan yakni Ule Gle dan Samalanga, tradisi nongkrong di tanah rencong ini, menggejala di semua wilayah di Aceh, sejalan dengan menjamurnya warung kopi dari yang paling kecil hingga yang besar-besar yang bisa menampung ratusan pengunjung yang suka nongkrong hingga larut malam.

Baca Juga

IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026

Nah, melihat realitas nongkrong dalam masyarakat Aceh, yang konon menjadi ciri khas bagi masyarakat di daerah ini yang seharian banyak menghabiskan waktu nongkrong di warung kopi sepanjang hari menjadi hal yang menarik untuk kita sidik.

Ya, kata nongkrong yang dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai sebuah aktivitas berjongkok” atau “duduk-duduk saja karena tidak bekerja.” Pengertian itu tidak relevan dengan kondisi tradisi nongkrong di Aceh saat ini. Karena nongkrong dalam kehidupan sosial orang Aceh bermetamorfosis lebih dahsyat, menjadi tradisi baru dan fenomenal. 

Nongkrong  kini menjadi pilihan yang sangat menyenangkan dari dilakukan oleh semakin banyak orang, sejalan semakin banyaknya tumbuh tempat nongkrong di Aceh, mulai dari kota yang menjadi ibukota Aceh, Banda Aceh, hingga ke pelosok-pelosok begitu menjamur. Nongkrong difahami pula sebagai aktivitas atau kegiatan duduk-duduk di sebuah tempat, untuk bersantai-santai, menghabiskan waktu, atau rehat sejenak. 

Kemudian, seiring dengan perubahan zaman, maknanya telah bergeser lebih luas, sehingga kini lebih menekankan pada aspek sosial dan rekreasi, sekaligus menjadi ruang untuk berbagi pengalaman dan menjalin keakraban antar sesama, menjadi ajang silaturahmi warung kopi. Jadi bukanlah hal yang aneh atau asing bagi masyarakat Aceh atau bahkan Indonesia melihat fenomena atau bahkan realitas nongkrong di Aceh sebagai sebuah realitas sosial yang terus mengkristal.

Sebenarnya budaya nongkrong di Indonesia bukanlah hanya menjadi tradisi atau bagian dari budaya orang Aceh, namun bila kita amati di setiap kota di tanah air, tidak seperti apa yang sedang melanda tradisi orang Aceh saat ini. Sehingga tradisi ini menjadi fenomena sosial yang sangat menarik untuk diamati dan diulas. 

Bila kita amati tempat -tempat nongkrong, kita akan menemukan banyak temuan atau cerita. Sebagai contoh, bila kita lihat usia pengunjung, atau usia mereka yang setiap hari atau malam melakukan nongkrong, mungkin kita akan berkata, bahwa nongkrong itu adalah kebiasaan anak-anak muda yang suka berkumpul bersama kawan-kawan, sambil menggunakan gadgets, ternyata bukan hanya kegiatannya anak-anak muda, tetapi juga diramaikan oleh kaum tua. Bahkan bukan hanya itu, warung kopi dan tradisi nongkrong yang sebelumnya menjadi pilihan kegiatan kaum laki-laki, kini kegiatan nongkrong itu juga diramaikan oleh kaum perempuan dan anak yang datang sendiri atau bersama perempuan, juga datang bersama keluarga.

Jadi, dapat dikatakan saat ini baik di kalangan anak muda, maupun tua, laki-laki dan perempuan, aktivitas nongkrong itu kini dapat dikatakan menjadi bagian dari gaya hidup modern. Dikatakan demikian, karena tempat nongkrong seperti warung kopi atau kafe tidak hanya berfungsi sebagai tempat bersantai, tetapi juga sebagai simbol eksistensi diri dan gaya hidup masyarakat Aceh, khususnya.

Jadi jangan heran, bila orang luar atau tamu yang dari luar Aceh atau tamu yang datang ke rumah, para tamu akan lebih sering dilayani di warung kopi atau cafe, karena kenikmatan melayani tamu di rumah, telah berpindah ke warung kopi atau cafe. Rasanya sudah tidak enak menyuguhkan kopi atau teh kepada tamu di rumah, karena di rumah sudah tidak tersedia kopi atau teh untuk diseduh dan disuguhkan kepada tamu, lagi pula tuan rumah setiap hari ke warung kopi bila ingin menikmati kopi. Sehingga nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas yang kuat dalam budaya masyarakat Aceh itu ada di warung-warung kopi.

Semakin membudayanya kegiatan nongkrong di dalam masyarakat Aceh, sebenarnya bukanlah pertanda baik atau positif. Karena  aktivitas nongkrong sendiri tidak lah sangat positif atau banyak manfaatnya. Dikatakan demikian, karena dalam perspektif penggunaan waktu, orang Aceh bisa disebut sebagai kaum yang malas, karena lebih banyak menghabiskan waktu di warung kopi, ketimbang melakukan hal-hal yajg produktif dan bernilai ekonomi. Bersama-lama nongkrong di warung kopi hanya mendorong masyarakat Aceh ke posisi konsumen, yang setiap hari mengeluarkan biaya untuk ngopi, sementara pendapatan tidak ada. 

Selain itu, mengkritalnya budaya nongkrong di kalangan anak muda dan masyarakat Aceh secara umum, bisa menjerumuskan masyarakat Aceh ke dalam kondisi masyarakat begadang yang membawa pengaruh buruk terhadap kesehatan ekonomi dan kesehatan fisik, ketika nongkrong hingga karut malam dan dilakukan dalam intensitas tinggi yang mengurangi waktu tidur, akan secara pasti berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental, akibat kurang tidur.

Oleh sebab itu, masyarakat Aceh juga harus bijak dan arif dalam melakukan aktivitas nongkrong. Nongkrong itu perlu untuk sejenak rileks atau rekreasi serta silaturahmi, tetapi jangan dijadikan aktivitas nongkrong di warung kopi atau cafe sebagai sebuah tradisi yang menjadi kebiasaan buruk, karena akan merusak kualitas ekonomi keluarga dan juga kualitas kesehatan masyarakat. 

Nah, kita boleh bangga melihat kemajuan warung kopi atau cafe yang menjamur di seluruh Aceh, tetapi tidak perlu berbangga dengan semakin kentalnya budaya nongkrong yang mendorong kita begadang hingga larut malam, yang bermuara kepada berkurangnya kualitas hidup. Ya, kurangnya kualitas kesehatan ekonomi keluarga, dan juga kualitas kesehatan mental dan fisik, serta renggangnya hubungan keluarga yang membahayakan masyarakat Aceh.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 320x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare238Tweet149
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Baca Juga

IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
Next Post
Budaya Nongkrong di Tanah Rencong - 8f0e01f5 76f0 4f62 99f7 f074cd98a975 | # Begadang | Potret Online

Untaian Puisi Anies Septivirawan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com