• Latest
Budaya Nongkrong di Tanah Rencong

Budaya Nongkrong di Tanah Rencong

April 2, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Budaya Nongkrong di Tanah Rencong

Tabrani Yunisby Tabrani Yunis
April 2, 2025
Reading Time: 4 mins read
Budaya Nongkrong di Tanah Rencong
594
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Tabrani Yunis

Baca Juga

IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026

Jam sudah menunjukan pukul 23.41 menit. Kursi dan meja di warung Sumatera kopi, di kota Ule Gle, Pidie Jaya masih penuh dengan orang muda yang nongkrong malam itu, Senin 31 Maret 2025, bertepatan dengan  1 Syawal 1446 H. Para kaula muda yang duduk berkelompok di meja-meja yang ditempati oleh 4 hingga 6 orang itu, terdengar ribut dengan suara-suara yang saling bercerita, berbincang dan juga bercanda serta  juga  banyak yang sibuk dan senyap menggunakan gadget masing-masing, sambil menikmati kopi atau minuman lainnya dalam waktu yang lama hingga larut malam.

Esok malamnya, pada malam dua lebaran, sekitar pukul 21.30 WIB penulis bersama keluarga ikut nongkrong, ke kawasan Samalanga, kabupaten Bireun. Wow! Di kawasan ini ternyata banyak sekali tumbuh tempat nongkrong yang bangunannya besar dan bisa menampung ratusan pengunjung. Dahsyat sekali. Banyak sekali orang yang nongkrong sambil mencari makanan yang disantap sambil ngobrol bersama teman atau keluarga. Kondisi ini memperlihatkan dan membuktikan bahwa tradisi nongkrong di kota ini pun begitu semarak. 

Tentu saja tradisi nongkrong ini bukan hanya menjadi bagian budaya dari masyarakat di dua kecamatan yakni Ule Gle dan Samalanga, tradisi nongkrong di tanah rencong ini, menggejala di semua wilayah di Aceh, sejalan dengan menjamurnya warung kopi dari yang paling kecil hingga yang besar-besar yang bisa menampung ratusan pengunjung yang suka nongkrong hingga larut malam.

Nah, melihat realitas nongkrong dalam masyarakat Aceh, yang konon menjadi ciri khas bagi masyarakat di daerah ini yang seharian banyak menghabiskan waktu nongkrong di warung kopi sepanjang hari menjadi hal yang menarik untuk kita sidik.

Ya, kata nongkrong yang dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai sebuah aktivitas berjongkok” atau “duduk-duduk saja karena tidak bekerja.” Pengertian itu tidak relevan dengan kondisi tradisi nongkrong di Aceh saat ini. Karena nongkrong dalam kehidupan sosial orang Aceh bermetamorfosis lebih dahsyat, menjadi tradisi baru dan fenomenal. 

Nongkrong  kini menjadi pilihan yang sangat menyenangkan dari dilakukan oleh semakin banyak orang, sejalan semakin banyaknya tumbuh tempat nongkrong di Aceh, mulai dari kota yang menjadi ibukota Aceh, Banda Aceh, hingga ke pelosok-pelosok begitu menjamur. Nongkrong difahami pula sebagai aktivitas atau kegiatan duduk-duduk di sebuah tempat, untuk bersantai-santai, menghabiskan waktu, atau rehat sejenak. 

Kemudian, seiring dengan perubahan zaman, maknanya telah bergeser lebih luas, sehingga kini lebih menekankan pada aspek sosial dan rekreasi, sekaligus menjadi ruang untuk berbagi pengalaman dan menjalin keakraban antar sesama, menjadi ajang silaturahmi warung kopi. Jadi bukanlah hal yang aneh atau asing bagi masyarakat Aceh atau bahkan Indonesia melihat fenomena atau bahkan realitas nongkrong di Aceh sebagai sebuah realitas sosial yang terus mengkristal.

Sebenarnya budaya nongkrong di Indonesia bukanlah hanya menjadi tradisi atau bagian dari budaya orang Aceh, namun bila kita amati di setiap kota di tanah air, tidak seperti apa yang sedang melanda tradisi orang Aceh saat ini. Sehingga tradisi ini menjadi fenomena sosial yang sangat menarik untuk diamati dan diulas. 

Bila kita amati tempat -tempat nongkrong, kita akan menemukan banyak temuan atau cerita. Sebagai contoh, bila kita lihat usia pengunjung, atau usia mereka yang setiap hari atau malam melakukan nongkrong, mungkin kita akan berkata, bahwa nongkrong itu adalah kebiasaan anak-anak muda yang suka berkumpul bersama kawan-kawan, sambil menggunakan gadgets, ternyata bukan hanya kegiatannya anak-anak muda, tetapi juga diramaikan oleh kaum tua. Bahkan bukan hanya itu, warung kopi dan tradisi nongkrong yang sebelumnya menjadi pilihan kegiatan kaum laki-laki, kini kegiatan nongkrong itu juga diramaikan oleh kaum perempuan dan anak yang datang sendiri atau bersama perempuan, juga datang bersama keluarga.

Jadi, dapat dikatakan saat ini baik di kalangan anak muda, maupun tua, laki-laki dan perempuan, aktivitas nongkrong itu kini dapat dikatakan menjadi bagian dari gaya hidup modern. Dikatakan demikian, karena tempat nongkrong seperti warung kopi atau kafe tidak hanya berfungsi sebagai tempat bersantai, tetapi juga sebagai simbol eksistensi diri dan gaya hidup masyarakat Aceh, khususnya.

Jadi jangan heran, bila orang luar atau tamu yang dari luar Aceh atau tamu yang datang ke rumah, para tamu akan lebih sering dilayani di warung kopi atau cafe, karena kenikmatan melayani tamu di rumah, telah berpindah ke warung kopi atau cafe. Rasanya sudah tidak enak menyuguhkan kopi atau teh kepada tamu di rumah, karena di rumah sudah tidak tersedia kopi atau teh untuk diseduh dan disuguhkan kepada tamu, lagi pula tuan rumah setiap hari ke warung kopi bila ingin menikmati kopi. Sehingga nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas yang kuat dalam budaya masyarakat Aceh itu ada di warung-warung kopi.

Semakin membudayanya kegiatan nongkrong di dalam masyarakat Aceh, sebenarnya bukanlah pertanda baik atau positif. Karena  aktivitas nongkrong sendiri tidak lah sangat positif atau banyak manfaatnya. Dikatakan demikian, karena dalam perspektif penggunaan waktu, orang Aceh bisa disebut sebagai kaum yang malas, karena lebih banyak menghabiskan waktu di warung kopi, ketimbang melakukan hal-hal yajg produktif dan bernilai ekonomi. Bersama-lama nongkrong di warung kopi hanya mendorong masyarakat Aceh ke posisi konsumen, yang setiap hari mengeluarkan biaya untuk ngopi, sementara pendapatan tidak ada. 

Selain itu, mengkritalnya budaya nongkrong di kalangan anak muda dan masyarakat Aceh secara umum, bisa menjerumuskan masyarakat Aceh ke dalam kondisi masyarakat begadang yang membawa pengaruh buruk terhadap kesehatan ekonomi dan kesehatan fisik, ketika nongkrong hingga karut malam dan dilakukan dalam intensitas tinggi yang mengurangi waktu tidur, akan secara pasti berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental, akibat kurang tidur.

Oleh sebab itu, masyarakat Aceh juga harus bijak dan arif dalam melakukan aktivitas nongkrong. Nongkrong itu perlu untuk sejenak rileks atau rekreasi serta silaturahmi, tetapi jangan dijadikan aktivitas nongkrong di warung kopi atau cafe sebagai sebuah tradisi yang menjadi kebiasaan buruk, karena akan merusak kualitas ekonomi keluarga dan juga kualitas kesehatan masyarakat. 

ADVERTISEMENT

Nah, kita boleh bangga melihat kemajuan warung kopi atau cafe yang menjamur di seluruh Aceh, tetapi tidak perlu berbangga dengan semakin kentalnya budaya nongkrong yang mendorong kita begadang hingga larut malam, yang bermuara kepada berkurangnya kualitas hidup. Ya, kurangnya kualitas kesehatan ekonomi keluarga, dan juga kualitas kesehatan mental dan fisik, serta renggangnya hubungan keluarga yang membahayakan masyarakat Aceh.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Untaian Puisi Anies Septivirawan

Untaian Puisi Anies Septivirawan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com