POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Catatan Sehabis Hujan di Cimahi

Surat yang Tenggelam dalam Banjir Kenangan

Didin TulusOleh Didin Tulus
March 24, 2025
Tags: Artikel
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Didin Tulus

Jam 14.22, aku berdiri di depan gerbang Rumah Sakit Kasih Bunda. Panas menyengat. Kulit terasa seperti dilumuri minyak mendidih. Di tas punggungku, ada  Surat Kandang Karesian selembar kertas yang kutitipkan untuk seseorang yang entah masih peduli atau sudah jadi arwah dalam ingatan. Rencana sederhana: menyerahkan surat, pulang sebelum hujan. Tapi Cimahi bukan tempat yang ramah pada rencana.

Di pinggir menunggu, jarum jam bergerak lamban. 14.51. Keringat mengalir deras, tapi udara terasa beku. Aku memandangi wajah-wajah yang lalu-lalang: ada yang menangis, ada yang tertawa palsu, ada yang kosong seperti kaca retak. Seperti potret kehidupan yang dipaksa berhenti di sini. 15.07. Surat itu akhirnya berpindah tangan. Aku pergi, membawa perut kosong dan kepala penuh kabut.

Di gerbang perlintasan kereta, langit tiba-tiba poek. Angkeub1. Awan hitam menggulung seperti kain kafan. Angin berbisik sesuatu—bahasa yang tak kupahami, tapi menggigilkan tulang. Enggal2 . Aku memacu motor, seolah dikejar hantu. Di tengah kemacetan, aku membeli pisang molen di kios tua. Pisang itu hangat, tapi rasanya seperti abu.

15.49. Hujan turun. Bukan rintik, tapi deras, laksana langit mencoba membersihkan dosa-dosa kota. Aku mampir ke warung Bu Émbun di belokan Tangkil. Kuah sopnya masih sama: gurih. Persiapan untuk buka.
***

Jam 16.30. Aku harus mengantar anak perempuanku ke Jalan Cibabat. *Buka bersama*, katanya. Tapi Cimahi sedang tak ramah pada kebersamaan. Jalan macet, banjir menggenang di kiri-kanan. Kendaraan merayap seperti ulat yang terluka. Aku berpapasan dengan wajah-wajah lelah yang saling menyalahkan: “Ini salah siapa?” “Kapan ini berakhir?” Tak ada jawab. Hanya klakson dan sumpah serapah yang larut dalam hujan.

📚 Artikel Terkait

MUSIK ETNIK DAN DIGITAL DALAM “SAYAP-SAYAP PROKLAMASI”

Fomo, Yolo, Fopo: Tiga Penyakit Mental Pembunuh Gen Z

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

KPK: Komedi Pemberantasan Kelas Teri

Di Jalan Cigugur Tengah, solokan meluap. Airnya menghantam aspal, mengubah jalan jadi sungai liar. Motor-motor terjebak, pengendaranya mengutuk nasib. Aku bertahan di atas jok, basah kuyup, sambil memandangi langit yang masih menangis. Adzan Maghrib berkumandang, tapi tak ada azimah untuk orang-orang yang terdampar di sini. Aku berbuka dengan seteguk air dan sepotong molen yang sudah lembap.

Di tengah deru hujan, aku teringat Surat Kandang Karesian3 yang kutinggalkan tadi. Sebuah naskah tua berisi nasihat bijak, tentang hidup harmoni dengan alam. Ironis. Di Cimahi, manusia dan alam seperti dua kekasih yang saling mencakar. Hutan diganti beton, sungai dipaksa jadi got. Kini, air itu balas dendam—menenggelamkan jalan, memutus rencana, meluluhlantahkan kesombongan kita.

Aku pulang lewat jalan tikus, melewati gang-gang sempit yang masih setia pada keheningan. Hujan mulai reda, tapi langit tetap kelam. Surat Kandang Karesian mungkin sudah sampai, atau mungkin tenggelam dalam banjir kertas-kertas tak terbaca di rumah sakit. Aku tak tahu. Yang pasti, malam ini, Cimahi masih menyisakan getir: kota yang terus berdarah di antara hujan dan asap knalpot, antara harapan dan kegetiran yang tak pernah usai.

Di teras rumah, aku menatap langit. Ada bau tanah basah. Aroma yang seharusnya menenangkan, tapi hari ini terasa seperti epitaf untuk sebuah kota yang perlahan tenggelam dalam kenangannya sendiri.

Catatan redaksi

  1. “Angkeub” adalah istilah dalam bahasa Aceh yang berarti gendongan atau alat untuk menggendong, biasanya digunakan untuk membawa bayi atau anak kecil. Alat ini sering dibuat dari kain yang kuat dan fleksibel, serta digunakan dengan cara mengikatkannya di tubuh penggendong, baik di depan maupun di belakang.
    Penggunaan angkeub dalam budaya Aceh mencerminkan nilai kekeluargaan yang tinggi dan cara hidup yang praktis serta efisien. ↩︎
  2. “Enggal” dalam bahasa Indonesia umumnya berarti segera, cepat, atau tidak lama lagi. Dalam berbagai konteks, kata ini sering digunakan untuk mengungkapkan suatu tindakan atau kejadian yang akan dilakukan tanpa penundaan. Misalnya, “Kami akan enggal menyelesaikan proyek ini” berarti proyek akan segera diselesaikan. ↩︎
  3. “Surat Kandang Karesian” adalah salah satu naskah kuno yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dan termasuk bagian dari tradisi sastra Jawa klasik. Secara garis besar, naskah ini membahas nilai-nilai moral, etika, dan ajaran hidup, yang relevan bagi kehidupan bermasyarakat di masa itu. ↩︎

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Tags: Artikel
Didin Tulus

Didin Tulus

Penulis adalah warga Indonesia tinggal di kota Cimahi. Penggiat literasi. Editor penerbit Tulus Pustaka

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Mengenal Istilah Dark Facrory, Pabrik Masa Depan

Mengenal Istilah Dark Facrory, Pabrik Masa Depan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00