Wajarlah kalau sekarang, dalam praktik sehari-hari, kalau mereka belajar mengejar nilai, mengejar angka, mengejar cepat selesai dan cepat menjadi sarjana, tetapi miskin dengan pengetahuan, ketrampilan dan apalagi yang namanya intelektual dan spiritualitas? Sehingga bukan hal yang aneh, setiap tahun angka pengangguran dari lulusan perguruan tinggi semakin menambah panjang angka yang antri mencari kerja. Bukan hanya itu, tetapi juga makin banyak yang berusaha menunda masa pengangguran, dengan menggelluarkan energi, biaya dan usia melanjutkan pendidikan ke jenjang S2. Celakanya, setelah selesai S2 kembali mencari kerja dan malah menjadi kembali pada pengangguran intelektual.
Nah, kondisi dan realitas inilah, menjadi menarik bagi penulis untuk merenungkan lirik lagu Ebiet G.Ade di atas, sambil bertanya-tanya, ini salah siapa, ini dosa siapa. Meskinya, aku tak bertanya lagi. Namun, sebagai orangtua, sebagai yang peduli pada nasib genarasi bangsa, kita galau karena di depan mata ada selaksa beban dan rintangan yang harus dihadapi dengan modal penggetahuan, ketrampilan dan mentalitas serta moralitas yang cukup berkualitas. Lalu, apa yang bisa kita harapkan, kalau kata kuliah saja belum mereka mengerti.
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulaiaktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yangkebutuhan hidup sehari-hari.
Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan”
Aktif terlibat dalammembangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak.
Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh