POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Belajar Digital? Ah, Itu Sudah Ketinggalan Zaman!

Sazali S.PdOleh Sazali S.Pd
March 11, 2025
Tags: DigitalLiterasiOpini

Ilustrasi

🔊

Dengarkan Artikel

Akhir-akhir ini, ada tren baru di kalangan para ahli pendidikan “dadakan” yang tiba-tiba saja latah terkait kebijakan beberapa negara maju seperti tanpa adanya pertimbangan apapun.

Begitu mendengar bahwa beberapa negara maju mulai mengurangi penggunaan perangkat digital di sekolah dan kembali ke metode konvensional, “si pakar” langsung ikut-ikutan komentar. “Kalau mereka bisa, kenapa kita harus tetap pakai teknologi?” begitu kira-kira logika cerdas ala-ala ahli pendidikan “dadakan”.

Mari kita bayangkan, bayangkan saja dulu ya. Let’s say di sebuah negara dengan infrastruktur pendidikan yang sudah mapan, di mana hampir semua rumah tangga punya akses buku fisik berkualitas, perrpustakaan sekolahnya sangat memadai.

Guru-guru memiliki metode pengajaran yang sudah terasah selama bertahun-tahun, dan siswa sudah terbiasa membaca serta menulis dengan baik sejak kecil dan kemudian mereka memutuskan untuk mengurangi perangkat digital dalam pembelajaran.

Lalu, kita yang masih bergelut dengan keterbatasan akses buku, tenaga pengajar yang kurang, serta literasi dasar yang masih menjadi tantangan besar, eh malah latah dan buru-buru ikut tren ini.

Mari kita renungkan sejenak, sejenak aja tidak perlu lama. Apakah kita sudah memiliki infrastruktur yang sama? Apakah kita sudah punya akses buku yang merata di seluruh pelosok negeri? Apakah anak-anak kita sudah terbiasa membaca tanpa tergoda bermain ponsel? Udah ah, tidak perlu dijawab.

Yang penting, kita jangan sampai ketinggalan tren ikutan-ikutan! Mungkin idiom “Monkey see, monkey do” lebih tepat digunakan untuk mewakili kejenakaan semacam ini.

📚 Artikel Terkait

Ketika Laut dan Buku Sama Asingnya

Dari Pemimpin Peradaban ke Penonton Global: Kesalahan Membaca Islam dan Kemenangan Diagnostik Barat

Menjelang Ramadhan Rindu Kampung Halaman Tempatku Dilahirkan

Menggali Makna Banjir

Jika negara maju sudah mulai beralih dari teknologi, tentu kita juga harus ikut-ikutan, bukan? Jangan pedulikan fakta bahwa di Negara kita atau bahkan daerah kita teknologi justru bisa menjadi solusi bagi daerah-daerah yang minim akses terhadap bahan ajar.

Jangan pikirkan bahwa pembelajaran digital memungkinkan anak-anak kita memperoleh wawasan yang lebih luas dari guru-guru terbaik di seluruh dunia.

Itu semua tidak penting, yang penting kita terlihat ‘maju’ dengan ikut-ikutan kebijakan negara lain.Ironisnya, saat negara-negara maju dulu berbondong-bondong mengadopsi teknologi dalam pendidikan, kita juga heboh ingin mengikutinya, tanpa benar-benar mempersiapkan ekosistemnya dengan baik.

Dan sekarang, ketika mereka merasa sudah cukup dan memilih kembali ke metode lama, kita pun dengan gesit ingin ikut berubah, meskipun kita belum sampai di titik yang sama dengan mereka. Seperti halnya penumpang bus yang turun di halte yang salah, hanya karena melihat orang lain juga turun atau seperti orang yang menerobos lampu merah karena melihat beberapa orang melakukannya.

Mungkin ada baiknya kita mulai belajar memahami konteks sendiri sebelum latah mengikuti tren. Pendidikan bukan soal ikut-ikutan, melainkan soal menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi nyata.

Sebelum memutuskan apakah kita harus meninggalkan pembelajaran digital atau tidak, mari lihat dulu: apakah kita sudah benar-benar siap untuk kembali ke metode konvensional? Atau kita hanya ingin terlihat mengikuti tren tanpa arah yang jelas? Atau jangan-jangan kata “kembali” tersebut belum tepat kita sematkan, toh juga kita belum kemana-mana, artinya kita masih bergelut dengan metode konvensional.

Tapi ya sudahlah, siapa yang butuh berpikir panjang? Toh, lebih mudah mengulang dan meniru kebijakan negara lain daripada memahami kebutuhan sendiri. Selamat ikut-ikutan!

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: DigitalLiterasiOpini
Sazali S.Pd

Sazali S.Pd

Kepala Sekolah yang cinta anak dan istri

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Pedal-Pedal Doa di Jalanan Kota

Pedal-Pedal Doa di Jalanan Kota

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00