• Latest

Belajar Digital? Ah, Itu Sudah Ketinggalan Zaman!

Maret 11, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Belajar Digital? Ah, Itu Sudah Ketinggalan Zaman!

Sazali S.Pdby Sazali S.Pd
Maret 11, 2025
Reading Time: 3 mins read
Tags: DigitalLiterasiOpini

Ilustrasi

588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Akhir-akhir ini, ada tren baru di kalangan para ahli pendidikan “dadakan” yang tiba-tiba saja latah terkait kebijakan beberapa negara maju seperti tanpa adanya pertimbangan apapun.

Begitu mendengar bahwa beberapa negara maju mulai mengurangi penggunaan perangkat digital di sekolah dan kembali ke metode konvensional, “si pakar” langsung ikut-ikutan komentar. “Kalau mereka bisa, kenapa kita harus tetap pakai teknologi?” begitu kira-kira logika cerdas ala-ala ahli pendidikan “dadakan”.

Mari kita bayangkan, bayangkan saja dulu ya. Let’s say di sebuah negara dengan infrastruktur pendidikan yang sudah mapan, di mana hampir semua rumah tangga punya akses buku fisik berkualitas, perrpustakaan sekolahnya sangat memadai.

Baca Juga

Transisi energi dan kendaraan listrik di Indonesia

Transisi Energi Kendaraan Listrik

Maret 27, 2026
Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
AI dan Embrio Liberalisme

AI dan Embrio Liberalisme

Maret 8, 2026

Guru-guru memiliki metode pengajaran yang sudah terasah selama bertahun-tahun, dan siswa sudah terbiasa membaca serta menulis dengan baik sejak kecil dan kemudian mereka memutuskan untuk mengurangi perangkat digital dalam pembelajaran.

Lalu, kita yang masih bergelut dengan keterbatasan akses buku, tenaga pengajar yang kurang, serta literasi dasar yang masih menjadi tantangan besar, eh malah latah dan buru-buru ikut tren ini.

Mari kita renungkan sejenak, sejenak aja tidak perlu lama. Apakah kita sudah memiliki infrastruktur yang sama? Apakah kita sudah punya akses buku yang merata di seluruh pelosok negeri? Apakah anak-anak kita sudah terbiasa membaca tanpa tergoda bermain ponsel? Udah ah, tidak perlu dijawab.

Yang penting, kita jangan sampai ketinggalan tren ikutan-ikutan! Mungkin idiom “Monkey see, monkey do” lebih tepat digunakan untuk mewakili kejenakaan semacam ini.

Jika negara maju sudah mulai beralih dari teknologi, tentu kita juga harus ikut-ikutan, bukan? Jangan pedulikan fakta bahwa di Negara kita atau bahkan daerah kita teknologi justru bisa menjadi solusi bagi daerah-daerah yang minim akses terhadap bahan ajar.

Jangan pikirkan bahwa pembelajaran digital memungkinkan anak-anak kita memperoleh wawasan yang lebih luas dari guru-guru terbaik di seluruh dunia.

Itu semua tidak penting, yang penting kita terlihat ‘maju’ dengan ikut-ikutan kebijakan negara lain.Ironisnya, saat negara-negara maju dulu berbondong-bondong mengadopsi teknologi dalam pendidikan, kita juga heboh ingin mengikutinya, tanpa benar-benar mempersiapkan ekosistemnya dengan baik.

Dan sekarang, ketika mereka merasa sudah cukup dan memilih kembali ke metode lama, kita pun dengan gesit ingin ikut berubah, meskipun kita belum sampai di titik yang sama dengan mereka. Seperti halnya penumpang bus yang turun di halte yang salah, hanya karena melihat orang lain juga turun atau seperti orang yang menerobos lampu merah karena melihat beberapa orang melakukannya.

Mungkin ada baiknya kita mulai belajar memahami konteks sendiri sebelum latah mengikuti tren. Pendidikan bukan soal ikut-ikutan, melainkan soal menyesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi nyata.

Sebelum memutuskan apakah kita harus meninggalkan pembelajaran digital atau tidak, mari lihat dulu: apakah kita sudah benar-benar siap untuk kembali ke metode konvensional? Atau kita hanya ingin terlihat mengikuti tren tanpa arah yang jelas? Atau jangan-jangan kata “kembali” tersebut belum tepat kita sematkan, toh juga kita belum kemana-mana, artinya kita masih bergelut dengan metode konvensional.

ADVERTISEMENT

Tapi ya sudahlah, siapa yang butuh berpikir panjang? Toh, lebih mudah mengulang dan meniru kebijakan negara lain daripada memahami kebutuhan sendiri. Selamat ikut-ikutan!

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Pedal-Pedal Doa di Jalanan Kota

Pedal-Pedal Doa di Jalanan Kota

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com