Dengarkan Artikel
***
Dua pekan berselang. Pada suatu Subuh berembun dengan desiran angin pasir sesekali mengusik mataku manakala tak seperti biasanya Gugat tidak menjemputku di rumah. Kuputuskan untuk ke rumahnya dan memeriksa keadaan. Yang ku tahu jika hal begini terjadi ialah bahwa Gugat ada masalah dengan kapal atau perangkap ikannya.
Sesampainya di sana, kulihat rumah dengan penerangan lampu kecil itu sunyi. Apakah ia masih tidur dengan keluarganya? Aku sedikit mengendap dengan kebimbangan apakah kuketuk pintu itu atau tidak. Manakala putusan telah kusematkan dan kumajukan langkah pertamaku di teras depan rumahnya, sebuah suara memanggilku.
“Iskandar?”
Aku menoleh dengan suara tak asing tersebut. Sahabatku, Gugat? Tanpa baju dan roman wajah beku. Mana gairah yang biasa mengembang dan menjadi pelangi itu? Tanpa basa-basi dia lalu bertanya rendah kepadaku. Kupikir tentang mengapa aku datang, ternyata bukan.
📚 Artikel Terkait
“Kau sudah menonton berita malam tadi?”
Aku akui itu bukan kebiasaanku. Tak seperti dia yang gemar dengan wacana informasi bahkan keingintahuannya itu seolah melupakan tentang lelah karena seharian dipermainkan ombak, aku lebih memilih mengistirahatkan badanku.
Gugat sadar pertanyaan itu hanya sebagai retoris saja. Dia dengan wajah redup lalu memperlihatkan layar ponselnya. Kubaca sebuah berita di sana.
“Menteri Kelautan dan Perikanan melalui persetujuan Pemimpin Negari Sine Qua Non meminta para petugas keamanan untuk menghentikan pencabutan pagar laut karena takut menghilangkan semua barang bukti.”
** Selesai**
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





