Dengarkan Artikel
Begitulah fakta terkhusus setahunan ini.
“Buku itu pengetahuan tanpa batas. Seperti samudera. Sudah semestinya semua orang itu harus memahami dan menerapkannya. Kenyataan bahwa penjajahan hingga sekarang itu ada, bukan suatu hal untuk dimunafikkan” kata Gugat meletakkan kembali bacaannya. Pria setengah baya dengan perawakan tinggi keras, namun kutu buku itulah sahabatku melaut. Dia yang punya kapal ini dan aku ABK-nya.
Tidak sepertiku, Gugat orang yang kokoh tak berlari. Empat puluh lima tahun umurnya adalah penyatuan dari daging gelombang dan tulang karang.
Siang ini geram kembali mengasin di tubuhnya. Kesekian kalinya bubu rajungan kami rusak karena hantaman oleh pagar bambu sialan ini. Sedari tahun lalu sebuah pagar laut yang kami yakini sebagai proyek reklamasi dengan panjang 50 km membelah dan membatasi pesisir. Gugat yakin, korporasi busuk sedang merangkak melawan Tuhan.
📚 Artikel Terkait
Kapal kayu kami yang sejak tadi telah melabuhkan sauh, mulai kami rapatkan ke pancangan bambu. Aku meloncat duluan ke atas pagar. Pijakanku langsung mendarat pada tumpukan karung berisi pasir dan urukan tanah.
“Benar-benar tak habis pikir. Laut saja mau dibendung?” ujarku menggeleng tak percaya.
Gugat yang sibuk di buritan kapal lalu berjalan ke arahku. Dia meneteng beberapa bubu yang reot. Mungkin sebalnya tak terelakan lagi. Manakala telah berdiri di anjungan, bubu itu ia hantamkan pada pagar bambu yang terlindung paranet.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





