Dengarkan Artikel
“Sudah, Pak Robi. Kasih buntung mereka punya tangan!” teriak satu orang sekuriti memantik.
Siang ini semuanya memang telah bersiap dengan senjata. Sudah terlalu lama memendam bara. Pelarangan pemberondolan dengan tindakan sewenang-wenang, banjir yang datang saat penghujan, dan petaka dari limbah janjangan itu;
Oh Sang Hyang, bayi-bayi ispa, muda tua disentri, dan babi kami pun binasa oleh penyakit yang terbawa janjangan jahanam itu. Lantas apa? Penggerusan tetap melebar dan makin berani.
“Kalian minggir. Kami berjanji akan ada kopensasi dari pihak perusahaan. Kalian bisa berkebun di lahan plasma. Bibit palawija dan ternak sapi kami sediakan. Hak Guna Lahan, ambillah.”
📚 Artikel Terkait
Sekarang mereka lontarkan pertukaran. Bagaimana mungkin lebih dari seribu hektare tanah moyang kami yang diambil dan ditanami sawit itu dijadikan satu kesepakatan. Berapa tahun tanaman akan hidup jika bersaing dengan bibit sawit?
Sapi? Sungguh tak masuk akal yang mereka berikan itu dengan makanan tersedia tak lebih dari sepah dan duri.
“Leluhur kami tanamkan kebajikan antar alam dan sesama insan. Kumohon stop sampai di sini. Kalian telah memiliki luas lahan produktif. Biarkan kami hidup dalam budaya dan corak adat” kataku merendah.
Tiba-tiba terdengar sirine. Tiga mobil barakuda tampak terseok-seok menapaki jalan hauling pada sisi kanan pihak perusahaan. Tak lama turunlah kisaran 10 anggota berseragam biru gelap dengan tentengan senjata laras panjangnya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





