Dengarkan Artikel
Kuakui, kisaran 30 orang yang mengenakan seragam biru itu sebagian besarnya adalah orang berpendidikan. Semua sesuai jalur dengan otoritas yang sah. Otonomi daerah tak akan berpihak pada kami yang hanya mengais hidup dari ramahnya hutan. Dua hari ini para pakar geologi itu sudah tancapkan taring dan cakarnya di tanah leluhurku.
“Hidup mati kami ada di segenggam tanah ini. Sudah jelas itu jawaban. Tiga tahun lalu pernah kukoarkan ini di kantor Bupati. Kami dapat respon baik, tertulis dalam salinan kertas ini!” kataku memperlihatkan sebuah lembaran.
Robi yang bekerja sebagai Askep Manager melipat kedua lengannya sambil menggeleng.
“Itu kopian SK luas lahan yang ditanda tangani Plt. Bupati. Kini telah berganti dengan Bupati baru. Dari pemetaan awal memang luas lahan PT SCM hanya sekitar 420.000 hektare. Setelah dilakukan pengulangan ditemukan luas lahan pemerintah lagi sebanyak 8.000 hektare.
Bukankah telah kalian terima sendiri salinannya Minggu lalu?”
Dehen Djata maju dengan mengencangkan ikat kepala merah. Tangan kanannya lalu beringsut turun menyamping. Sebuah mandau berhulu tunggur dari akar ulin siap ia cabut. Ia merapatkan diri denganku.
📚 Artikel Terkait
“Tak guna semua, Narang. Musyawarah hanya untuk manusia yang ada nurani, sedangkan mereka telah buta oleh benda.”
Lembayung kelabu merintihkan gerimis kepada kami. Angin perlawanan menepuki pipi juga telinga. Dari rupa buruan yang kupandang, logikaku berontak untuk putuskan perang.
Dehen Djata membaca mimikku lalu menyeringai seperti tak setuju.
“Buka isi kepalamu, Narang. Maling-maling itu piawai berkelebat dalam hukum. Putuskan langsung atau bukan hanya patok itu yang tumbang. Akh!! Sudahlah! Biar kupenggal satu untuk peringatan dan tebus dosa!”
Aku berteriak memberhentikan langkah Dehen yang maju dengan mata nyalang. Aku masih menghormati arti manusia dalam petuah tetua adat. Meski banyak kaumku menganggapku lemah. Aku tetap hargai warisan itu. Kecuali satu hal, jika ujung jari excavator itu mulai sentuh patok makam adat! Sungguh kucencang mereka tanpa sisa.
Sorak sorai lalu pecah dari kedua kubu manakala aku menangkap dan menahan perut Dehen Djata.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





