Dengarkan Artikel
***
Satu kesempatan dengan dilanda penasaran, Dila memberanikan diri membuka jendela kamar.
Brusss!!!! wajahnya yang putih bulat itu segera dihantam air biru tua bercampur hujan. Kilatan petir memadu dengan gemuruh ombak. Kengerian dalam gulita malam. Tak ada ujung, mungkin sekarang kapal ini sedang melewati badai di tengah samudera. Dengan bergidik kuyu ia tutup pintu kembali.
“Aku takut, Zulaikha? Di luar mencekam sekali.”
Zulaikha yang sedang persiapan dandan di depan cermin dan membumbui badannya dengan parfum menjawab dalam alunan menenangkan.
“Kapal ini sudah puluhan kali berhadapan dengan cuaca begini Dila. Tak perlu cemas dan segeralah berias.”
Dila meloncat dari kasurnya dan segera memeluk Zulaikha dari belakang.
📚 Artikel Terkait
“Kamu ini sudah kuanggap kakak, Zulaikha. Terima kasih selalu memberikan ketenangan untukku.”
Zulaikha mengayunkan pundaknya ke kiri dan ke kanan. Rasa kasih tercipta hangat antar keduanya.
“Tok!!Tok!!Tok!! Misi…” suara pria dari luar.
Keduanya kaget. Berjingkat lalu mulai berpusing dengan apa yang hendak dilakukan.
“Aduh kacau Dila, mereka datang. Harus bagaimana ini??”
“Katanya jam 10. Ini baru jam 9 malam. Duh lelaki sialan!!” geram Dila bercampur sewot.
Tanpa memikirkan ganti baju dan sekalian saja lebih terbuka, Dila menyongsong pintu atas persetujuan Zulaikha.
Pintu kamar berderit. Dua orang pria masuk. Cukup tua, satu pria menyongsong dengan senyum birahi dan mata menjilat.
Dila kerap tak menyukai ekspresi itu. Tapi keprofesionalannya menyemai ketidaksetujuan. Kesegaran atas semua kesenangan yang akan diraih itu telah membentuk candu nominal. Dila pun membalas senyum dan segera memegang lembut lengan seorang.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





