Dengarkan Artikel
***
Dalam kabin kapal kargo semua perempuan muda nan cantik itu berkumpul. Induk semang mereka sedang rapat dengan babon baru yang akan menjadi germo pengganti selama tinggal di Macau.
“Moga aja di sana aku dapet suami oppa-oppa” kata Dila mencoba mencairkan suasana.
“Hahaaaa!!!” sebagian tertawa.
“Di Cina nggak disebut oppa-oppa Dila? Di sana Koko. Kamu kira kita libur ke Korea?” timpal Mirna ledek.
Semua luruh dalam canda. Entahlah, perasaan damai justru muncul dari sini, pikir Zulaikha. Menyatu dalam profesi yang rendah ini malah memerdekakan dirinya.
Benarkah begitu? Ya untuk saat ini, batin Zulaikha mantap.
📚 Artikel Terkait
“Anak-anak cantik bunda, ngumpul sebentar yuk” pinta Bunda Sofia yang barusan keluar dari ruang pusat di lantai atas. Semua menurut teratur, duduk rapi sambil tampak yang lain mempertebal solekan.
“Bunda udah ngomong. Kalian produk ekspor. Tetap jaga diri dan jangan keluar kandang selama di sana ya.”
“Siapa yang jamin kita di sana, Bun?” tanya Dila antusias. Perempuan muda ini setengah buat Zulaikha iri. Selalu muncul pikiran positif meski dalam situasi dan status mereka sekarang.
“Seorang bos tambang batu bara. Beliau punya sampingan.”
“Penjualan manusia?” serobot Mirna.
Bunda Sofia tersenyum datar. Tapi senyuman itu bagi semua yang ada di situ diakui sebagai sebuah kemakluman.
“Ah sudahlah. Penting sekarang kalian harus menemui Bunda Ajeng. Beliau mau mengecek kesehatan. Jangan marah jika ada yang pulang.”
“Kalo ada yang pulang, itu pasti Anggi, Bun. Keteknya nggak pernah mempan dengan deodoran. Sepuh air raksa baru ilang tuh bau” canda Zulaikha.
“Wooess??..Pulih dari depresi kamu sekarang” jawil Anggi tertawa.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





