Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Di sebuah sel khusus di Kejaksaan Agung, tiga orang yang disebut-sebut sebagai otak megakorupsi terbesar abad ini, Yaya Kusmaya, Diva Siahaan, dan Berry Chalid, duduk bersila seperti hendak berzikir. Mereka pikirkan bukan taubat, melainkan strategi lolos dari jerat hukum.
Mereka baru saja ditangkap atas dugaan korupsi yang merugikan negara 968,5 triliun rupiah. Sebuah angka yang jika dirupiahkan ke dalam pecahan seribu rupiah, bisa membangun jembatan dari bumi ke bulan dan masih ada kembalian buat beli gorengan.
“Kita udah bayar miliaran bahkan triliunan ke semua lini!” Yaya menggebrak lantai. “Polisi, jaksa, hakim, auditor, media, influencer, tukang parkir, sampai tukang bakso depan kantor Jaksa dan KPK! Kok bisa bocor, sih?! Apa tukang bakso itu agen rahasia?! Ini jelas konspirasi tingkat super-ultra-mega-galak!”
Diva Siahaan, yang biasanya tenang, kini menggigit kukunya. “Harusnya kita aman, kan? Kita cuma menjalankan perintah atasan. Eh, kenapa kita yang dikorbankan? Di atas kita masih ada menteri, jenderal, ketum parpol, anggota dewan, bahkan mungkin tukang kebun istana!”
Berry Chalid mengangguk, matanya menyipit curiga. “Jangan-jangan ini akal-akalan mereka. Kita yang dijadikan tumbal buat menenangkan rakyat. Padahal, uangnya sudah dibagi-bagi, kan? Mana mungkin korupsi segede ini cuma melibatkan sembilan orang? Bahkan maling ayam aja kadang komplotannya lebih banyak!”
Mereka bertiga terdiam sejenak. Kemudian, dengan penuh kebijaksanaan ala mafia kelas wahid, mereka membuat keputusan bersejarah.
“Kita bocorin semuanya!” seru Yaya.
📚 Artikel Terkait
“Setuju! Kalau kita masuk, semua harus ikut! Kita bikin daftar nama! Dari atasan kita, sampai yang cicipin uangnya, termasuk penyanyi dangdut yang dikasih Alphard, artis TikTok yang dikasih endorsement, bahkan politisi yang tiba-tiba rajin umroh!”
Mereka bertiga mulai menulis daftar di tembok sel dengan pecahan batu.
- Menteri A – 50 triliun
- Jenderal B – 20 triliun
- Ketua Parpol C – 30 triliun
- Selebgram D – 5 Miliar + bonus konten ‘A Day in My Corrupt Life’
- Wartawan E – 10 Miliar + liburan ke Maladewa
- Tukang parkir F – 100 juta (karena dia tahu terlalu banyak)
Daftarnya makin panjang. Mereka tak sadar bahwa kamera pengawas menangkap semua gerak-gerik mereka.
Di ruangan monitor, seorang pejabat senior tersenyum miring. “Bagus, lanjutkan, bocorkan semuanya… Sampai nanti mereka sadar kalau mereka sedang main catur dengan orang yang mengendalikan papan permainan.”
Sementara itu, di sel lain, enam tersangka lainnya juga sedang membuat strategi masing-masing. Salah satunya mengusulkan agar mereka membuat film dokumenter berjudul “968,5 Triliun: The Untold Story”, dengan tujuan agar Netflix membeli hak siarnya.
Pintu sel tiba-tiba terbuka. Seorang sipir berbisik, “Pak, ada yang mau nego. Kalau bayarannya pas, bisa keluar malam ini.”
Mata mereka berbinar. Korupsi mungkin dosa besar, tapi di negeri ini, dosa lebih fleksibel ketimbang harga cabai di pasar.
Disclaimer; Ini hanya fiksi, maklum kang ngopi tak bisa ngopi siang hari.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






