Dengarkan Artikel
***
Kisaran tiga jam aku di ruangan itu. Aku merasa limbung dan sangat lemah. Keluar ruangan beberapa gumam-gumam kudengar. Tak begitu jelas. Keluarga? Ini rahasia kami. Apakah istriku yang beritahu mereka? Ah, sudahlah. Bangsal kurasakan berhenti. Sekitar 15 menit pandanganku mulai enakan. Benar saja, keluargaku berkumpul. Ibuku lalu menanyakan tentang sebuah kesadaran. Aku mengangguk. Mereka tersenyum bercampur menangis.
“Kita di ruang ICU, Syamsiar. Tadi kau kritis. Aku tak tahu harus bagaimana menyikapi ini” ungkap ibuku menangis bertambah isak. Ayah dan adik laki-lakiku pun tampak tersandar dengan pandangan kosong menghantam lantai.
“Aku baik-baik saja, sungguh” kataku penuh keyakinan, “ngomong-ngomong Zubaidah kemana?”
📚 Artikel Terkait
Tiba-tiba tanpa sebuah kode, ibuku langsung ambruk tak sadarkan diri. Ayah dan adikku segera mengangkat dan berteriak memanggil suster. Aku tercekat heran dalam kebingungan. Suster datang tergesa-gesa. Makin gelisah, kutanyakan Zubaidah kepadanya.
“Jatuh dari tangga rumah sakit!! Keguguran!! Kritis!!!” sentaku tak percaya. Aku memberontak ingin berjalan memastikan. Para suster kalut makin berdatangan. Ayah memeluk leherku. Mencoba berbicara lembut agar aku stabil.
Tiba-tiba nyeri menusuk kembali. Aku mengaduh dan dengan frustasi akhirnya aku mengemis agar bangsal ini bisa didorong dekat dengan ruangan Zubaidah.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





