POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Membandingkan Seseorang; Perlu Atau Tidak?

Reza FahleviOleh Reza Fahlevi
February 25, 2025
Tags: #Opini
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Reza Fahlevi

Tak ada yang lebih menyebalkan daripada mendengar sebuah perbandingan. Jangankan dari kata-kata orang lain, kita saja terkadang benci membandingkan diri sendiri dengan tujuan untuk mendapatkan motivasi. Lantas, apakah membandingkan itu perlu dilakukan? Atau sebaiknya jangan?

Kita pasti sering dengar bahwa setiap orang itu berbeda-beda; baik dari segi kebiasaan, kemampuan, pencapaian, sifat, pola pikir, cara bersikap, cara mengambil keputusan dan lainnya. Nah, di sini saya ingin mengaitkannya dengan perbandingan; antara menyikapi perbandingan atau saat mengutarakannya kepada kerabat dan orang-orang lain.

Perspektif dan cara bersikap memiliki peran yang cukup vital terhadap perbandingan. Misalnya, jika ada orang yang membanding-bandingkan pencapaian antara Anda dan teman sekantor, Anda punya pilihan apakah ingin mendengarkannya, mengabaikannya, berdebat atau mencoba mengambil hal positif dari perbandingan itu.

Jika Anda merasa diri butuh untuk dibanding-bandingkan, maka barangkali sudi mendengarkan setiap orang yang membanding-bandingkan Anda. Apabila Anda tidak mau ambil pusing, lantas hanya masa bodoh saja dan tidak peduli terhadap semua perbandingan yang diarahkan kepada Anda.

Jikalau merasa terusik karena merasa orang-orang terlalu suka ikut campur, mungkin Anda siap berdebat dan tetap mencoba mempertahankan diri demi martabat. Atau, barangkali Anda memang merasa terganggu dan tidak nyaman karena sering dibanding-bandingkan, tapi karena Anda percaya bahwa setiap hal punya sisi positifnya, maka tidak mengabaikan perbandingan itu seratus persen – Anda akan mencoba mencernanya baik-baik seraya menelaah apa yang bisa diambil sebagai contoh atau pelajaran.

Lantas, pilihan mana yang harus diambil ketika ada orang yang membanding-bandingkan kita? Jujur saja, semua kembali kepada diri sendiri. Saya tidak dapat mengatakan bahwa orang-orang yang masa bodoh terhadap perbandingan itu adalah keputusan yang salah – atau, mereka yang selalu mencoba mengambil pelajaran dari setiap perbandingan itu merupakan keputusan yang bijak.

Menurut saya, ada kalanya kita harus mengambil keputusan tegas jika memang perlu. Dengan kata lain, Andalah yang berhak memutuskan apakah harus mengabaikan orang yang membanding-bandingkan Anda dengan orang lain, atau ingin mencari sisi positifnya.

Inti yang ingin saya sampaikan adalah; jika Anda merupakan sosok yang dibanding-bandingkan, maka semua perkara kembali lagi pada diri Anda. Anda ingin mendengarkannya saja? Silahkan. Anda ingin mengabaikannya? Ya, silahkan. Atau anda ingin berdebat? Tidak masalah. Anda tahu bahwa dibanding-bandingkan itu punya sisi positifnya dan mungkin dapat mengubah diri anda menjadi lebih baik, maka silahkan diambil pelajarannya.

Diri Anda itu, hanya Anda seorang yang merasakannya. Seberapa siap Anda mendengar orang membanding-bandingkan Anda, hanya Anda yang paham. Jadi, tidak masalah Anda ingin bersikap seperti apa. Sejauh cara bersikap anda itu tidak merusak ketenangan anda, maka lakukan saja apa yang anda inginkan.

Kenapa? Sebab orang yang membandingkan Anda belum tentu paham terhadap apa yang sedang Anda rasakan dan apa yang baru saja Anda alami. Kebanyakan, mereka terlalu mudah menyatakan sesuatu di saat-saat yang tidak seharusnya diungkapkan. Maka dari itu, hal pertama yang harus Anda pertimbangkan adalah diri Anda sendiri. Semua agar keseimbangan Anda dalam menjalani hidup tetap terjaga.

Di sisi lain, inti kedua yang ingin saya tekankan adalah; bagi Anda, sosok yang membanding-bandingkan orang lain, memang itu hak Anda untuk menyampaikan sesuatu sebab barangkali Anda mengira perkataan Anda dapat mengubah seseorang menjadi lebih baik.

Akan tetapi, Anda sama sekali tidak berhak untuk memaksa seseorang mengikuti apa yang Anda utarakan kepadanya. Jika orang yang Anda bandingkan itu ternyata terusik dan tidak terima, itu hak dia dan tidak boleh terus mengarahkannya agar seolah-olah perkataan Anda itu absolut benar.

📚 Artikel Terkait

Menggali Makna UFFIN Dalam Al-Quran

Sukses Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, Mati Masuk Surga Dalam Perspektif Spiritual

Puisi Nesa Arya

Inspirasi yang Menarik Dari Seorang Penulis

“Kamu kalau dibilang malah membangkang”, itu adalah ungkapan yang tidak seharusnya Anda ucapkan. Ingat bahwa ketika Anda membandingkan seseorang dengan tujuan dia bisa menjadi lebih baik, ketahuilah bahwa sebenarnya Anda tidak merasakan apa yang sedang ia rasakan – Anda juga tidak tahu apa yang baru saja dia alami – Anda juga tidak tahu kalau sebenarnya dia punya caranya sendiri untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik. Jadi, jangan marah jika orang yang anda bandingkan itu malah mengabaikan atau berani berdebat dengan Anda. Itu semua punya alasan kenapa dia melakukannya.

Mudahnya seperti ini; jika Anda merasa diri berhak mengatakan apapun, maka orang lain juga berhak merespon Anda dengan berbagai sikap. Ini merupakan cara untuk tidak berlaku egois karena umumnya mereka yang suka membanding-bandingkan orang lain terlalu mengedepankan ego agar ucapan mereka didengar dan diterima.

Hal yang sama juga berlaku bagi Anda yang menjadi sosok pendengar perkara banding-membandingkan. Anda merasa diri berhak untuk bersikap apa saja ketika ada orang yang membandingkan Anda, bukan berarti Anda boleh menyalahkan semua perkataannya dengan sumpah serapah.

Perlu diingat bahwa setiap kata itu tidak seratus persen salah dan begitu pun sebaliknya. Lagipula, perkara salah dan benar itu terlalu luas dan setiap orang punya pandangan yang berbeda-beda. Agar tidak terjadi konflik, maka abaikan siapa yang salah dan siapa yang benar sebab itu bukan sesuatu yang mesti dibesar-besarkan.

Apa kesimpulannya? Kesimpulannya adalah setiap orang berhak mengatakan apapun yang dia mau – dan setiap pendengar punya hak untuk mengambil sikap sesuai apa yang dia butuhkan.

Jika kita sosok yang suka membanding-bandingkan orang tapi tidak siap menerima terhadap suatu keputusan dari seseorang itu, maka lebih baik diam saja. Sebaliknya, jika kita adalah pendengar dan benci ada orang lain yang ikut campur terhadap urusan kita, maka lebih baik jangan lagi berhubungan dengan siapa pun.

Kita tidak bisa mengendalikan orang. Pasti, ke mana pun kita pergi dan di mana pun kita berada, tetap ada orang yang ikut campur, salah satunya dengan cara membanding-bandingkan itu.

Kenapa harus ada orang yang membanding-bandingkan kita sementara mereka tidak mengerti apa yang sudah kita lakukan sejauh ini? Barangkali, kata-kata ini pernah terbesit di dalam benak kita. Tapi, tetap saja kita tidak bisa mengelak. Hidup bersosial memang seperti itu. Pasti ada saja sesuatu yang tidak kita inginkan tapi malah kita dapatkan meskipun sudah mewanti-wanti agar tidak terjadi.

Terkadang, ada hal dalam hidup ini yang memang di luar batas kendali. Kita tidak ingin ada orang yang membandingkan kita, tapi kenyataannya malah banyak orang yang melakukannya, bahkan sebagian besar dengan tanpa berdosa membandingkan sekaligus menjatuhkan harga diri kita di depan umum.

Meski begitu, kita tidak bisa mencegah agar hal itu tidak terjadi pada diri kita. Mau sebesar apapun usaha yang kita lakukan, tetap kita akan berada di posisi dibanding-bandingkan. Kenapa? Karena inilah kehidupan.

Barangkali, satu-satunya cara untuk mengatasi agar kita sadar bahwa dalam perjalanan hidup ini, akan ada fase di mana kita dibanding-bandingkan, caranya adalah dengan memikirkan diri sendiri dulu.

Pikirkan diri anda untuk memastikan agar keseimbangan kehidupan Anda tetap terjaga. Semua ini untuk menghadirkan rasa ketenangan di dalam jiwa. Mudahnya begini, jika anda benci dibanding-bandingkan, maka jangan bandingkan orang lain.

Lantas bagaimana jika tetap ada yang membandingkan Anda sedangkan anda sama sekali tidak suka? Ambil keputusan terbaik. Jika anda merasa orang yang membandingkan Anda itu terlalu berlebihan, maka responlah dengan sikap yang elegan namun sikap itu bisa menyindirnya dengan cara yang halus. Tapi, jika dia membandingkan anda dengan cara yang baik-baik, maka respon juga dengan cara yang baik.

Tidak perlu berapi-api jika kita dibanding-bandingkan. Berlagak saja dengan tenang dan hadapi semuanya dengan kepala dingin. Tunjukkan pada mereka bahwa kita punya cara yang elegan dalam mengatasi segala sesuatu yang berlawanan dengan keinginan.

“Memberi contoh yang baik pada seseorang tidak cukup hanya sekedar kata-kata. Lebih daripada itu, sikap dan tindakan kita adalah contoh yang paling nyata untuk mengarahkan seseorang kepada kebaikan atau keburukan.

Kata yang tidak selaras dengan perbuatan adalah kebohongan. Dan, perbuatan yang jarang diselipkan dengan kata-kata adalah cerminan diri yang mendeskripsikan siapa sebenarnya kita ini kepada orang lain.”

Di bagian paling akhir ini, saya ingin kita saling mengingat. Daripada membandingkan orang lain, lebih baik berkaca pada diri sendiri. Siapa kita – apa yang sudah kita lakukan selama hidup ini – itu lebih bijak ketimbang terlalu mudah ikut campur dan membandingkan-bandingkan orang lain.

Ingat pula bahwa kita bukan sosok yang sempurna – kita hanya sempurna dalam versi masing-masing. Dengan Kata lain, kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri kita, itulah kesempurnaan yang Allah titipkan pada kita. Jadi, jangan terlalu mudah membandingkan orang lain hanya karena kita merasa dia pasti bisa lebih baik jika saya mengatakan ini dan itu. Ketahuilah bahwa sebenarnya kita tak pernah tahu kehidupan seseorang kecuali hanya dirinya sendiri dan Allah Sang Maha Pencipta.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 141x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: #Opini
Reza Fahlevi

Reza Fahlevi

Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
MK Jadi Gladiator Demokrasi

MK Jadi Gladiator Demokrasi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00