Dengarkan Artikel
“Begini saja,” Nuraniku tiba-tiba buka suara. Jika sudah Nuraniku bicara, biasanya semua diam mendengarkan. Semua tahu bahwa Nuraniku adalah ruang tempat Maaf, Sabar, Ikhlas, Ego, dan Hasut meluapkan perseteruan.
“Biarkan Mela menenangkan diri di sini. Aku siapkan ruangku untuk perseteruan kalian, dan ingat, ini yang terakhir. Silakan manfaatkan aku yang ada dalam Nurani Mela. Sekali lagi, ini yang terakhir. Jujur, aku capek, lelah. Ruangku berantakan dan hampir hancur oleh perseteruan kalian.
Kalian tahu, bukan? Aku muak dan benci dengan kondisi ini. Aku hanya ingin kedamaian. Nyaman aku jika berada dalam jiwa yang damai,” ujar Nuraniku dengan penuh wibawa. Maaf, Sabar, dan Ikhlas terdiam. Mereka adalah tiga serangkai yang selama ini menjadi aset terbaik dalam ruang Nuraniku. Aku yang dikenal dengan karakter lembut dan selalu bijak, itu karena mereka bersemayam dalam ruang Nuraniku.
📚 Artikel Terkait
Aku agak terusik dengan kalimat-kalimat Nuraniku.
“Tunggu dulu,” aku membuka mata, menatap tajam ke arah Nuraniku, dan memperbaiki posisi duduk. Kini posisiku tidak lagi bersandar penuh ke sofa, tetapi duduk tegak.
“Sebaiknya bertanya padaku terlebih dahulu. Aku masih ragu jika ini adalah perseteruan yang terakhir. Kamu selalu menginginkan kedamaian dan semua harus berakhir dengan kemenangan Sabar, Ikhlas, dan Maaf, bukan? Tapi aku harus siapkan jiwaku. Sudah tiga bulan ini aku mencoba mengabaikan semuanya, tetapi jiwaku ternyata masih rapuh dan belum mampu.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





