POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

#KaburAjaDulu: Mimpi, Realita dan Pejabat yang Tutup Mata

RedaksiOleh Redaksi
February 21, 2025
#KaburAjaDulu: Mimpi, Realita dan Pejabat yang Tutup Mata
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dwi Sutarjantono

Belakangan ini, tagar #KaburAjaDulu ramai berseliweran di media sosial. Bagi sebagian orang, ini lebih dari sekadar candaan. Ia adalah bisikan hati, keluhan tertahan, dan mimpi untuk keluar dari “sumur kering” yang semakin lama terasa pengap.

Sebagian berandai-andai tentang negeri asing yang lebih tertata, udara lebih bersih, dan penguasa yang lebih berpihak kepada rakyat. Mereka membayangkan hidup di tempat di mana aturan ditegakkan tanpa pandang bulu dan harga kebutuhan pokok tidak seperti wahana rollercoaster yang naik turun sesuka hati.

Kita sering mendengar pepatah lama, “Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, lebih baik di negeri sendiri.” Namun, bagaimana jika yang terjadi adalah hujan petir kebijakan yang membuat rakyat terpaksa berteduh ke negeri asing?

Kita terbuai dengan kisah sukses ekspatriat, tetapi jarang mendengar kisah mereka yang terjebak dalam birokrasi yang dingin, tersisih dalam persaingan global, atau sekadar rindu makan pecel lele di pinggir jalan tanpa harus menjual ginjal.

Di luar negeri, hidup bukan sekadar menikmati keindahan kota yang tertata atau sistem transportasi yang nyaman. Ada realitas yang tidak tertangkap dalam lensa media sosial: rindu keluarga yang tak kunjung reda, sulitnya menemukan tempat ibadah yang nyaman jika agama kita minoritas, atau bahkan tekanan sosial karena dianggap ‘orang luar’ selamanya.

Saya pernah waktu di Paris, dan untuk sekadar mengurus kartu SIM saja harus menempuh perjalanan berkilo-kilometer. Di sini? Tukang pulsa di warung depan rumah bisa sekalian ganti casing HP. Di sini, lapar tinggal go-food merem banyak pilihan. Di sana? Keluar rumah saja bisa berjam-jam hanya untuk cari makanan (saya muslim) .

Jadi, apakah kita benar-benar ingin pindah karena mengejar mimpi, atau sebenarnya hanya ingin lari dari kenyataan?

📚 Artikel Terkait

Kita pun Bisa Mencegah Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Puisi-Puisi Aiyumi Thasa

Kulepas Asaku di Taman Seribu Lampu Cepu

Pemanfaatan Lahan Perkarangan Dalam Pemenuhan Kebutuhan Pangan Pondok Pesantren Hidayatullah Mentawai

Bagi kita sebagai individu, #KaburAjaDulu bisa jadi hanya bentuk pelarian sesaat dari penatnya hidup. Namun, bagi para pemimpin negeri, ini adalah sirine tanda bahaya yang seharusnya tak bisa diabaikan.

Jika rakyat mulai bercita-cita meninggalkan tanah air bukan karena ingin berkembang, tetapi karena sudah tak tahan, ada yang salah. Ini bukan sekadar tren media sosial yang bisa didiamkan seperti berita basi. Ini adalah gelombang kegelisahan yang jika terus dibiarkan, bisa berubah menjadi tsunami ketidakpercayaan. Ketika rakyat sudah bicara dengan tagar, artinya mereka merasa suaranya tak didengar.

Tapi sayangnya, sering kali para pejabat justru lebih sibuk menari di panggung politik, menutup mata terhadap keluhan yang datang. Seakan semua baik-baik saja, seakan negeri ini masih nyaman ditinggali tanpa ada suara putus asa di lini masa.

Jika para pemimpin lebih sibuk membangun citra daripada membangun kepercayaan, jangan salahkan rakyat jika mereka mencari tempat yang lebih bisa memberi harapan.

Di tengah semua kegelisahan ini, pertanyaannya bukan hanya apakah kita ingin pergi atau bertahan. Tapi lebih dalam lagi: Apakah kita hanya ingin menghindar, atau justru berkontribusi untuk memperbaiki keadaan?

Bagi yang ingin hijrah ke luar negeri demi masa depan yang lebih baik, silakan. Itu hak masing-masing individu. Tapi sebelum benar-benar berkemas, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar mencari peluang, atau sekadar kabur dari kenyataan?”

Bagi para pemimpin negeri, ini saatnya membuktikan bahwa tanah air ini masih layak diperjuangkan. Jika semakin banyak rakyat yang ingin pergi, jangan salahkan mereka karena kehilangan harapan. Salahkan diri sendiri karena gagal membuat mereka ingin bertahan.

Jadi, masih ingin #KaburAjaDulu, atau malah mau coba membuat negeri ini lebih baik? Eh tapii kalau mau kabur untuk healing ajak-ajak saya ya….

(Dwi Sutarjantono, penulis/Mind Programmer/Sekretaris Umum Satupena DKI Jakarta)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Hasto dan Opera Rompi Oranye

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00