Dengarkan Artikel
Gerimis masih mengganggu dengan sensasi nyaman sebagai godaan. Di sebuah sofa masih di ruang tamu, kami duduk dalam penghayatan. Sekarang Julak Ampoy hanya menimang mandaunya. Sementara tameng itu telah ia sandarkan pada pinggir sofa.
“Apakah hantu pria tanpa kepala itu berulah lagi?”
“Iya Julak.”
“Apakah dia yang menuntutmu ke ruangan ini?”
“Saya kira demikian. Cukup, Julak” sahutku dengan sedikit berani. “Kembalikan kepalanya. Kubur selayaknya agar dia tak mengganggu.”
Julak Ampoy terkekeh sambil menyalakan rokok kreteknya. Sekejab asap putih kebiruan sudah mengukung wajahnya.
“Setiap suku punya budaya kelam sendiri-sendiri” ujar Julak memulai dan kini mencabut mandau itu. Besi hitam dengan bagian ujung atas terlihat sekitar ada 6 lubang kecil. “Lubang kecil ini adalah jumlah jawara yang tewas karena pusaka ini. Kita punya tradisi lama yang ditinggalkan namun bisa bangkit kembali.”
“Ngayau??” jawabku sedikit ragu.
📚 Artikel Terkait
Julak meniup bilah mandaunya dengan asap rokok.
“Iya. Warisan budaya untuk sikap keberanian dan kehormatan atas penghinaan perlu kau ketahui dan kuasai. Sebab itulah kau di sini.”
“Tapi Julak, ini pembunuhan. Ini menyimpang!”
“Kau pikir jika aku yang kalah dalam pertarungan itu, mereka akan berlaku ramah terhadap jasadku???”
Aku diam. Ku yakin setelah ini beliau akan meneruskan sendiri.
“Si gajang laleng lipa atau tarung sarung, carok, dan tumbal proyek. Jepang punya sapuku! Apa itu bukan pembunuhan atau saling bunuh?” Julak Ampoy berdiri dan memasukkan mandau ke sarungnya. “Tapi sebagai manusia yang beradab tentu semua tak dikerjakan tanpa alasan.”
“Ini warisan tentang harga diri. Biarkan kepalanya di situ. Dia akan jadi penjaga rumah ini. Abaikan saja dan beranikan nyalimu. Itu pelajaran dalam darah sukumu di sini!” urai Julak Ampoy yang berlalu pergi.
Begitulah katanya. Beliau berjalan menata rak-rak seperti semula dan meletakkan mandau serta tameng sebagai penjaga. Sementara diriku yang beku harus menikmati ini sebagai pelajaran panjang. Tapi entah rasa apa, tubuhku seolah mendidih. Mataku nyalang.
Ku putuskan dengan keteguhan, darah sukuku tak hendak gentar barang selangkahpun dari ini. Sungguh! Mulai ini ku persiapkan malamku dengan keteguhan. Ini warisan yang melekat dalam nadiku.
***
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





