Dengarkan Artikel
Sekonyong-konyong seorang pria berlilit kain merah kuning masuk menenteng…?? Oh Tuhan hal gila apa lagi sekarang. Aku telan liur yang tersisa dari tumpahanku. Kepala pria berjaket dengan mata terbuka serta mulut mengganga itu ada di tangan pria berlilit kain. Pria itu menjambaknya dengan badan yang kemerahan bermandikan darah. Pria berlilit kain itu tampak merokok dan menatap tembok.
Shettttt!!!!!!!!! Aku terhenyak tanpa keseimbangan. Tubuh lunglaiku mendadak jatuh di kasur kamar. Aku kembali dalam tekanan yang begitu memusingkan. Lemas dan kuyu liur dari mulutku tetap tumpah tak karuan. Semua menyesak lalu berangsur surut dengan tekanan mata yang kian berat.
“Kau sudah baikan?” tanya Julak Ampoy. Udara dingin menyusup pori-poriku. Bau halimun juga terasa perdu. Gemericik terdengar di atap. Aku sadar ini hujan di pagi hari. Aku memundurkan badan; terantuk kepalaku oleh ranjang. Oh sadarlah aku sekarang bahwa aku kembali dalam tidur yang cukup tak terurus.
“Minumlah. Hangatkan badanmu dengan ini” kata Julak Ampoy menyuguhkan secangkir kopi.
Aku bangun dan menyandarkan diri. Aku masih ingat pasti kejadian janggal malam tadi. Ku atur napas dalam-dalam. Ku reguk satu teguk kopi dalam cangkir untuk menikmati cafeinnya. Ku rasa itu membantu meningkatkan adrenalineku. Dilanda penasaran hebat, aku beranjak dan berdiri meski setengah pusing. Ayolah kopi! Keluarkan sensasi itu. Aku stabil! Aku raih nikmat ini lalu mulai berjalan keluar tanpa hiraukan Julak Ampoy.
📚 Artikel Terkait
“Hei kau mau ke mana???”
Aku tak menggubris dan berjalan cepat menuju ruang tamu. Julak Ampoy memburuku. Tapi aku telah berdiri di depan rak kaset dvd sesuai kejadian malam tadi. Aku maju.
Shett!!! Tanganku gantian dicengkram Julak Ampoy. Aku lepaskan dengan perasaan sama tak pedulinya dengan dirinya terhadapku malam tadi. Aku angkat rak kaset yang tak seberapa berat itu. Aku geser beberapa speaker. Ku amati Julak Ampoy diam seolah membiarkan. Padahal dalam benakku tahu bahwa jika dia mau, bisa saja dia dengan tubuh kuatnya menjaga dan menarikku. Semua telah berpindah dengan sedikit terhambur. Sekarang hanya mandau dan tamengnya yang bersandar di tembok. Aku segera ambil mandau dan tamengnya. Dugaanku tepat; dibalik tameng yang mirip trapesium itu, di tembok terdapat guratan segi empat bekas sambungan papan yang disamarkan cat.
Aku membalik badan dan berjalan menuju Julak Ampoy. Ku serahkan sebuah mandau dan tamengnya yang cukup berat itu.
“Jelaskan kepada saya, Julak?” tanyaku tajam menatap wajahnya yang ringan ramah tanpa bentuk sebuah rasa keterkejutan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





