Dengarkan Artikel
Bunyi ramai puluhan orang berpadu dengan gemericing lonceng datang dari arah kanan. Berikat tali merah kuning pada bagian dahi dan menyilang ke tubuh, mereka setengah tak berbaju sambil mengacungkan mandau dan hentakkan tombak.
Sementara itu tak kalah bersorak penuh tantangan puluhan orang juga datang dari arah kiri. Mereka ini umumnya mengenakan jaket hitam dan beberapa berpeci sambil berjalan beringas memutarkan celurit.
Dua kubu berlari saling maju. Brakkkk!!!!! Tumpah ruah jadi satu!!! Prang!!!!Prang!!!!!Prang!!!! Desingan besi beradu gila. Saling timpas saling sabet!!!!! Aku mundur hendak berlari tapi bodoh kembali menyadarkanku bahwa tubuh ini hanya bisa pasrah tanpa gerakan. Cepat dan mengerikan korban mulai berjatuhan. Robek usus terburai, tangan putus, kepala belah, mata jebol terhujam tombak, dan di antaranya penggal kepala masuk bejana. Darah banjir di jalan, meluber kemana-mana bagai tumpahan minyak; setengah di antaranya darah membuncah bercampur jeroan manusia mengarsir daun dan bunga-bunga taman dengan warna merah.
Tuhan hentikan kegilaan ini!!!!! Hentikan tolonggg!!!!! pekikku dalam ketiadaan.
Tak masuk perhitungan, tiba-tiba sebuah senja merah muncul menabrak silau. Dengan ruang dan waktu yang aneh aku berpusing dan kini di hadapanku hanya tersisa dua orang. Keduanya berdiri, napasnya tersengal kepayahan. Satu orang berlilit kain merah kuning dan kalung dari akar berpadu tulang tampak merayapkan tangan kiri meraih bungkusan merah yang menggantung di pinggang.
📚 Artikel Terkait
Bungkusan ia buka; sebuah daun hijau dan tampak beras kuning coba ia satukan. Mulutnya merapal sebuah bacaan yang ku kira pasti mantra. Di lain pihak, sosok berjaket hitam dengan peci tak kalah berceracau sambil jemarinya memulas sebuah batang kecil misterius yang terikat pada gagang celuritnya.
Kuluk!!!!!kuluk!!!kuluk!!!!
Bunyi kembali menyeruak dari mulut pria berlilit kain. Dia maju dan melempar buntalan daun dan beras kuning ke arah pria berjaket. Sekejap api aneh muncul. Pria berjaket bergumul api tapi tanpa teriakan. Dari balutan api yang berkobar mandau menyilang dan menebas bagai puma terkam menjangan. Pria berjaket berputar seperti tarian sufi. Mendadak angin kencang berembus memeluk pria dalam kobaran. Api kian besar tapi terasa tipis; dan sungguh ajaib, pria berjaket itu keluar dari kobaran dengan tanpa adanya luka bakaran.
Aku hanya menyaksikan dalam kondisi yang kian sakau. Liurku meleleh tak terkontrol. Lalu sekejab warna merah muncul kembali. Mendekat dan menabrakku lagi. Aku mengangkat dagu. Saat kembali pada pertarungan, semua telah berbeda. Aku bukan lagi di halaman. Sungguh tak masuk akal, kini aku berdiri di ruang tamu, tepat memandang tembok yang ku yakin posisi itu kini ditempati rak kaset dvd.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





