Dengarkan Artikel
Oleh Don Zakiyamani
Saat meeting dengan para junior dan senior, ada satu pertanyaan menarik soal dunia menulis. “Tidak ada ide”. Sama seperti ketika mahasiswa kesulitan mencari judul skripsi. Dan tidak ada ide atau ide masih setengah atau seperempat adalah hal yang sering ditemui penulis.
Pakar sering memberi saran agar ide ditemukan, lalukan beberapa hal. Misalnya, membaca, menonton film, mendengarkan musik, jalan-jalan, dan aktifitas lainnya. Lalu jika semua hal tersebut sudah dilakukan namun ide tidak ditemukan, apa yang harus dilakukan?.
Bagaimana jika tulis saja sulitnya menemukan ide. Bukankah itu juga ide yang menarik. Jika dalam perspektif dunia pendidikan, persoalan ide bermula ketika kita jarang diajak ke ranah berpikir. Kita diharuskan seragam dalam segala hal.
Saat kuliah, Dekan dan pembantu dekan kerap protes ketika saya menggunakan sandal dalam acara-acara formal. Bagi mereka itu tidak sopan. Bagi saya, selama tidak melanggar syariat, semua halal.
Karena halal, tidak harus mengikuti hasrat mereka. “Ke rumah Tuhan saja pakai sandal, masa sih ke ruangan koruptor kampus harus rapi”, ujar jiwa muda itu.
Sikap itu tetap saya lanjutkan. Sikap itu melahirkan banyak ide. Sikap merdeka tanpa melanggar hak orang lain. Menemukan ide mudah selama kita memiliki jiwa merdeka. Termasuk tidak dijajah pikiran sendiri. Tidak dijajah keinginan sendiri apalagi orang lain.
Jika gibah itu mudah, harusnya menulis itu lebih mudah. Tidak ada bantahan. Bukankah melalui tulisan kita dapat menggibah peristiwa, orang lain, termasuk menggibah diri sendiri. Jadi, tidak ada ide adalah ide juga.
📚 Artikel Terkait
Ya benar, kita ingin tulisan berkualitas. Ibarat makanan, selain enak harus bergizi. Itulah yang dilakukan ibunda kita. Dengan bahan seadanya, masakan lezat tersaji dan lahap kita santap. Demikian juga dengan menulis.
Tak perlu khawatir tulisan kita tak lezat. Seperti masakan, setidaknya nikmati sendiri. Soal orang lain mengatakan tulisan kita buruk, tidak runut, tidak elok, dan kritikan lainnya, senyumin saja. Toh mereka yang kritik telah membaca.
Saat Anda tidak bercelana dalam, apakah ada yang kritik Anda?, jelas tidak. Saat Anda ngomong di kamar mandi, apakah ada yang bantah. Nah, tulisan kita juga ibarat baju luar, bila tidak cocok menurut orang pastilah dikritik. Apa perlu malu? tidak.
Menulis juga ibarat membuat kopi. Ada puluhan pengunjung, si pembuat kopi menyajikan kopi terbaik, tetap saja bagi beberapa orang kopi tidak pas. Bila semua pengunjung sepakat mengatakan pas, kita telah naik level menjadi pakar.
Penulis yang tulisannya seperti narkoba, gadis cantik, pria sholeh, uang, kopi, bahkan ibarat kitab suci, jelas melalui proses panjang. Sering diremehkan, bahkan oleh dirinya sendiri.
Namun, ketika ia telah merdeka, ia mulai bangkit perlahan. Jika tulisan ini menggurui, itu karena saya tidak ada ide. Namun, daripada otak diperkosa keengganan menulis, satu tulisan singkat ini cukup menghibur.
Kapan-kapan kita tanya Socrates mengapa memilih racun daripada menjilat penguasa. Kita tanya pula Rene, kenapa ia eksis hanya saat mikir. Di lain waktu kita tanya Nietzsche mengapa ia menuduh para pendeta sebagai pembunuh Tuhan. Atau kita bisa tanyakan pada Prabowo, mengapa masih di bawah ketiak Jokowi. Semua pertanyaan itu menarik dibahas.
Tapi tidak sekarang. Kapan? saat ide menghampiri. Saat ini, ide tidak memakai GPS. Entah di mana lokasi terakhirnya. Bisa jadi ia tidak kemana-mana, kita saja yang berburuk sangka pada ide.
Bila tidak menemukan ide, bagaimana kalau kita ciptakan ide. Apakah mungkin? bagi Plato ide memang sudah ada. Bagi saya, ide bisa diciptakan. Apakah ide bisa diciptakan tanpa ide? atau jangan-jangan ide menciptakan ide adalah ide. Bagaimana menurut Anda?
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






