Dengarkan Artikel
Ya, akhirnya bang Mae pun bersedia melanjutkan diskusi. Tidak soal dosa Pemerintahan Aceh yang telah gagal menempatkan kepala Dinas, karena pendidikan diseret ke pusaran politik penguasa, juga bukan soal kasus wastefel yang belum klar dan belum habis menyasar semua pihak yang ikut terlibat.
Diskusi dengan Bang Mae kali ini tentang Majelis Pendidikan Aceh yang disingkat dan dikenal dengan sebutan MPA. Bang Mae tertarik, karena majelis yang satu ini semakin santer disorot, sejalan dengan kurangnya manfaat dari majelis yang satu ini. Untuk membuat Bang Mae ngecas, maka kepada Bang Mae ditanyakan tentang Majelis Pendidikan Daerah yang kini telah berubah menjadi MPA. Bang Mae, malah kelihatan langsung tekan gas dengan nada sinis pula.
Dengan sedikit nada tinggi Bang Mae berkata, ah itu masalah yang sudah basi dan tidak menarik dibicarakan lagi. Coba bayangkan Majelis yang diberikan nama indah Majelis Pendidikan Aceh itu ya, sebenarnya sebuah Majelis yang bagus. Majelis yang di dalamnya, berkumpul para pakar pendidikan yang berlatarbelakanhg pendidikan sangat mentereng. Ada bergelar master seperti, M.Pd, Doktor hingga Profesor. Kurang apa lagi? Tanya Bang Mae.
Ya, Benar juga ya. Dilihat dari sumber daya manusia yang ada di MPD adalah dari kalangan terpelajar dan berpendidikan tinggi serta punya pengalaman yang luar biasa. Tapi Anehnya, kata Bang Mae, lembaga ini terus menjadi bahan pembicaraan dan kritik masyarakat, karena MPA dinilai tidak berkonstribusi besar dalam menyelesaikan masalah pendidikan yang dihadapi Aceh selama ini. Lembaga ini hanya menjadi parasit saja. Tahu kan parasit?
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





