Dengarkan Artikel
Oleh Teuku Maulana Rahmatillah
Siang itu ayahku mengajak duduk di warung kopi Gerobak Arabika di seputaran Pango Banda Aceh. Kata Ayahku dia mau ngopi siang, sekaligus mau bertemu dengan temannya. Memang ayahku selalu bertemu dengan teman-temannya ketika berada di Banda Aceh seperti hari ini.
Sesampainya di Gerobak kopi, ternyata teman-teman ayahku telah menunggu. Terlihat ada dua orang laki-laki dan satu perempuan. Sepertinya yang duduk di hadapan ayahku dan kelihatan lebih tua itu merupakan suami dari ibu yang duduk di sebelahnya. Sementara yang satu lagi dugaanku adalah pemilik warung.
Ayahku langsung memesan espresso tanpa gula. Memang dalam beberapa tahun terakhir ayahku selalu mengonsumsi kopi tanpa gula. Katanya lebih berasa dan menjaga kadar gula tidak banyak menumpuk di tubuh. Sementara aku memesan teh manis. Terlihat ayahku begitu akrab berbicara dengan teman-temannya. Aku hanya menyimak saja, tidak sopan nyelutuk pembicaraan orang tua.
Lalu ayahku memperkenalkanku kepada teman-temannya. Aku menyebutkan nama dan saat ini sebagai mahasiswa fakultas Teknik di salah satu perguruan tinggi negeri jantung hatee rakyat Aceh. Setengah bangga gumanku dalam hati. Tapi bapak yang depan ayahku mulai bertanya seolah menginterogasiku, kayak polisi saja.
Bagaimana kuliah, harus rajin, kreatif dan mampu menulis untuk mencurahkan ide, gagasan dan pikiran kita agar dapat dibaca oleh orang lain. Sementara bapak yang duduk di sebelah kanan ayahku bicaranya seperti Rocky Gerung saja, menyimak bicaranya ada Yunani kuno, Aristoteles dan Nische. Bahan yang dibicarakan membingungkan. Bisa jadi aku yang belum paham dengan pembicaraannya. Sepertinya dia senang dengan filsafat yang sungguh membingungkan itu.
📚 Artikel Terkait
Lalu ayahku menyampaikan kepada teman-temannya dan menitipkan aku untuk dididik dan ditempa agar bisa menulis. Ternyata ayahku masih ingat dengan keinginanku beberapa bulan lewat kusampaikan saat duduk dengannya untuk bisa menulis.
Sebetulnya keinginan dapat menulis terinspirasi dari ayahku sendiri. Dia kalau ada waktu dan ide selalu dituliskan, demikian juga dia hobi sekali membaca. Membaca apa saja, sehingga lemari bukunya terlihat penuh dengan buku-buku.
Jauh beda denganku, Jangankan menulis, bukupun tak pernah beli. Aku tetap bersikap santun dan terus mendengar pembicaraan ayahku dengan teman-temannya. Sebentar kemudian ibu yang tadi juga sesekali ikut tertawa mendengar pembicaraan ayahku dengan teman-temannya, lalu beranjak dan pamit kembali ke toko yang tidak jauh dari warkop tempat kami ngopi dan diskusi ini.
Ternyata bapak di depan ayahku, namanya Tabrani Yunis dan di sebelah kanan ayahku namanya Fajar. Aku sempat senyum-senyum ketika ayahku meledek pak Tabrani di depannya. Dalam candaannya, Ayahku bercerita tentang seorang anak yang baru pindah sekolah, lalu di depan kelas dia memperkenalkan diri kepada teman-temannya, ”Tabrani “ katanya, sontak pak guru yang sudah tua dan mengalami gangguan pendengaran itu dengan membentak mengatakan“mengapa tak berani?”. Lalu si anak baru mendekati pak gurunya, dengan setengah berteriak “nama saya Tabraniiiiiiiii” katanya. “Ooooooo “jawab pak guru.
Kelihatannya ayah dengan teman-temannya begitu akrab. Dan sungguh menarik menyimak pembicaraan mereka. Mereka tidak ghibah, tidak fitnah dan tidak membicarakan keburukan orang lain, tapi mereka berdiskusi bertukar pikiran dan pengalaman. Sangat produktif dan bermanfaat menyimak semua yang mereka bicarakan.
Kali ini ayahku memberi pelajaran penting bagiku. Dia suka ngumpul dengan teman-temannya ternyata bukan hanya untuk ngopi semata, tetapi memperkuat silaturahmi dan berdiskusi secara produktif. Ternyata duduk di warkop tidak selalu berkonotasi negatif dan tidak produktif namun sebaliknya dapat memberikan inspiratif. Selamat ngopi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






