• Latest

Ayahku Dan Warkop

Februari 12, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ayahku Dan Warkop

Redaksiby Redaksi
Februari 13, 2025
Reading Time: 3 mins read
597
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Teuku Maulana Rahmatillah

Siang itu ayahku mengajak duduk di warung kopi Gerobak Arabika di seputaran Pango Banda Aceh. Kata Ayahku dia mau ngopi siang, sekaligus mau bertemu dengan temannya. Memang ayahku selalu bertemu dengan teman-temannya ketika berada di Banda Aceh seperti hari ini. 

Sesampainya di Gerobak kopi, ternyata teman-teman ayahku telah menunggu. Terlihat ada dua orang laki-laki dan satu perempuan. Sepertinya yang  duduk di hadapan ayahku dan kelihatan lebih tua itu merupakan suami dari ibu yang duduk di sebelahnya. Sementara yang satu lagi dugaanku adalah pemilik warung. 

Ayahku langsung memesan espresso tanpa gula. Memang dalam beberapa tahun terakhir ayahku selalu mengonsumsi kopi tanpa gula. Katanya lebih berasa dan menjaga kadar gula tidak banyak menumpuk di tubuh. Sementara aku memesan teh manis. Terlihat ayahku begitu akrab berbicara dengan teman-temannya. Aku hanya menyimak saja, tidak sopan nyelutuk pembicaraan orang tua. 

Lalu ayahku memperkenalkanku kepada teman-temannya. Aku menyebutkan nama dan saat ini sebagai mahasiswa fakultas Teknik di salah satu perguruan tinggi negeri jantung hatee rakyat Aceh. Setengah  bangga gumanku dalam hati. Tapi bapak yang depan ayahku mulai bertanya seolah menginterogasiku, kayak polisi saja. 

Bagaimana kuliah, harus rajin, kreatif dan mampu menulis untuk mencurahkan ide, gagasan dan pikiran kita agar dapat dibaca oleh orang lain. Sementara bapak yang duduk di sebelah kanan ayahku bicaranya seperti Rocky Gerung  saja, menyimak bicaranya ada Yunani kuno, Aristoteles dan Nische. Bahan yang dibicarakan membingungkan. Bisa jadi aku yang belum paham dengan pembicaraannya. Sepertinya dia senang dengan filsafat yang sungguh membingungkan itu. 

Lalu ayahku menyampaikan kepada teman-temannya  dan menitipkan aku untuk dididik dan ditempa agar bisa menulis. Ternyata ayahku masih ingat dengan keinginanku beberapa bulan lewat kusampaikan saat duduk dengannya untuk bisa menulis. 

Sebetulnya keinginan dapat menulis terinspirasi dari ayahku sendiri. Dia kalau ada waktu dan ide selalu dituliskan, demikian juga dia hobi sekali membaca. Membaca apa saja, sehingga lemari bukunya terlihat penuh dengan buku-buku. 

Jauh beda denganku, Jangankan menulis, bukupun tak pernah beli. Aku tetap bersikap santun dan terus mendengar pembicaraan ayahku dengan teman-temannya. Sebentar kemudian ibu yang tadi juga sesekali ikut tertawa mendengar pembicaraan ayahku dengan teman-temannya, lalu  beranjak dan pamit kembali ke toko yang tidak jauh dari warkop tempat kami ngopi dan diskusi ini. 

Ternyata bapak di depan ayahku, namanya Tabrani Yunis dan di sebelah kanan ayahku namanya Fajar. Aku sempat senyum-senyum ketika ayahku meledek pak Tabrani di depannya. Dalam candaannya, Ayahku bercerita tentang seorang anak yang baru pindah sekolah, lalu di depan kelas dia memperkenalkan diri kepada teman-temannya, ”Tabrani “ katanya, sontak pak guru yang sudah tua dan mengalami gangguan pendengaran itu dengan membentak mengatakan“mengapa tak berani?”. Lalu si anak baru mendekati pak gurunya, dengan setengah berteriak “nama saya Tabraniiiiiiiii” katanya. “Ooooooo “jawab pak guru.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Kelihatannya ayah dengan teman-temannya begitu akrab. Dan sungguh menarik menyimak pembicaraan mereka. Mereka tidak ghibah, tidak fitnah dan tidak membicarakan keburukan orang lain, tapi mereka berdiskusi bertukar pikiran dan pengalaman. Sangat produktif dan bermanfaat menyimak semua yang mereka bicarakan. 

Kali ini ayahku memberi pelajaran penting bagiku. Dia suka ngumpul dengan teman-temannya ternyata bukan hanya untuk ngopi semata, tetapi memperkuat silaturahmi dan berdiskusi secara produktif. Ternyata duduk di warkop tidak selalu berkonotasi negatif dan tidak produktif namun sebaliknya dapat memberikan inspiratif. Selamat ngopi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Di Antara Puing-Puing Harapan

Di Antara Puing-Puing Harapan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com