• Latest

Dilihat Lalu Diraba

Februari 11, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dilihat Lalu Diraba

Don Zakiyamaniby Don Zakiyamani
Februari 21, 2025
Reading Time: 4 mins read

Ilustrasi

591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Don Zakiyamani

Malam minggu seperti biasa ngopi. Tak ramai meja kopi kami, namun cukup ramai warkop malam itu. Banyak perempuan cantik, meski tak secantik Bulan Sutena. Tak seseksi dia pula, namun cukup menambah meriahnya malam.

Live music menambah meriah suasana malam itu. Bank Indonesia sebagai sponsor memberi voucher 15 ribu perak bagi pengunjung. Sebagai responden tepatnya.

Mereka mengenalkan program CBP (Cinta, Bangga, Pahami) rupiah. Belakangan rupiah memang diguncang. Nilai tukarnya terus tergerus dengan mata uang Asing.

Kita diharapkan mencintai rupiah. Namun sudahkah prilaku itu dilakukan para elit. Apakah elit bangga dengan rupiah. Termasuk para pegawai bank itu sendiri.

Upaya BI memang patut diapresiasi, namun harus dimulai dari RI-1 dan pembantunya. Dalam sosialisasinya, BI juga memberi pemahaman beda uang asli dan palsu.

Kita cukup sering mendengar dan membaca tanda uang asli dan palsu. Namun dengan masih beredarnya uang palsu di tengah-tengah kita, artinya ada pembuat dan pemakai.

BI fokus pada pemakai, sama seperti pihak keamanan fokus pada pemakai narkoba. Sementara para pengedar, maupun pembuat narkoba menikmati kekayaan.

Sepertinya proses melihat dan meraba BI, terhadap uang palsu kurang maksimal. Dugaan saya, ada mafia uang palsu. Melibatkan orang-orang penting di negeri ini (Indonesia). Bahkan elit internasional.

Namun kita tak perlu berlama-lama di ranah konspirasi. Teori-teori konspirasi memang asik dibicarakan, sampai kita lupa bahwa itu ciptaan penguasa.

Sangat sering kita dengar dan baca teori konspirasi yang didesain penguasa. Disebarkan di media sosial dan dikonsumsi oleh kita yang malas melihat dan meraba persoalan dengan jernih.

Jika melihat sekalipun, kita hanya melihat dengan mata zahir, bukan mata dahir. Mata analisis kita buta. Kita tak lebih baik dari robot yang dimasukan data. Tanpa olah data lalu otomatis bodoh.

Bila mesin dimasukan data pintar, kita kerap dimasukan data kebodohan. Outputnya dapat kita rasakan hari ini.

Sering kita dapati argumen bodoh di sekitar kita. Selain cacat logika akut. Misalnya “bila bukan si M gubernur, Aceh akan begitu”, cacat logika ini pun dilahap habis oleh mereka yang cacat logika.

Cacat logika lainnya yang dianggap benar, “semua anggota dewan korupsi”. Meski kebanyakan anggota parlemen korupsi, bukan berarti semuanya korupsi.

Cacat logika ini masih terus terjadi. Dan beberapa cacat logika lain yang terpaksa kita diamkan saja demi menjaga pertemanan, bahkan persaudaraan.

Karena debat dengan si pandir adalah pandir itu sendiri. Karenanya perlu kiranya melihat setiap persoalan dengan jernih pikiran.

Jangan pakai kacamata frame negatif dan positif. Hal ini berguna dalam penjernihan pikiran. Tidak semua prajurit akan menjadi jenderal, tidak semua telur ayam akan menetas menjadi anak ayam.

Dahulu, beberapa orang di Aceh punya cacat logika soal merdeka. Karena dibakar emosional, ramai-ramai rakyat mendukung. Logika yang digunakan lebih mirip kampanye.

Jika merdeka kita bisa digaji pemerintah. Janji manusia di tengah lautan pada Tuhannya pun demikian.”Jika selamat sampai di darat akan begini dan begitu”.

Setelah batal merdeka, namun diberi kekuasaan, punya otoritas mensejahterakan rakyat. Nyatanya, dongeng Aceh lebih baik memang, mampu menidurkan para aktivis.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Meski tidak semua. Kini pembicaraan siapa dapat apa lebih nyaring keluar dari mulut aktivis. Jangankan diskusi dan eksekusi ide segar, bahkan ide segar yang ada pun kini membusuk.

Melihat realitas itu, kita dapat meraba pikiran-pikiran tidak perawan. Hasil prostitusi aktivis di ranah politik. Mereka pencuci piring pesta demokrasi. Beberapa orang penerima tamu, sebahagian lagi pemasang tenda, dan selebihnya makan nasi gratis.

Selain melihat dan meraba, kita harus menerawang uang palsu. Dengan demikian kita tidak tertipu pidato agitasi palsu. Mereka yang mengatakan bersama rakyat harus dilihat dan diraba, lalu diterawang, apakah nilai mereka selevel rupiah di dunia internasional atau bahkan palsu.

ADVERTISEMENT

Uang dan manusia memiliki nilai. Boleh jadi profesi Anda rendah di mata manusia, namun itu asli. Sementara itu, ada orang yang dianggap hebat ditambah keberlimpahan harta, tapi itu seperti uang palsu. Tidak bernilai.

Dan sore ini, cukup 5 ribu rupiah, namun asli ketimbang 100 ribu tapi palsu. Bisa ngopi. Begitulah manusia, ada yang kelihatan nilainya ratusan milyar, namun palsu. Ada pula yang kelihatan beberapa rupiah, namun asli dan bisa buat ngopi.

Sudahkah Anda melihat dan meraba teman-teman Anda? bila sudah, jangan lupa terawang. Bisa jadi dia palsu.

Bila belum, lihat dan raba mereka. Semoga mereka asli dan bernilai. Lihatlah dengan mata dahir bukan zahir, rabalah saat susah bukan saat senang, terawanglah dengan pikiran jernih, bukan dengan frame negatif atau positif. Selamat ngopi dan jangan lupa bersyukur.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Kita Butuh Sekolah Literat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com