Dengarkan Artikel
Oleh : Don Zakiyamani
Malam minggu seperti biasa ngopi. Tak ramai meja kopi kami, namun cukup ramai warkop malam itu. Banyak perempuan cantik, meski tak secantik Bulan Sutena. Tak seseksi dia pula, namun cukup menambah meriahnya malam.
Live music menambah meriah suasana malam itu. Bank Indonesia sebagai sponsor memberi voucher 15 ribu perak bagi pengunjung. Sebagai responden tepatnya.
Mereka mengenalkan program CBP (Cinta, Bangga, Pahami) rupiah. Belakangan rupiah memang diguncang. Nilai tukarnya terus tergerus dengan mata uang Asing.
Kita diharapkan mencintai rupiah. Namun sudahkah prilaku itu dilakukan para elit. Apakah elit bangga dengan rupiah. Termasuk para pegawai bank itu sendiri.
Upaya BI memang patut diapresiasi, namun harus dimulai dari RI-1 dan pembantunya. Dalam sosialisasinya, BI juga memberi pemahaman beda uang asli dan palsu.
Kita cukup sering mendengar dan membaca tanda uang asli dan palsu. Namun dengan masih beredarnya uang palsu di tengah-tengah kita, artinya ada pembuat dan pemakai.
BI fokus pada pemakai, sama seperti pihak keamanan fokus pada pemakai narkoba. Sementara para pengedar, maupun pembuat narkoba menikmati kekayaan.
Sepertinya proses melihat dan meraba BI, terhadap uang palsu kurang maksimal. Dugaan saya, ada mafia uang palsu. Melibatkan orang-orang penting di negeri ini (Indonesia). Bahkan elit internasional.
Namun kita tak perlu berlama-lama di ranah konspirasi. Teori-teori konspirasi memang asik dibicarakan, sampai kita lupa bahwa itu ciptaan penguasa.
Sangat sering kita dengar dan baca teori konspirasi yang didesain penguasa. Disebarkan di media sosial dan dikonsumsi oleh kita yang malas melihat dan meraba persoalan dengan jernih.
Jika melihat sekalipun, kita hanya melihat dengan mata zahir, bukan mata dahir. Mata analisis kita buta. Kita tak lebih baik dari robot yang dimasukan data. Tanpa olah data lalu otomatis bodoh.
Bila mesin dimasukan data pintar, kita kerap dimasukan data kebodohan. Outputnya dapat kita rasakan hari ini.
📚 Artikel Terkait
Sering kita dapati argumen bodoh di sekitar kita. Selain cacat logika akut. Misalnya “bila bukan si M gubernur, Aceh akan begitu”, cacat logika ini pun dilahap habis oleh mereka yang cacat logika.
Cacat logika lainnya yang dianggap benar, “semua anggota dewan korupsi”. Meski kebanyakan anggota parlemen korupsi, bukan berarti semuanya korupsi.
Cacat logika ini masih terus terjadi. Dan beberapa cacat logika lain yang terpaksa kita diamkan saja demi menjaga pertemanan, bahkan persaudaraan.
Karena debat dengan si pandir adalah pandir itu sendiri. Karenanya perlu kiranya melihat setiap persoalan dengan jernih pikiran.
Jangan pakai kacamata frame negatif dan positif. Hal ini berguna dalam penjernihan pikiran. Tidak semua prajurit akan menjadi jenderal, tidak semua telur ayam akan menetas menjadi anak ayam.
Dahulu, beberapa orang di Aceh punya cacat logika soal merdeka. Karena dibakar emosional, ramai-ramai rakyat mendukung. Logika yang digunakan lebih mirip kampanye.
Jika merdeka kita bisa digaji pemerintah. Janji manusia di tengah lautan pada Tuhannya pun demikian.”Jika selamat sampai di darat akan begini dan begitu”.
Setelah batal merdeka, namun diberi kekuasaan, punya otoritas mensejahterakan rakyat. Nyatanya, dongeng Aceh lebih baik memang, mampu menidurkan para aktivis.
Meski tidak semua. Kini pembicaraan siapa dapat apa lebih nyaring keluar dari mulut aktivis. Jangankan diskusi dan eksekusi ide segar, bahkan ide segar yang ada pun kini membusuk.
Melihat realitas itu, kita dapat meraba pikiran-pikiran tidak perawan. Hasil prostitusi aktivis di ranah politik. Mereka pencuci piring pesta demokrasi. Beberapa orang penerima tamu, sebahagian lagi pemasang tenda, dan selebihnya makan nasi gratis.
Selain melihat dan meraba, kita harus menerawang uang palsu. Dengan demikian kita tidak tertipu pidato agitasi palsu. Mereka yang mengatakan bersama rakyat harus dilihat dan diraba, lalu diterawang, apakah nilai mereka selevel rupiah di dunia internasional atau bahkan palsu.
Uang dan manusia memiliki nilai. Boleh jadi profesi Anda rendah di mata manusia, namun itu asli. Sementara itu, ada orang yang dianggap hebat ditambah keberlimpahan harta, tapi itu seperti uang palsu. Tidak bernilai.
Dan sore ini, cukup 5 ribu rupiah, namun asli ketimbang 100 ribu tapi palsu. Bisa ngopi. Begitulah manusia, ada yang kelihatan nilainya ratusan milyar, namun palsu. Ada pula yang kelihatan beberapa rupiah, namun asli dan bisa buat ngopi.
Sudahkah Anda melihat dan meraba teman-teman Anda? bila sudah, jangan lupa terawang. Bisa jadi dia palsu.
Bila belum, lihat dan raba mereka. Semoga mereka asli dan bernilai. Lihatlah dengan mata dahir bukan zahir, rabalah saat susah bukan saat senang, terawanglah dengan pikiran jernih, bukan dengan frame negatif atau positif. Selamat ngopi dan jangan lupa bersyukur.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






