Dengarkan Artikel
Oleh: Dr. Nurkhalis Muchtar,Lc, M.A
Kebudayaan adalah sebuah proses cipta karya manusia yang berawal dari cara merasa dan cara berpikir, di mana intinya demi mewujudkan keamanan dan kenyamanan dalam hidup di dunia. Jadi kebudayaan disimpulkan dengan cara berfikir dan cara merasa yang menyatakan diri dalam seluruh kehidupan sekelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial.
Kebudayaan atau dikenal dengan culture merupakan kebiasaan yang dibiasakan terus-menerus oleh manusia, yang bisa saja memiliki dimensi baik dan buruk.
Islam sebagai agama yang universal tentu mencakup norma-norma dan asas yang lengkap dalam kehidupan manusia. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari persoalan sederhana hingga persoalan yang dianggap besar dan rumit. Tidak ada persoalan yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupan di dunia ini, melainkan Islam telah memberikan aspek kepastian hukum antara kebolehan dan ketidakbolehan. Islam memandang kebudayaan adalah satu aspek dalam agama Islam.
Kebudayaan menurut Islam adalah hasil karya manusia yang berawal dari sudut pandang manusia yang tidak bisa terlepas dari nilai-nilai islami. Berbeda dengan paradigma sekuler, yang berusaha melepaskan diri dari ikatan agama. Dalam Islam kebudayaan mengandung tiga aspek utama; Allah Swt, manusia dan alam. Dengan bahasa lainnya, makhluk yang berbudaya ialah ketika mampu mewujudkan tiga hubungan utama yaitu hubungan vertikal (hablumminallah), dan horisontal (hablumminannas).
Semakin tajam aspek tersebut diasah, maka manusia semakin berbudaya dan beradab. Jadi kebudayaan dalam pandangan Islam adalah kebudayaan yang berasal dari iman yang mendalam yang berorientasi kepada aspek rububiyah (ketuhanan), karena tidak ada aspek yang tumbuh di dunia ini melainkan ada agama dan ada arahan Pencipta semesta yaitu Allah Swt.
Dengan demikian, kebudayaan dalam Islam bertujuan mewujudkan kenyamaan, kedamaian, ketentraman, dan rahmat bagi semesta alam. Kebudayaan itu akan tumbuh dengan baik, ketika manusia memahami bahwa dia adalah ciptaan Allah swt yang ditunjuk sebagai khalifah di atas muka bumi ini, ditugaskan untuk memakmurkan bumi dan tidak membuat kerusakan dan kekacauan.
Manusia juga tercipta untuk menjadi hamba Allah Swt yang menjadi da’i(penyeru) kepada kebaikan dan penyebar budaya Islami.
Kebudayaan beriring waktu terus berkembang, dari yang dulunya primitif, kolot dan kaku, kini berubah menjadi maju dan modern. Kemajuan dan kemodrenan tidak menyebabkan kita menepikan unsur-unsur keislaman dalam kehidupan. Bahkan kemodrenan yang ada hendaknya dimanfaatkan secara benar seperti keinginan Rabb. Kebudayaanpun demikian, ianya tunduk dan patuh pada titah Allah swt Azza wa Jalla.
📚 Artikel Terkait
Kebudayaan yang ingin diwujudkan tentunya yang akarnya menghujam ke dalam bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Di dunia bahagia dan di akhirat memperoleh ridha dan kasih sayang Allah Swt. Kebudayaan yang tidak boleh melepaskan diri dari Islam tentunya dengan memberi porsi yang benar antara aspek duniawi dan ukhrawi, rohani dan jasmani, sehingga tidak didapati ketimpangan dan kesenjangan.
Salah satu aspek budaya yang sedang digalakkan di Banda Aceh adalah wisata Islami atau wisata religi. Sebuah wisata yang tidak meninggalkan unsur ketuhanan sama sekali. Islam agama yang dianut, tidak menghalangi seni dan wisata selama wisata tersebut tidak kehilangan nilai etika dan estetika.
Setiap hal yang ditampilkan dalam wisata tentunya mengingatkan kita kepada keagungan dan ke maha besaran Allah Swt pencipta yang penuh dengan kemuliaan.
Hal ini jelas bahwa Islam menghargai keindahan, profesionalisme, dan nilai estetika. Bahkan dalam banyak ayat Allah Swt memerintahkan para hambanya untuk berjalan di seluruh penjuru dunia, untuk melihat dan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa dan kejadian.Dengan mengambil ibrah dan pelajaran demi terwujudnya manusia yang beretika dan berbudaya yang mesti diterapkan dalam kehidupan.
Berwisata dan berjalan-jalan menikmati keindahanalam merupakan kegiatan yang tidak dapat terlepas dari kehidupan manusia. Setiap orang akan membutuhkan kegiatan berwisata yang dilakukan di dalam daerah maupun di luar daerah yang mungkin jauh dari dari tempat tinggalnya.
Wisatawan dalam melakukan perjalanan, tentunya memiliki berbagai tujuan antara lain untukrefresing, tujuan bisnis, professional dan tujuan lainnya.Wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata tentunya ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dari sisi kenyamana, keindahan alam dan lainnya, karena perjalanan wisata harus berimbang dengan perjalanan jauh yang dilakukannya.
Manfaat perjalanan yang dicari oleh setiap orang tentu beragam; mulai dari kualitas yang merupakan kata kunci dalam industri pariwisata. Sedangkan pelayanan dan dayatarik adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memenuhi keinginan para wisatawan.
Pada hakikatnya wisata adalah perjalanan untuk menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt.Implementasi dalam wisata kaitannya dengan proses dakwah dengan menanamkan kepercayaan akan adanya tanda-tanda kebesaran Allah Swt sebagai bukti ditujukan berupa ayat-ayat dalam Al Qur’an. Dalam hal ini wisatareligi dilakukan dengan mengambil ibrah atau pelajaran dan ciptaan Allah Swt atau sejarah peradaban manusia untuk membuka hati sehingga menumbuhkan kesadaran bahwa hidup di dunia ini tidak kekal.
Interpretasi bahwa Islam mendorong pariwisata adalah dengan ditetapkannya tuntutan pemenuhan rukun Haji yakni kewajiban melakukan perjalanan spiritual ke tanah suci Mekkah bagi kaum muslim yang telah memenuhi syarat dan memenuhi ketentuan Al Qur’an. Pariwisata yang menjadi rekomendasi oleh Islam adalah pariwisata yang berhubungan dengan spritualitas, perkunjungan ke tempat-tempat bersejarah Islam, berziarah, serta pemandangan alam, laut yang indah, danau, objek-objek yang menakjubkan dan sejenisnya.
Islam dan kaum Muslim resisten terhadap segala jenis pariwisata yang bertentangan dengan pelanggaran etika, dan moralitas Islam seperti misalnya; pariwisata pantai yang mengarah pada mempertontonkan pakaian minim dan lekuk badan, atau kafe yang menjajakan minuman beralkohol yang kesemuanya itu tidak dibolehkan dalam Islam.
Pandangan Islam dan Muslim tentang pariwisata ke depan, merupakan sebuah teki-teki yang penuh dengan jebakan permasalahan yang harus dijawab oleh kaum muslim itu sendiri.
Jika ingin mengambil bagian penuh pada pengembangan pariwisata sudah seharusnya peran masyarakat sekitar dan dukungan mereka sangat diperlukan. Hal ini tidaklah rumit untuk diterapkan selama akhlak dan busana terjaga, jauh dari fitnah, memiliki ruh cinta kepada Allah Swt dan Rasul dengan benteng syariah yang kokoh, maka diharapkan akan muncul nilai wisata islami yang nantinya bisa menjadi contoh bagi wilayah lainnya. Banda Aceh sebagai kota madani yang terus maju dan berbenah ke arah kemajuan dibawah pemimpin yang konsisten dengan syariah Islam. Tentu setiap langkah yang ditapaki memperoleh kasih sayang Allah Swt, demi membawa kota madani ini kearah baldatun thaiyibatun warabbul ghafur. Semoga!
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






