POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kopi Tanpa Gula

Don ZakiyamaniOleh Don Zakiyamani
February 6, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Ribut lagi. Begitulah setiap kali keputusan dibuat. Secara teori itu lumrah. Bukan barang baru. Lalu respon beragam terjadi. Pro dan kontra ibarat jenis kelamin. Beda namun saling melengkapi. Begitulah pendapat di alam demokrasi.

Hegel sudah lama mengatakan ini. Tesis dan antitesis ditutup dengan sintesis. Pada akhirnya berulang lagi. Arnold Toynbee, Ibn Khaldun pun sepakat soal periodesisasi sejarah. Meski pelaku beda, subtansi dan fasenya sama.

Paripurnanya tugas Nabi Muhammad, mengakhiri solusi setiap masalah. Semua masalah di dunia sudah ada jawabannya. Tinggal manusia, mau berpikir dan bertindak dengan benar atau mengulangi kesalahan pendahulunya.

Cerita kelangkaan gas dan persoalan di balik keputusan pemerintah, memang wajar mengundang polemik. Program gas murah meriah ini bakal sama persis dengan program gratisan lainnya. Bansos dan makan siang gratis.

Pemerintah yang ingin mempertahankan kuasa siap melakukan segala cara. Pemerintah yang melanjutkan, terpaksa melanjutkan meski keuangan negara bocor.

Jika kita memakai ide Hegel, subsidi dan non-subsidi merupakan tesis-anti tesis. Negara butuh sintesis agar tidak terjadi chaos. Namun demikian, sebagaimana pendapat Hegel soal spiral sejarah, pemerintahan sebelumnya berkontribusi atas kekacauan hari ini.

Bila kita mengajak August Comte nimbrung, barangkali ia punya pandangan berbeda. Ia tidak melihat tesis dan anti-tesis dalam persoalan subsidi gas. Ia cenderung lebih memilih kita fokus pada bagaimana reaksi rakyat dan pemerintah.

Sampai di sini dibolehkan memilih, menggunakan kaca spion Hegel, atau menggunakan pembesar August Comte. Dan bagaimana kalau teman-teman pakai kopi tanpa gula?.

Dalam renungan kopi tanpa gula, sumber masalah adalah gagalnya negara berperan sebagai organisasi. Negara seakan makhluk ghaib yang hanya tampak ketika dalam kesusahan.

Dan menariknya, niat mensejahterakan rakyat diganti dengan bom waktu. Seperti gas bersubsidi, bansos, dan sebentar lagi makan siang gratis.

Tidak ada solusi kreatif dan inovatif meski diberi kekuasaan penuh oleh rakyat.Bahkan mafia gas dan BBM masih bergentayangan. Ketika beban subsidi membengkak-nilai mata uang dijadikan dasar utama.

Benar itu memengaruhi namun sebegitu pintarkah negara ketika hanya mampu mencari alasan umum. Padahal argumen ilmiah bisa disampaikan. Misalkan seberapa rapuh keuangan negara karena subsidi selama 20 tahun ini.

Apakah takut pada senior yang pernah memerintah dan meninggalkan masalah besar. Jika.takut menyinggung SBY dan Jokowi, tidur saja. Diam di rumah nikmati kopi tanpa gula di masa tua.

Keluhan soal bengkaknya subsidi tiap tahun nyaring di telinga kita. Solusi jangka pendek utang. Solusi jangka menengah utang. Solusi jangka panjang? Biar diurus pemerintah selanjutnya.

Mengurangi subsidi tanpa peningkatan pendapatan rakyat pun ikut dilakukan. Solusi ini, meski riak namun rakyat bertahan. Anehnya, ketika rakyat mulai beradaptasi dengan kenaikan harga barang, dan jasa, negara senang-senang saja.

📚 Artikel Terkait

Dilema Kabinet Prabowo Dalam Bingkai Koalisi Gemoy

Festival Panen Kopi Bener Meriah 2018

Pengawas Sekolah Sang Lebah

Membasuh Kesedihan

Usaha peningkatan taraf hidup tidak dilakukan. Ya kalau sekedar rutinitas (penerimaan PNS, TNI/Polri) itu bukan kreatif apalagi inovatif. Itu seperti pergantian siang-malam.

Lalu mengapa para intelektual dan aktivis banyak bungkam. Kopi tanpa gula memberi kabar, mereka memang sedang mengalami penurunan kinerja otak. Riset membuktikan, kinerja otak manusia modern mengalami penurunan.

Kopi tanpa gula melihat fenomena yang sama di kampus. Para tuan guru mengalami ‘monopause‘ ide. Wajar bila ada akademisi yang ingin meraih gelar doktor dan profesor melakukan plagiat.

Ada juga beberapa orang meraih gelar profesor karena dibantu jabatan struktural di kampus. Tentu saja di era sekarang dianggap lumrah, biasa saja bahkan mulai dijadikan kebiasaan.

Para guru besar cangkokak memang menghasilkan buah namun ya begitulah. Silahkan tidak setuju kata kopi tanpa gula. Ini negeri demokrasi.

Andai Socrates di samping kopi tanpa gula, ia bahkan ketakutan melihat si pandir menjadi guru besar, si otoriter menjadi pemimpin, namun kemudian ia sadar, inilah demokrasi.

Sebagai makhluk lemah, impian berdebat dengan para calon profesor di warkop tentu menarik bagi saya. Sayangnya, para calon guru besar jarang berani mengadakan seminar terbuka hasil penelitiannya di warkop-warkop.

Tujuannya sederhana, agar.kopi tanpa gula diajak cerdas. Jangan hanya presentasi di kampus yang jelas-jelas kawan ngopi dan becandanya. Hasilnya kita semua tahu, pertanyaan yang disampaikan sekedar teknis sidang akademisi.

Bukankah orang pintar itu mampu mengubah bahasa ilmiah menjadi bahasa lebih sederhana. Bukankah kopi tanpa gula berhak mendapat ilmu guru besar melalui forum di warkop-warkop.

Tradisi itu menarik dan dinantikan kopi tanpa gula. Para calon guru besar sebaiknya jangan hanya diuji di kampus. Ia harus berani mempresentasikan temuannya di forum masyarakat.

Tentu dengan bahasa sederhana, tidak perlu bersembunyi dengan bahasa bersayap.

Bukankah Al-Ghazali lebih berwibawa dan besar ketika keluar kampus. Bukankah Socrates lebih besar dari para pemimpin kampus yang sibuk dengan olah migas demi kantong kampus dan pribadi. Dan bukankah Islam agama dakwah, yang artinya ilmu harus disebarluaskan?

Benar, ada yang menulis di media dan menyebarluaskan ilmunya. Namun bisa dihitung dengan jari.

Kopi tanpa gula hanya mampu diam. Ketika akademisi kini berbaju kontraktor migas. Ketika akademisi kini menjadi ‘buzzer’ pemerintah. Dan kopi tanpa gula mulai ragu dengan pernyataan sejarawan Arnold Toynbee.

Kelakar dia soal sejarah bangsa-bangsa bakal meleset di Indonesia. Sebabnya apa? Karena kaum intelektual menjadi bagian bermasalah. Kini kopi tanpa gula hanya tersenyum sembari berkata;

kita tidak dapat memilih dilahirkan menjadi siapa, namun kita dapat memilih mati menjadi siapa

Kopi tanpa gula pamit. Bila tulisan ini menyinggung pikiran para calon guru besar maupun guru besar, silahkan bantah di media cetak dan online.

Ruang pikir menjadikan kita cerdas. Ruang zikir menjadikan kita sadar akan kelemahan. Pikir dan zikir sebelum bertindak, semoga kita menjadi bijak.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

DPR Kini Punya "Remote Control" untuk Pejabat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00