POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Otoritas Fatwa Keagamaan

Nurkhalis MuchtarOleh Nurkhalis Muchtar
February 5, 2025
Kontribusi Umat Islam Terhadap Peradaban Dunia
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dr. Nurkhalis Muchtar,Lc, M.A

​Fatwa menduduki posisi agung dan mulia dalam Islam. Fatwa adalah sebuah proses memberikan kepastian hukum terhadap persoalan yang dihadapi umat Islam baik dalam bidang akidah, syariah dan akhlak. Kehadiran fatwa keagamaan di tengah-tengah umat merupakan jawaban atas berbagai persoalan yang sedang dihadapi.

Dengan demikian fatwa hendaknya menjadi solusi atas setiap persoalan keagamaan yang masih belum jelas status hukumnya. 

Hadirnya fatwa ulama adalah sebagai jawaban terhadap persoalan-persoalan keislaman, serta menjadi penengah atas berbagai kisruh keagamaan.

Kebutuhan terhadap fatwa sudah terasa sejak awal perkembangan Islam. Dengan meningkat jumlah penganutnya, maka setiap persoalan yang muncul memerlukan jawaban dan kejelasan hukum yang pasti. 

Untuk menjawab berbagai permasalahan hukum, diperlukan bantuan dari orang-orang yang berkompeten di bidang hukum Islam. Untuk itu, yang memiliki potensi memberikan fatwa adalah para ahli atau pakar hukum Islam. 

Fatwa merupakan tugas dari ahli hukum Islam dan mereka yang alim untuk menggali hukum berlandaskan semangat Islam yaitu Al Qur’an dan Sunnah sehingga lahir sebuah putusan hukum yang akurat dan bisa dipertanggung jawabkan keilmiahannya.

Begitu penting dan mulianya fatwa, sehingga para ulama yang bergelut dalam kajian keislaman, memberikan porsi yang besar dalam karya-karya mereka untuk mengupas persoalan-persoalan yang menyangkut fatwa, termasuk mengkaji kedudukan fatwa dalam hukum Islam. Fatwa menurut para ulama telah ada semenjak Al Qur’an diturunkan, karena Rasulullah saw berfungsi menjelaskan kandungan isi Al Qur’an kepada para sahabatnya, sehingga putusan hukum atau fatwa yang dikeluarkan oleh Rasulullah merupakan penjelasan, bahkan solusi hukum dalam memahami Al Qur’an. Ketika Rasulullah masih hidup, beliaulah satu-satunya mufti yang memiliki otoritas penuh dalam memberikan jawaban-jawaban dari setiap persoalan keagamaan.

​Setelah wafatnya Rasulullah saw, kedudukan fatwa diemban oleh para sahabat beliau. Jumlah para sahabat Rasulullah dalam berbagai referensi sekitar 124 ribu orang yang hadir dalam peristiwa Haji Wada’ menurut catatan ulama, namun dari jumlah yang besar itu yang memiliki otoritas fatwa hanyalah seratusan orang lebih, bila diklasifikasikan mereka pun bertingkat-tingkat, ada yang banyak fatwanya, ada yang pertengahan dan bahkan ada yang hanya beberapa saja fatwanya. 

Para sahabat Rasulullah menyadari betul bahwa persoalan memberi fatwa bukanlah persoalan remeh dan enteng, sehingga dalam berbagai riwayat ditemukan bahwa mereka sering menghindar dari mengeluarkan fatwa karena takut keliru dalam memberi jawaban, Umar bin Khattab pernah berkata “orang yang paling berani berfatwa adalah orang yang berani terjun ke neraka”.

📚 Artikel Terkait

Gagal Ginjal Akut dan Industri Makanan Anak: Antara Kelalaian dan Kejahatan Sistemik

Rapat TPID: Lima Komoditi Pengaruhi Inflasi Bulan November

Teknologi Membawa Nikmat

Sekumpulan Puisi Zab Bransah

​Generasi setelah sahabat adalah generasi Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in, kedua generasi setelah sahabat hanya mengikuti langkah-langkah yang telah ditempuh oleh para sahabat, mereka melanjutkan amanah fatwa dengan penuh tanggung jawab dan kehati-hatian. Kemudian fase berikutnya adalah masa para imam mujtahid dan imam mazhab yang jumlah mereka menurut catatan ulama berjumlah sekitar delapan puluh orang yang mampu berijtihad dan memiliki otoritas dalam mengeluarkan fatwa keagamaan. Para mujtahid-mujtahid tersebut kebanyakan fatwa hukumnya masih ditemukan direferensi yang beredar dan tertuang dalam kitab-kitab. Sehingga yang sampai kepada kita sekarang jumlah para imam mujtahid hanya empat orang yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. 

​Para ulama mazhab pun memandang persoalan fatwa adalah persoalan yang penting dan berbahaya. Imam Nawawi yang merupakan ulama besar dalam mazhab Syafi’i ketika menyusun karyanya Majmu’ Syarah al Muhazzab menulis muqaddimah yang berisi pengantar secara panjang lebar membahas mengenai fatwa. Di antara ucapan Imam Nawawi adalah; pertama, berfatwa hukumnya adalah fardu kifayah. Jika ada seseorang atau pihak yang menanyakan persoalan hukum, maka wajib bagi yang mempunyai kompetensi berfatwa untuk menjawabnya. Tetapi apabila ada orang lain yang juga mempunyai kompetensi untuk menjawabnya, maka menjawabnya adalah fardu kifayah.

 Kedua, jika sebuah fatwa telah dikeluarkan, akan tetapi ada hal yang dirasa tidak sesuai atau menjanggal, maka pihak yang mengeluarkan fatwa harus memberikan pemberitahuan dan penjelasan kepada pihak yang meminta fatwa, bahwa fatwanya tidak sesuai.

 Ketiga,diharamkan bagi mufti sembrono dan asal-asalan dalam mengeluarkan fatwa, begitu juga haram hukumnya meminta fatwa kepada ‘orang yang dikenal serampangan dalam berfatwa.Keempat, seorang mufti harus sehat lahir dan batin ketika mengemukakan fatwanya, sehingga ia bisa berfikir jernih dan mampu menjaga netralitas dalam memutuskan hukum suatu permasalahan. 

Kelima, seorang mufti dilarang untuk menjadikan profesi fatwa sebagai sumber penghidupan dan penghasilan untuk kepentingan dirinya. Keenam, penetapan fatwa harus merujuk kepada para ulama mazhab yang didasarkan kepada kitab-kitab yang mu’tabarah. Ketujuh, pengulangan penetapan fatwa harus disesuaikan dengan ‘illat dan argumentasinya. Kedelapan, penetapan fatwa harus jelas dan langsung dapat dilaksanakan.

Imam Nawawi juga menyebutkan: “ketahuilah bahwa tugas memberi fatwa itu adalah tugas yang sangat besar bahayanya, besar kedudukannya dan banyak keutamaannya, karena mufti itu dianggap sebagai pewaris para Nabi, ia memenuhi peran fardu kifayah (yang mesti ada dalam sebuah masyarakat). Sehubungan dengan itu Ibn Qayyim telah berkata: mufti adalah seorang yang bertanggungjawab langsung kepada Allah swt, maka sesungguhnya kedudukan fatwa itu berbahaya, agung kedudukannya, fatwa termasuk tanggung jawab ulama, karena mereka adalah ahli zikir. Imam Malik ditanyakan siapa yang boleh berfatwa? ia menjawab: tidak boleh memberi fatwa kecuali seseorang yang memahami khilafiyah manusia”.

Lebih jauh Imam Nawawi menjelaskan bahwa ulama yang menjadi pewaris Nabi termasuk di dalamnya adalah mufti. Mufti menjadi pewaris para nabi, karena dia bertanggung jawab untuk memberikan jawaban dan memecahkan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, pekerjaan memberikan fatwa adalah pekerjaan penting dan banyak keutamaannya, namun mengandung bahaya yang besar. Bahaya yang ditimbulkan adalah apabila mufti memberikan fatwa yang salah, sehingga timbul pertentangan, tidak menjadikan masyarakat aman, tetapi malah memperkeruh permasalahan di masyarakat.

Ahli fikih kontemporer Syeikh Wahbah al-Zuhaili mengemukakan beberapa persyaratan bagi mereka yang ingin bergelut dalam fatwa, antara lain: pertama, menguasai Al-Qur’an dan Hadis. Kedua, mengetahui ijma’ sehingga ia tidak sampai mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan ijma’. Ketiga, mengusai bahasa Arab yang memungkinkannya menggali hukum dari Al-Quran dan Hadis secara baik dan benar. Keempat, menguasai ilmu ushul fiqih, karena melalui ilmu inilah diketahui dasar-dasar dan cara-cara beristimbat. Kelima, mengetahui nasikh (yang menghapuskan) dan mansukh (yang dihapuskan).

Keenam, mengetahui permasalahan sekitar qiyas, mencakup persyaratan-persyaratannya, ‘illat-‘illat hukum dan metodologi istimbatnya dari nas. Ketujuh, mengetahui pemahaman mengenai maqasid syari‘ah demi menjaga kemaslahatan manusia dengan jalan mengambil manfaat serta menolak mudharat bagi manusia.

Sehingga akhir dari fatwa keagamaan tidak lain agar masyarakat muslim mengetahui secara persis duduk persoalan yang sebenarnya dalam menghadapi segala peribadatan dan non peribadatan ataupun tegasnya mengetahui secara mantap tentang masalah sosial keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Sehingga umat Islam pada masa modern sekarang ini tidak canggung dalam menghadapi segala problematika yang muncul di permukaaan bumi ini. Namun berkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi, umat Islam mampu mengantisipasi suatu yang bakal terjadi melalui proses penalaran yang mantap serta mampu menjabarkan ajaran Islam secara murni di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang serba kompleks ini.

Oleh karena itu, mufti dalam menghadapi suatu persoalan hukum harus benar-benar mengetahui secara rinci kasus yang dipertanyakan, mempertimbangkan kemaslahatan peminta fatwa, memahami kondisi lingkungan yang mengitari si penanya, serta tujuan yang ingin dicapai dari fatwa yang dikeluarkan, agar setiap fatwa yang dihasilkan lebih mengacu kepada perwujudan kemaslahatan yang diinginkan dalam agama.

Fatwa tidak semestinya dikeluarkan tanpa prosedur yang tepat, dan persyaratan yang telah ditetapkan, yang telah disepakati oleh para ahli hukum Islam dalam berbagai karya dan literatur. Fatwa menempati posisi penting dalam hukum Islam karena statusnya sama dengan ijtihad. Karenanya, para ulama telah membuat prosedur dan persyaratan dalam berbagai hal yang menyangkut penentuan metode, tata cara, kode etik dalam berfatwa agar tidak muncul fatwa yang keliru dan meresahkan Umat. 

Dengan demikian, Mufti dituntut untuk mewujudkan semangat dalam hukum Islam, dengan berbagai pendekatan baru, demi lahirnya fatwa yang akurat dan mampu menjawab problema masyarakat Islam yang demikian majemuk. Mufti harus mampu menampilkan wajah Islam yang dinamis dan sesuai dengan konteks kekinian agar Islam dirasakan menjadi rahmat bagi semesta. Oleh karena itu, prinsip yang wajar yang harus dipegang dalam semangat hukum Islam khususnya dalam berfatwa adalah ungkapan Arab yang berbunyi “al-Muhafazah ‘ala al-Qadim al-Salih, wa al-Akhdhu bi al-Jadid al-Aslah” (memelihara khazanah klasik yang  masih relevan, dan tidak menutup diri dengan hal baru yang lebih baik). Semoga!.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share8SendShareScanShare
Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar, anak dari Drs H Mukhtar Jakfar dan Nurhayati binti Mahmud, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya. Mengawali pendidikan di SD Negeri Ladang Neubok, Tsanawiyah di SMP Cotmane, lanjut ke MTsN Blangpidie. Kemudian merantau ke Banda Aceh dan bersekolah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa yang ketika itu masih di Lampeneurut. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAS RIAB, berangkat ke Bekasi Jawa Barat dan belajar di STID Mohammad Natsir pada jurusan Dakwah (KPI). Setahun ia di Bekasi, kemudian pulang dan melanjutkan di UIN Ar-Raniry pada jurusan Bahasa Arab. Mendapat beasiswa ke Mesir tahun 2006 ia dan menyelesaikan Strata Satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 2010 pada jurusan Hadits dan Ulumul Hadits. Lalu, melanjutkan ke Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry konsentrasi Fiqih Modern dan selesai di tahun 2014 sebagai salah satu lulusan terbaik. Awal 2015 hingga akhir 2017 mengambil S3 di Universitas Bakht al-Ruda Sudan dan selesai di tanggal 10-10-2017 dalam usianya genap 31 tahun dengan nilai maksimal. Disela-sela penelitian S3, ia sempat mengenyam pendidikan di Pascasarjana IIQ Jakarta selama setahun pada kajian Al Qur'an dan Hadits. Pernah juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, di antaranya adalah: Rumoh Beut Wa Safwan, Pesantren Nurul Fata dan Babul Huda Ladang Neubok, Dayah Mudi Cotmane, ketiganya masih di wilayah Aceh Barat Daya. Sambil mengikuti kuliah di Banda Aceh pada jenjang S2, ia sering mengikuti pengajian pagi di Dayah Ulee Titi, dan pernah mondok di Dayah Madinatul Fata Banda Aceh. Selain itu juga pernah belajar dan mengajar di Dayah Terpadu Daruzzahidin Lamceu dan Dayah Raudhatul Qur'an Tungkob Aceh Besar. Lalu, mendarmabaktikan ilmunya sebagai dosen dan pengajar di kampus negeri dan swasta, serta sebagai ustad di majelis-majelis taklim yang diasuhnya dalam pengajian TAFITAS Aceh, dan ia juga tercatat sebagai Ketua STAI al-Washliyah Banda Aceh,terhitung 2018-2022. Juga mulai berdakwah melalui tulisan, dan telah terbit beberapa tulisannya dalam bentuk buku dan karya ilmiyah lainnya. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Membumikan Fatwa Ulama.  

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Diabetes Usia Dini dan Masa Depan Anak Negeri

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00