Dengarkan Artikel
Narti, warga Ragunan, sudah keliling dari sore sampai malam. Tidak dapat. Dede, asisten rumah tangga di Ampera, juga sama. Warung langganannya bilang, stok habis sejak tiga hari lalu. Fitri di Rorotan terpaksa beli gas non-subsidi.
Tapi Bahlil bilang, tidak ada kelangkaan. Tidak ada pengurangan volume. Tentu saja. Mungkin di dunia Bahlil, antrean itu hanya ilusi. Mungkin di dunianya, rakyat yang kelaparan itu hanya khayalan.
“Kami tidak bermaksud menyulitkan rakyat,” kata Bahlil. Tapi apa yang terjadi? Rakyat sulit. Rakyat menderita. Rakyat antre. Tapi Bahlil tetap bergeming. Mungkin dia pikir, rakyat ini terlalu cerewet. Terlalu banyak protes. Padahal, dia hanya ingin “menata distribusi”. Menata? Dengan cara mempersulit rakyat? Dengan cara membuat antrean sepanjang itu? Dengan cara membiarkan nenek-nenek kelelahan sampai meninggal?
Bahlil, sang menteri. Dia hebat, bisa tidur nyenyak. Sementara rakyatmu terjaga, antre demi sesuap gas. Dia bisa tersenyum sementara rakyatmu menangis. Dia bisa berjanji sementara rakyatmu menderita. Dia bilang, ini hanya masa penyesuaian. Tapi sampai kapan? Sampai berapa banyak lagi nenek-nenek yang tumbang? Sampai berapa banyak lagi rakyat yang terpaksa beli gas non-subsidi?
📚 Artikel Terkait
Miris sekali. Banyak berkata, negeri kaya SDA, tapi rakyat sengsara. “Ini Indonesia atau Bangladesh, sih” Banyak lagi ungkapan kekesalan masyarakat kalangan bawah. Namun, Bahlil sepertinya tidak peduli lagi. Ia ingin kebijakannya harus tetap jalan. Kebijakan Bahlil. Jangan salah sebut ya!
#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





