POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Andi Depu: Sang Cahaya dari Mandar

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
February 4, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara

Oleh Gunawan Trihantoro

Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Andi Depu Maraddia Balanipa, pahlawan wanita berjilbab asal Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, merupakan seorang pejuang yang memimpin pasukan melawan Belanda pada 1946. Perjuangan Andi Depu tidak sebentar. Ia termasuk pahlawan wanita yang ikut berperang melawan Belanda dan Jepang. [1]

***

Di ufuk Sulawesi Barat, Mandar memeluk laut,

Di sana lahir seorang perempuan dengan tekad membatu.

Andi Depu, namanya terukir dalam sejarah,

Bukan sekadar ibu bangsa,

Namun penjaga nyala api kemerdekaan.

Di tanah penuh ombak dan buih,

Ia tak sekadar berdiri.

Ia berlari, membawa panji merah putih,

Di tengah ancaman penjajah yang merendahkan negeri.

Baginya, tanah Mandar bukan sekadar kampung,

Namun ibu yang harus dijaga.

Tahun-tahun kolonial menancapkan luka,

Darah dan air mata menghias tiap sudut tanah air.

Namun Andi Depu tak gentar,

Ia seorang perempuan,

Namun keberaniannya melampaui gunung-gunung tinggi.

Membentangkan bendera pusaka,

Ia berteriak kepada dunia,

“Ini Mandar, tanah kami, bukan untuk dirampas!”

Ketika Belanda mencoba merenggut kebebasan,

Andi Depu berdiri di garis depan.

Seakan-akan tubuhnya adalah benteng,

Yang menolak setiap peluru penjajah.

Ia tak gentar, bahkan ketika kematian mendekat,

Karena bagi Andi Depu,

Mati demi tanah air adalah hidup yang sesungguhnya.

Di sebuah subuh yang basah oleh embun,

Mandar dirundung ketakutan.

Penjajah datang dengan bayonet dan senapan,

Namun Andi Depu maju,

Menyematkan harapan pada setiap langkahnya.

📚 Artikel Terkait

ARISMAN MENEBAR VIRUS LITERASI DI UJUNG NEGERI

Sumatera Tenggelam, Jakarta Menutup Mata: Ketika Kedaulatan Dijadikan Tameng dan Rakyat Dikorbankan

Nias 2005: Mengukir Sejarah, Menyelamatkan Arsip

Puisi Puisi Heri Isnaini

“Ini republik, rumah kita bersama,

Tak akan kubiarkan diinjak oleh kaki asing.”

Ketika sang merah putih berkibar,

Itu bukan sekadar kain,

Namun simbol perjuangan, cinta, dan keberanian.

Andi Depu menjahitnya dengan darah,

Menegakkannya dengan doa,

Dan melindunginya dengan nyawa.

Ia tak hanya melawan dengan senjata,

Namun dengan pendidikan dan kata-kata.

“Anak-anak Mandar harus belajar,” katanya,

“Karena pena lebih tajam dari pedang.”

Ia mengajarkan cinta pada bangsa,

Menghidupkan semangat perjuangan,

Di hati generasi yang hampir padam.

Namun perjuangan bukan tanpa harga.

Keluarganya menjadi sasaran,

Rumahnya dibakar, tanahnya dirampas.

Namun ia tersenyum, meski hatinya bergetar,

Karena ia tahu, kemerdekaan lebih berharga

Dari apa pun yang bisa dimiliki seorang manusia.

Belanda berusaha menundukkannya,

Dengan janji dan ancaman.

Namun Andi Depu tetap teguh,

“Jangan pernah menjual jiwa untuk kenyamanan.”

Katanya kepada anak-anaknya,

Dan kepada rakyat yang ia cintai.

Ketika republik ini berdiri,

Ia bukan hanya menyaksikan,

Namun menjadi bagian dari sejarahnya.

Di bawah bendera merah putih,

Ia berdoa untuk tanah airnya,

Agar selalu merdeka, selalu berjaya.

Kini, nama Andi Depu hidup dalam setiap ombak Mandar,

Dalam nyanyian angin di pantai,

Dan di hati setiap anak Indonesia.

Ia bukan hanya seorang pahlawan,

Namun cahaya yang tak pernah padam.

Ia mengajarkan bahwa perempuan adalah penjaga bangsa,

Bahwa keberanian tak mengenal jenis kelamin,

Dan bahwa cinta pada tanah air adalah warisan terbesar.

Andi Depu, sang lentera dari Mandar,

Menyala abadi dalam sejarah bangsa.

Ia adalah bukti bahwa perjuangan,

Bukan sekadar milik mereka yang berpedang,

Namun juga milik mereka yang berjiwa besar,

Yang mencintai negerinya dengan seluruh hati.

***

Rumah Kayu Cepu, 28 Januari 2025.

CATATAN:

[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Andi Depu yang lahir di Tinambung, Mandar, Sulawesi Barat, pada 1907. Ia dikenal sebagai pejuang kemerdekaan yang berani mengibarkan bendera merah putih di masa penjajahan Belanda.

https://tirto.id/pahlawan-nasional-2018-kisah-andi-depu-bertempur-demi-republik-c9E9

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Bahlil yang Bergeming

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00