Dengarkan Artikel
Gie Bran adalah anak raja yang dibesarkan di istana. Sejak kecil ia dididik dengan penuh kedisiplinan. Ia diajarkan ilmu kepemimpinan, tata negara, sosial bahkan dikenalkan dengan kerasnya dunia.
Sebaliknya, Kei Xang dimanja dan selalu mendapat belaan permaisuri setiap kali melakukan kesalahan. Sebagai putra bungsu, Kei Xang memang berlimpah kasih-sayang. Itu sebabnya ia sering dikritik rakyat.
Raja Joi Koe Wie dikenal sebagai raja yang merakyat. Menindas rakyat (merakyat) ala raja Joi Koe Wie memang canggih. Ia mampu menghipnotis jutaan rakyat. Jarang kita dapati orang yang ditindas memuja yang menindasnya. Hanya rakyat negeri Endo yang demikian.
Kisah kehebatan Joi Koe Wie sampai ke telinga Ziang Ze Ming, raja negeri tirai emas. Kerajaan tirai emas pernah menguasai ekonomi endo. Saar itu Endo dipimpin raja Soe Har Toe. Sampai suatu hari terjadi perang ‘celana dalam’.<span;>
Pada saat itu, rakyat Endo marah besar pada warga keturunan negeri tirai emas. Konflik berdarah tak terhindari. Korban jiwa dan harta tak terelakan.
Jenderal kavaleri Soe Bie, bahkan ikut dipecat seiring ayah mertuanya turun takhta. Ia dianggap menculik dan membunuh para gerilyawan yang anti ayah mertuanya.
Di masa pemerintahan Joi Koe Wie, Ziang merasa perlu menanamkan pengaruhnya. Benar saja, tak lama setelah berkuasa, Joi Koe Wie dililit naga. Hutang Endo membengkak, rakyat dikibulin. Namun rakyat Endo super-sabar. Tetap saja mengelukan raja.
Sebelum turun tahta, Joi Koe Wie mempersiapkan anaknya. Namun Jenderal Soe Bie tak rela. Mereka akhirnya kompromi. Soe Bie boleh menjadi raja dengan syarat putranya Gie Bran menjadi perdana menteri.
Singkat cerita mereka berdua memangku kekuasaan. Soe Bie yang dikenal keras kepala, didampingi Gie Bran. Meski mereka sepaket namun tak sepakat.
📚 Artikel Terkait
Para menteri dan adipati binaan Joi Koe Wie masih berkuasa. Soe Bie yang dikenal sebagai jenderal kardus, sedikit meradang. Ia merasa dirinya hanya boneka Joi Koe Wie.
Pasukan infanteri dan kavaleri masih pro Joi Koe Wie. Sulit bagi Soe Bie bergerak leluasa. Apalagi kasim istana merupakan orang-orang dekat Joi Koe Wie. Mereka kerap melaporkan tindakan dan kebijakan Soe Bie.
Cerita tanpa kisah ini masih berlangsung. Apakah Soe Bie akan bebas? ataukah Joi Koe Wie akan tetap mendominasi. Pertarungan mereka memang bukan hal baru. Sejak manusia belum bercelana dalam, perebutan kekuasaan selalu terjadi.<span;>
Di dalam diri kita, perebutan kekuasaan juga telah dan sedang berlangsung. Terkadang nafsu bertahta, dan kita menjadi budaknya. Sebaliknya, ketika hati kita bertahta, meski berontak, nafsu harus tunduk dan patuh.
Nafsu memiliki kavaleri dan infanteri serta pasukan intelijen yang kuat. Mereka berkolaborasi menipu indera dan pikiran kita. Terjerumuslah kita dalam penjara nafsu. Bahkan kita sering tak sadar sedang disandera nafsu. Kita hidup dalam ilusi kenikmatan.
Hal itu biasanya terjadi ketika nafsu membantu kita. Ia membantu kita menjadi orang baik namun melanggar kebenaran. Ia memompa kita agar berbuat benar dan berlaku baik sambil memuji kita.
Pujian nafsu mengharuskan kita meminta imbalan sosial. Kita butuh dan kehausan akan validitas orang lain. Entah dianggap pintar, kaya, baik, hebat, dan puja-puji lain yang menyenangkan hati.<span;>
Kebenaran semakin menjauh. Ia enggan dengan manusia sombong. Ia enggan dengan manusia merasa baik dan benar. Ia enggan dimanipulasi pamrih, ia enggan berinteraksi dengan manusia pandir yang merasa pintar.
Begitulah cerita tanpa kisah dalam diri kita. Kekuasaan dari nafsu dan oleh nafsu untuk kepentingan nafsu. Mari berhitung berapa periode nafsu bertahta dalam hati dan pikiran kita. Sudah berapa tahun nafsu memanipulasi danau seolah lautan.
Penjajahan dalam diri kita oleh nafsu harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan fitrah kita. Hal-hal yang berkaitan dengan dosa di masa lalu sebaiknya kita bertaubat. Banda Aceh 23 Januari 2025, atas nama hamba Allah, yang penuh dosa.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini









