Dengarkan Artikel
.
Oleh Nendawati
Ada pahit, ada manis. Ada juga luka nestapa, dan kebahagiaan.
Itulah yang namanya rasa dalam hidup. Bahkan banyak rasa hal lainnya, namun kita berhak memilih rasa yang bagaimana dalam menjalani kehidupan yang penuh dinamika ini .
Yang harus dipegang teguh adalah rasa syukur, karena dengan rasa syukur kita akan menemukan hati yang tentram,aman ,nyaman dan kesemuanya itu pasti akan kita peluk keceriaan,tawa dan canda.
Hidup memang rumit, namun kita sendiri yang harus menentukan mau dibawa ke suasana yang bagaimana. Apalagi jika berkaitan dengan suasana yang bermula dari sebuah rumah . Kita harus membuat rumah itu senyaman mungkin, tempat paling romantis,paling banyak canda tawa keceriaan,yang intinya jika rumah sudah kita bangun dengan kasih sayang, saling peduli saling melindungi, maka para penghuninya tidak akan kehausan untuk mencari kebahagiaan di luar sana .
Maka marilah kita membangun rumah sebagai tempat ternyaman dan keluarga juga tempat ternyaman dalam saling berinteraksi. Orang tua menjadi panutan anak anaknya. Anak anak menghormati kedua orang tuanya dan berbakti.
Sang kakak menyayangi adik adiknya. Demikian juga sang adik harus juga menghormati yang lebih tua . Kita harus menciptakan suasana rumah yang harmonis, isi canda tawa di situ .
Apresiasikan anak anak saat mereka melakukan hal baik dan juga yang sudah berjuang bekerja keras, terutama jika mereka berprestasi, baik dalam akademiknya, maupun dalam mempelajari ilmu tauhidnya . Jangan menjadi orang tua yang otoriter dan jangan mengkritik terlalu kejam . Karena nanti tidak akan hadir canda tawa di balik hal sedemikian rupa.Orang tua tetap menjadi teman terbaik untuk anak anaknya .
📚 Artikel Terkait
Semua itu bermula dari rumah. Mau anak tumbuh baik atau seperti yang kita harapkan, setidaknya rumah adalah tempat ternyaman bagi anak anak kita, karena di saat anak kita di luar sana justru kita tidak selamanya dua puluh empat jam bisa bersama dengan anak anak kita. Kita tidak bisa mengendalikan lingkungan di luar, namun setidaknya lingkaran lingkungan keluarga ada dalam kendali kita. Oleh: Dayan Abdurrahman Suatu malam di bulan Ramadan, seorang anak di Gaza bertanya kepada ayahnya, “Ayah, kenapa kita selalu diserang?” Sang ayah tidak menjawab panjang. Ia hanya memeluk anaknya dan berkata, “Kita harus kuat.” Kalimat itu sederhana. Tapi pertanyaannya tidak sederhana. Di belahan dunia lain, seorang Muslim minoritas di Eropa berusaha menjelaskan identitasnya setiap hari—bahwa ia bukan teroris, bukan ancaman, hanya warga biasa yang ingin hidup tenang. Sementara di Asia Tenggara, termasuk Aceh yang pernah mengalami konflik panjang dan trauma kolektif, masyarakat belajar bahwa kekuatan bukan hanya soal... Oleh Fitriadi Mahmud, S.Pd, M.Pd Ikatan Guru Indonesia (IGI) Aceh kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kapasitas dan profesionalitas pengurus melalui pelaksanaan Pelatihan Manajemen Organisasi (PMO) Tingkat Dasar dan Tingkat Lanjutan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sistematis IGI Aceh dalam membangun tata kelola organisasi yang efektif, akuntabel, dan adaptif terhadap tantangan zaman. PMO Tingkat Dasar dilaksanakan pada 24 dan 25 Januari 2026 di Kota Banda Aceh. Kegiatan ini diikuti oleh para pengurus wilayah dan daerah IGI se-Aceh, serta sejumlah anggota yang dipersiapkan untuk menjadi motor penggerak organisasi di...Related Postingan
Ramadan, Refleksi, dan Revolusi Intelektual: Saatnya Umat Islam Tidak Hanya Mengaji, Tapi Berinovasi
IGI Membangun Kapasitas Pengurus Organisasi Guru
Marilah kita ciptakan kebahagiaan , keceriaan gelak tawa itu di dalam rumah kita. Terutama kita yang semua yang bergelar ibu . Semoga kita semua bisa menjadi tempat ternyaman bagi ananda kita semua.
Memberikan kasih sayang dan cinta tanpa syarat.
Bertahan dengan kuat .
Melindungi dengan ketat .
Memahami dan menghargai tradisi dan adat .
Itulah peran kita seorang ibu yang hebat .
Kita akan memberikan cinta untuk sekeluarga. Kita akan menebar keceriaan. Seorang ibu adalah menjadi Madrasah ula untuk keluarganya dalam hidup ini. we Terlebih mereka sebagai motivator, pemberi petuah juga pemberi kasih sayang yang berlimpah, memupuk kasih sayang .Mengajarkan apa itu tentang kehidupan.
Tujuan hidup itu yang harus kita ingat lagi, kita di dunia sebentar karena hidup adalah transit. Tujuannya adalah membawa bekal untuk perjalanan akhirat yang panjang, dan amal terbaik kita patuh pada suami dan suami pun harus menyayangi istrinya, melindunginya dan menjaga kewarasan mental istrinya. Jika istri bahagia, maka sebuah keluarga itu akan bahagia tiga kali lipat . istri juga menyiapkan generasi yang akan menjadi aset akhirat. Semoga kita bisa meninggalkan 3 perkara yakni, anak yang Solehah, ilmu yang bermanfaat dan juga sedekah jariyah.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini








