POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Cut Nyak Meutia: Mutiara yang Tak Pernah Padam

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (3)

RedaksiOleh Redaksi
January 25, 2025
Cut Nyak Meutia: Mutiara yang Tak Pernah Padam
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Gunawan Trihantoro

(Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah)

***
Cut Meutia tengah berduka. Suaminya, Pang Nanggroe , tewas ditembak tentara Belanda dalam peperangan yang terjadi pada 26 September 1910. Namun, kematian sang suami tidak menyurutkan nyali Cut Meutia untuk terus melawan dengan harapan bisa mengusir kaum penjajah dari bumi Aceh Darussalam. [1]

***
Di lembah hijau Aceh, suara angin berbisik pelan,
Menyanyikan balada perempuan perkasa, Cut Meutia namanya.
Bukan hanya sebuah nama dalam sejarah yang dituliskan,
Namun jiwa yang hidup dalam denyut tanah dan debur ombaknya.

Dari rumah panggung tempat ia bertumbuh,
Hingga senja di medan perang terakhirnya,
Ia belajar bahwa tanah ini adalah janji,
Yang tak boleh jatuh pada tangan tamak penjajah.
Rencong di genggamannya adalah doa,
Setiap tikamannya adalah lantunan ayat suci,
Menembus hati musuh yang mengancam marwah negeri.

Di bawah kanopi daun yang merunduk,
Di mana sinar matahari hanya mencuri celah,
Cut Meutia berdiri teguh dengan mata berapi,
Memimpin jiwa-jiwa yang merintih luka.
“Kita adalah pohon yang akarnya mencengkeram tanah,
Takkan tumbang meski badai merontokkan daunnya.”
Ucapannya menggema, menciptakan bara,
Membakar hati mereka yang dulu hampir menyerah.

Belanda datang dengan kapal dan bedil,
Namun Cut Meutia, perempuan yang lembut di wajah,
Adalah badai yang menghempas kapal besar itu,
Gelombang keberanian yang menolak tunduk.
Ia tahu, perjuangan adalah jalan berbatu,
Di mana darah menjadi saksi,
Dan kehilangan adalah sahabat setia.

📚 Artikel Terkait

Setelah Aku Pergi

Bincang Buku Membumikan Literasi

Mengulik Alat Sadap Canggih KPK yang Membuat Banyak Pejabat Kena OTT

Menyuarakan Solusi SDGs di International Youth Exchange and Conference (IYEC)

Ketika suami tercinta, Teuku Tjik Tunong, pergi selamanya,
Kesedihan itu ia lipat rapi,
Menjadi api yang memanaskan langkah kakinya.
“Aku takkan berhenti, demi tanah ini,” bisiknya,
Kepada tanah basah tempat suaminya berbaring.
Dalam pelukannya, rencong menjadi teman setia,
Dalam hatinya, semangat tak pernah padam.

Kemudian datang Pang Nagroe,
Sahabat seperjuangan yang menjadi sandaran,
Namun sekali lagi takdir mengulangi luka,
Ia kehilangan sosok itu di medan yang sama.
Namun bagi Cut Meutia, kehilangan bukan akhir,
Ia menjadikannya cahaya penuntun,
Bahwa pengorbanan adalah harga bagi kemerdekaan.

1910, di suatu pagi yang basah oleh embun,
Belanda mengepung hutan dengan teriakan perang.
Namun Cut Meutia tidak berlari,
Ia berdiri, tubuhnya kecil tetapi jiwanya tak terbendung.
Rencong di tangannya berkilau seperti bintang,
Setiap ayunannya adalah sajak keberanian,
Hingga akhirnya tubuhnya jatuh ke bumi.
Namun, apakah ia kalah?
Tidak. Ia abadi.
Karena perjuangan adalah jiwa,
Dan jiwa tak pernah mati.

Kini, namanya bergema di setiap doa,
Di setiap cerita rakyat yang dilantunkan ibu kepada anak.
Cut Meutia adalah mutiara yang bersinar di kegelapan,
Cahaya yang menuntun mereka yang hampir menyerah.
Dalam setiap langkah generasi Aceh,
Ia hidup sebagai nyala obor,
Menerangi jalan menuju kebebasan.

Di bawah langit biru yang menjadi atap perjuangan,
Cut Meutia meninggalkan warisan abadi.
Bukan harta atau istana megah,
Namun keberanian yang tak terbeli oleh apa pun.
Ia adalah pesan dari masa lalu,
Bahwa cinta kepada negeri tak mengenal waktu,
Bahwa kemerdekaan adalah doa,
Yang dilantunkan oleh darah dan air mata.\

Cut Meutia, engkau tidak pernah benar-benar pergi,
Langkahmu terus terdengar di hutan-hutan Aceh,
Doamu mengalir dalam sungai-sungai yang tak pernah kering.
Engkau adalah mutiara,
Yang sinarnya tidak pernah padam,
Meski badai mencoba memadamkan.

Di hati setiap anak negeri,
Engkau hidup sebagai ilham,
Bahwa perempuan bukan hanya pelengkap,
Namun tiang yang menegakkan marwah bangsa.
Aceh menangis saat engkau gugur,
Namun air mata itu menjadi sungai keberanian,
Yang terus mengalir hingga kini.
***

Rumah Kayu Cepu, 24 Januari 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Cut Meutia salah satu pahlawan nasional Indonesia dari Aceh, yang memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda hingga akhir hayatnya. https://tirto.id/gugurnya-cut-meutia-mutiara-kesayangan-aceh-c8ow

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Manggeng, Maafkan Hanya Sejenak

PGRI itu Milik Siapa?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00