• Latest
Cut Nyak Meutia: Mutiara yang Tak Pernah Padam

Cut Nyak Meutia: Mutiara yang Tak Pernah Padam

Januari 25, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Cut Nyak Meutia: Mutiara yang Tak Pernah Padam

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (3)

Redaksiby Redaksi
Januari 25, 2025
Reading Time: 2 mins read
Cut Nyak Meutia: Mutiara yang Tak Pernah Padam
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Gunawan Trihantoro

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026

(Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah)

***
Cut Meutia tengah berduka. Suaminya, Pang Nanggroe , tewas ditembak tentara Belanda dalam peperangan yang terjadi pada 26 September 1910. Namun, kematian sang suami tidak menyurutkan nyali Cut Meutia untuk terus melawan dengan harapan bisa mengusir kaum penjajah dari bumi Aceh Darussalam. [1]

***
Di lembah hijau Aceh, suara angin berbisik pelan,
Menyanyikan balada perempuan perkasa, Cut Meutia namanya.
Bukan hanya sebuah nama dalam sejarah yang dituliskan,
Namun jiwa yang hidup dalam denyut tanah dan debur ombaknya.

Dari rumah panggung tempat ia bertumbuh,
Hingga senja di medan perang terakhirnya,
Ia belajar bahwa tanah ini adalah janji,
Yang tak boleh jatuh pada tangan tamak penjajah.
Rencong di genggamannya adalah doa,
Setiap tikamannya adalah lantunan ayat suci,
Menembus hati musuh yang mengancam marwah negeri.

Di bawah kanopi daun yang merunduk,
Di mana sinar matahari hanya mencuri celah,
Cut Meutia berdiri teguh dengan mata berapi,
Memimpin jiwa-jiwa yang merintih luka.
“Kita adalah pohon yang akarnya mencengkeram tanah,
Takkan tumbang meski badai merontokkan daunnya.”
Ucapannya menggema, menciptakan bara,
Membakar hati mereka yang dulu hampir menyerah.

Belanda datang dengan kapal dan bedil,
Namun Cut Meutia, perempuan yang lembut di wajah,
Adalah badai yang menghempas kapal besar itu,
Gelombang keberanian yang menolak tunduk.
Ia tahu, perjuangan adalah jalan berbatu,
Di mana darah menjadi saksi,
Dan kehilangan adalah sahabat setia.

Ketika suami tercinta, Teuku Tjik Tunong, pergi selamanya,
Kesedihan itu ia lipat rapi,
Menjadi api yang memanaskan langkah kakinya.
“Aku takkan berhenti, demi tanah ini,” bisiknya,
Kepada tanah basah tempat suaminya berbaring.
Dalam pelukannya, rencong menjadi teman setia,
Dalam hatinya, semangat tak pernah padam.

Kemudian datang Pang Nagroe,
Sahabat seperjuangan yang menjadi sandaran,
Namun sekali lagi takdir mengulangi luka,
Ia kehilangan sosok itu di medan yang sama.
Namun bagi Cut Meutia, kehilangan bukan akhir,
Ia menjadikannya cahaya penuntun,
Bahwa pengorbanan adalah harga bagi kemerdekaan.

1910, di suatu pagi yang basah oleh embun,
Belanda mengepung hutan dengan teriakan perang.
Namun Cut Meutia tidak berlari,
Ia berdiri, tubuhnya kecil tetapi jiwanya tak terbendung.
Rencong di tangannya berkilau seperti bintang,
Setiap ayunannya adalah sajak keberanian,
Hingga akhirnya tubuhnya jatuh ke bumi.
Namun, apakah ia kalah?
Tidak. Ia abadi.
Karena perjuangan adalah jiwa,
Dan jiwa tak pernah mati.

Kini, namanya bergema di setiap doa,
Di setiap cerita rakyat yang dilantunkan ibu kepada anak.
Cut Meutia adalah mutiara yang bersinar di kegelapan,
Cahaya yang menuntun mereka yang hampir menyerah.
Dalam setiap langkah generasi Aceh,
Ia hidup sebagai nyala obor,
Menerangi jalan menuju kebebasan.

Di bawah langit biru yang menjadi atap perjuangan,
Cut Meutia meninggalkan warisan abadi.
Bukan harta atau istana megah,
Namun keberanian yang tak terbeli oleh apa pun.
Ia adalah pesan dari masa lalu,
Bahwa cinta kepada negeri tak mengenal waktu,
Bahwa kemerdekaan adalah doa,
Yang dilantunkan oleh darah dan air mata.\

Cut Meutia, engkau tidak pernah benar-benar pergi,
Langkahmu terus terdengar di hutan-hutan Aceh,
Doamu mengalir dalam sungai-sungai yang tak pernah kering.
Engkau adalah mutiara,
Yang sinarnya tidak pernah padam,
Meski badai mencoba memadamkan.

Di hati setiap anak negeri,
Engkau hidup sebagai ilham,
Bahwa perempuan bukan hanya pelengkap,
Namun tiang yang menegakkan marwah bangsa.
Aceh menangis saat engkau gugur,
Namun air mata itu menjadi sungai keberanian,
Yang terus mengalir hingga kini.
***

Rumah Kayu Cepu, 24 Januari 2025

ADVERTISEMENT

CATATAN:
[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Cut Meutia salah satu pahlawan nasional Indonesia dari Aceh, yang memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda hingga akhir hayatnya. https://tirto.id/gugurnya-cut-meutia-mutiara-kesayangan-aceh-c8ow

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 334x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 296x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 250x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 189x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Manggeng, Maafkan Hanya Sejenak

PGRI itu Milik Siapa?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com