POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Air Menenggelamkan Asa

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
January 24, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Ada pembaca setia tulisan saya, mengingatkan. “Bang, kenapa tidak menulis banjir di Kalbar?” Seketika saya kaget. “Astaghfirullahal’azim. Maaf, kali ini saya seperti menutup mata ketika daerah sendiri terkena banjir. Terima kasih sudah mengingatkan.” Saya lalai. Saat LA terbakar, betapa antusias saya menuliskannya. Sampai ada negur, “Mana empati lo buat Gaza.” Itu selalu saya ingat. Sekarang daerah sendiri. Baiklah, para camanewak mania, inilah ungkapan hati saya terhadap banjir di Bumi Khatulistiwa.

Langit mencurahkan air mata. Deras. Tak berhenti. Seakan bumi harus dimandikan segala pedihnya. Namun, kali ini bukan penyucian yang tiba, melainkan bencana. Banjir. Bukan dongeng tahunan lagi. Ini nyata. Ia datang menghapus batas antara rumah dan sungai, antara harapan dan ketidakpastian.

Sambas, Landak, Bengkayang, Singkawang. Empat nama yang kini tenggelam bukan dalam peta, tetapi dalam nestapa. Air merayap perlahan, lalu menggila. Tak ada yang tersisa, kecuali pertanyaan di kepala, “Salah siapa?” Tapi jawaban tak lagi penting saat rumah terendam hingga atap, saat tubuh direnggut air yang dinginnya seperti menertawakan.

Sambas, daerah kelahiran saya. Di sana, ada 27 desa kini hanya bayangan masa lalu. Rumah-rumah yang dulu berdiri gagah kini tak lebih dari pondasi yang berjuang melawan arus setinggi satu meter. Kecamatan Paloh dan Galing menjadi panggung drama alam. Hati siapa tak remuk mendengar 3.015 keluarga harus menatap kosong harta benda yang hanyut, memeluk anak-anak mereka di tengah lantai kayu rumah tetangga yang masih bertahan?

Landak, tempat dulu saya pernah bertugas. Air di Darit dan Ansang bukan lagi menggenang, tapi naik ke atas dada, menyentuh atap, meruntuhkan dinding. Dua meter! Bayangkan. Angka itu bukan statistik dingin. Itu adalah penanda di mana kehidupan dihentikan. Dua nyawa melayang. Nama mereka mungkin tak akan tercatat dalam sejarah, tapi bagi keluarga mereka, dunia telah runtuh.

Bengkayang tempat KKN S2 saya. Ada 129 jiwa terdampak. Jumlahnya kecil, katanya. Tapi siapa yang peduli? Setiap jiwa adalah dunia kecil. Dunia yang kini hanya punya satu warna, cokelat keruh air.

📚 Artikel Terkait

Menjadi Orang Tua dan Anak Yang Baik: Meneladani Kisah Luqmanul Hakim

Menulis itu, Sebuah Ritual Kecil yang Sakti

Pelecehan Seksual Semakin Meningkat

Teungku Fakinah; Ulama Perempuan dan Panglima Perang Aceh.

Singkawang, tempat sekolah saya. Ada 4.095 jiwa terdampak. Sebuah angka yang terlalu besar untuk disebut tragedi kecil. Mereka tak butuh kata-kata penghibur. Mereka butuh tanah yang kering, makanan yang cukup, dan tempat tidur yang tak dibayangi ketakutan.

Banjir ini bukan hanya air. Ini adalah ketakutan yang melilit leher. Kekosongan yang menekan dada. Kita tak bisa duduk diam dan berkata, “Kasihan ya.” Tidak. Ini saatnya bertanya, apakah kita hanya penonton?

Bantuan datang, katanya. Tapi lambat. Seperti kilatan petir yang tak pernah disusul hujan. Kita adalah bangsa yang pandai berbicara, tapi lambat bertindak. Rumah hanyut, hidup luluh, tapi apa yang diberikan? Beras 5 kilogram, mungkin. Atau selimut tipis yang tak cukup menghangatkan tubuh letih.

Kalimantan Barat, tanah yang katanya jantung dunia. Tapi lihatlah sekarang. Pohon-pohon besar telah diganti sawit. Sungai-sungai telah diracuni limbah. Hujan yang dulu berkah, kini seperti kutukan. Jangan salahkan langit. Salahkan kita yang tak lagi tahu cara menjaga bumi.

Kita yang tak terdampak, bagaimana kabarnya? Apakah sudah cukup merasa kasihan lalu lupa? Ataukah kita masih punya hati untuk membantu? Bukan dengan doa kosong, tapi dengan aksi nyata.

Ini bukan cerita tentang mereka yang jauh di sana. Ini cerita kita. Sebab banjir bukan hanya soal air. Ini tentang kemanusiaan yang diuji. Akankah kita lulus, atau gagal lagi?

#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Perokok Pemula Semakin Menggila?

Hanya Sejenak

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00