Dengarkan Artikel
Oleh Sastri Bakry
Ketua perkumpulan Penulis SATUPENA Sumbar
Saya mengenal majalah POTRET sejak beberapa tahun yang lalu. Cuma tak begitu intens. Sejak setahun terakhir majalah POTRET demikian gencar mengeluarkan tulisan berita aktifitas SATUPENA dan Sumbar talenta. Apakah itu berita kegiatan literasi, sastra, seni budaya, dan manggung di luar negeri maupun aktifitas saya dan organisasi saya. Saya merasa seolah menjadi bagian majalah POTRET, sebagai koresponden.
Awalnya saya mengira majalah POTRET adalah majalah sastra, tetapi kemudian saya mencoba menelusuri sejarah majalah ini. Ternyata POTRET adalah majalah perempuan yang bergerak di bidang Pemberdayaan perempuan atau setidaknya bersuara membela dan mempromosikan perempuan. Setidaknya puluhan tahun yang lalu di saat perempuan masih terpinggirkan terutama di Aceh, POTRET telah memotret ketidakadilan gender .
POTRET konon hadir sebagai pelopor satu-satunya majalah perempuan di Aceh yang bersifat non-profit, dengan komitmen memberikan manfaat nyata ketimbang sekadar mengejar keuntungan.
📚 Artikel Terkait
Dalam sejarahnya, keunikan Majalah POTRET terletak pada visinya yang mulia. Sebagai satu-satunya majalah Perempuan di Aceh, POTRET menempatkan edukasi dan pemberdayaan perempuan sebagai prioritas utamanya.
Cover majalah POTRET mengingatkan saya pada majalah Kartini, Femina, Sarinah, Gadis dan lainnya. Itu betul-betul majalah perempuan yang berisikan tentang perempuan. Sesungguhnya ia menampilkan keperempuanan perempuan, stereotypes perempuan. Soal fashion, masakan, keluarga, masalah khas perempuan dan lain-lain. Ya itu lah kenyataannya.
Sekarang majalah perempuan tersebut kemana? Saya ingat dulu berlangganan majalah Femina , majalah Gadis dan majalah perempuan lainnya sejak SMA dan kuliahan. Majalah tersebut adalah majalah yang merajai dunia perempuan. Banyak penulis perempuan yang muncul di era itu . Sebut saja Titie Said, La Rose, Pipiet Senja, Leila S Chudori, NH Dini dan lainnya.
Tetapi kemudian lama tak lagi ada kabar berita majalah- majalah tersebut. Jasanya untuk dunia perempuan hanya menjadi catatan sejarah yang tak pernah hilang.
Majalah Femina berhenti cetak sejak 2023. Majalah Sarinah jauh lebih dulu menghentikan edisi cetaknya pada 1995. Majalah Kartini mengakhiri kiprah cetaknya pada 2020. Satu persatu gugur di medan pertiwi.
Merawat Eksistensi Majalah POTRET
Sejalan dengan perkembangan teknologi dan era digitalisasi, POTRET terus beradaptasi menjadi media online. Bukan soal bentuk saja tetapi juga soal isi. Ia membawa misi budaya literasi dalam segala aspek. Itu lah makanya tulisan atau berita yang saya kirim menjadi cocok dengan majalah POTRET. Tanpa sadar waktu berjalan demikian cepat. Dan yang bertahan biasanya adalah petarung yang siap menghadapi perubahan.
Dua puluh dua tahun bukan waktu yang singkat untuk membangun diri. Majalah POTRET, telah membangun diri dan mengukuhkan diri berperan mencerdaskan bangsa. Ia mempublikasikan dunia literasi lewat tulisan para tokoh. Ia mencatatkan diri menjadi bagian dari perjalanan dunia jurnalistik di Indonesia. Majalah ini telah berkembang menjadi wadah inspirasi dan edukasi bagi masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda. Tidak hanya sibuk dengan hilir di dunia jurnalistik tetapi lebih dekat ke hulu dunia pendidikan bagi anak sekolah dan generasi muda dengan beragam lomba literasi. Ia melatih , membimbing dan membina generasi untuk cinta menulis.
Selamat merawat eksistensi duapuluh dua tahun hingga beratus-ratus tahun ke depan majalah POTRET, itu bukan hal mudah. Hanya pemimpin yang mempunyai nilai juang, kerja keras, fokus, berintegritas, setia pada pengabdian yang tinggi dan tidak materialistik yang akan berhasil. Dan itu ada pada spirit Tabrani Yunis , pimpinan Redaksi majalah POTRET dan timnya yang juga sudah menyiapkan kader berikutnya . Sekali lagi selamat berjuang
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






