• Latest
Peunajoh Prang - Bu Indra | Cerpen | Potret Online

Peunajoh Prang

Januari 22, 2025
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Peunajoh Prang - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Peunajoh Prang - Bu Indra | Cerpen | Potret Online

Peunajoh Prang

Indra Mardiani, M.Pd by Indra Mardiani, M.Pd
Januari 22, 2025
in Cerpen, Sastra
Reading Time: 3 mins read
0
595
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

POTRET – Suasana pagi yang mencekam, dingin menusuk tulang dirasakan oleh Agam dan Pak Wa di atas Gunung Peut Sagoe, Kabupaten Pidie. Mereka terpisah dari teman-temannya saat latihan gerilya seminggu yang lalu.

Langkah kaki semakin melambat ketika Agam mendengar suara aneh di belakangnya. Ia berjaga-jaga, sembari berpikir untuk mengambil tindakan, jika diperlukan.

“Agam, ayuk kita jalan ke arah ini,” suara Pak Wa memecah kesunyian.

“Astaghfirullah, Pak Wa, bikin kaget! Hampir saja jantungku copot,” balas Agam sambil memegang dadanya.

“Agam, kamu harus lebih waspada. Hal seperti ini bisa terjadi tiba-tiba. Gunung ini begitu luas, jebakan ada di mana-mana.”

“Siap, Pak Wa,” jawab Agam sambil berdiri tegap. Tangan kanannya memberi hormat, sementara tangan kirinya memeluk erat senjata rakitan miliknya.

Agam adalah seorang anggota organisasi National Rifle Association di Amerika Serikat. Ia bergabung dengan organisasi tersebut saat menempuh pendidikan di sana. Setelah pulang ke Aceh, ia diminta bantuan oleh Pak Wa untuk merakit senjata yang akan digunakan oleh pasukan gerilya.

Keahliannya dalam merakit senjata akhirnya membawa Agam ke Gunung Peut Sagoe. Di sanalah ia bertemu dengan pasukan gerilya, yang terdiri dari anak-anak muda, baik laki-laki (agam) maupun perempuan (inoeng).

Pasukan melaksanakan salat dan menghafal Al-Qur’an di subuh hari, lalu melakukan latihan menjelang siang hingga sore. Para inoeng menyiapkan makanan untuk disantap setelah latihan. Salah satu menu yang menarik perhatian Agam adalah sie reuboh.

“Apa bahan dasar sie reuboh?” tanya Agam.

“Daging sapi,” jawab seorang inoeng. “Daging ini biasanya diantar oleh Bu Aisyah dua kali sebulan ke gunung untuk pasukan. Ini menu yang sangat populer di kalangan gerilya.”

Bu Aisyah adalah istri Pak Wa yang sangat setia menemani garis perjuangan suaminya, meski dia tidak naik gunung.

“Apa keistimewaan sie reuboh sampai jadi favorit?”

“Salah satu kelebihannya adalah tahan lama, karena diracik dari rempah-rempah khas Bumi Serambi Mekkah. Rasanya sangat nikmat di lidah. Dan ini tahan hingga satu bulan. Makanan ini memudahkan para gerilya untuk menyimpan dan mengonsumsinya kapan saja,” lanjut Inoeng.

Baca Juga

di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026

“Selain sie reuboh, ada lagi menu yang juga disukai gerilya. Bahannya mudah didapat dan diolah, yaitu asam kareng.” Gadis yang sudah lama di gunung itu menambahkan.

“Asam kareng?” Agam mengerutkan kening.

“Iya, asam kareng dibuat dari ikan teri yang sudah dijemur, lalu digoreng dan diulek bersama cabai, bawang merah, serta asam sunti. Kalau dimakan dengan nasi putih hangat, rasanya sungguh luar biasa.”

“Kedua makanan itu sering disebut peunajoh prang, karena selalu dikonsumsi pasukan gerilya di gunung.”

Agam manggut-manggut mendengar penjelasan inoeng. Selama tinggal di Amerika, ia belum pernah mencicipi makanan seperti ini.

***

Waktu latihan pun tiba. Seluruh pasukan mendengar arahan dari Pak Wa. Mereka dibagi menjadi sepuluh kelompok, masing-masing terdiri dari lima belas orang. Agam bergabung dengan kelompok Pak Wa, mengingat ia belum berpengalaman di gunung dalam kondisi seperti ini.

Seluruh pasukan mulai bergerak sesuai arahan. Agam dan tiga belas pasukan lainnya mengikuti Pak Wa ke arah utara Gunung Peut Sagoe. Satu jam telah berlalu, tiba-tiba salah satu pasukan tak sengaja menginjak ranjau sisa perjuangan masa lalu.

“Jangan bergerak!” seru Pak Wa dengan tegas. Ia segera mencari batu besar untuk menggantikan posisi kaki pasukan itu secara perlahan.

ADVERTISEMENT

Pasukan lain diminta menjauh dari area tersebut, karena situasi bisa berbahaya. Setelah berhasil menggantikan posisi kaki dengan batu, Pak Wa segera berlari tanpa melihat pasti arah yang dituju.

Setelah jauh berlari dan tak mendengar suara ledakan, Pak Wa dan Agam menoleh ke belakang.

“Kok nggak ada siapa-siapa? Ke mana pasukan lainnya?” tanya Pak Wa, napasnya tersengal.

Agam yang masih ngos-ngosan hanya bisa melongo. “Tadi mereka bersama kita, kenapa sekarang sudah tidak ada?”

“Iya, Agam. Tadi aku hanya fokus berlari tanpa melihat ke belakang.”

“Tak ada jejak yang bisa kita ikuti, kecuali berpedoman pada kompas ke arah utara, sesuai kesepakatan,” ujar Agam, mencoba tenang.

Pak Wa mengangguk. Mereka mulai berjalan kembali setelah istirahat dan makan nasi dengan sie reuboh yang mereka bawa.

Jalan yang dilalui sudah begitu jauh, tetapi belum ada tanda-tanda keberadaan pasukan lain. Matahari mulai digantikan oleh rembulan. Bulu kuduk Agam meremang. Ini pengalaman pertamanya berada di pegunungan yang tidak dikenalnya.

“Mari kita bermalam di sini,” ujar Pak Wa sambil menunjuk sebuah pohon besar.

“Di sini? Hanya di bawah pohon? Tidak ada tenda atau terpal untuk melindungi kita dari hujan atau hewan buas?” tanya Agam, ragu.

“Iya, di sini. Tempat ini cukup aman,” jawab Pak Wa, yakin.

Malam itu, mereka berbagi nasi dengan sie reuboh. Hening, hanya suara angin dan desau daun yang menemani. Di balik dinginnya malam dan gelapnya hutan, Agam sadar: ini bukan sekadar latihan. Ini ujian nyata tentang keberanian, kepercayaan, dan bertahan hidup.

 

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare238Tweet149
Indra Mardiani, M.Pd

Indra Mardiani, M.Pd

Penulis bernama Indra Mardiani, M.Pd., saat ini bertugas di MIN 11 Banda Aceh. Baru memiliki beberapa buku solo dan buku antologi, ia sering mengatakan bahwa “Kebahagiaan harus diciptakan oleh diri sendiri, bukan hanya menunggu lingkungan yang membentuknya.

Baca Juga

feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
Next Post
Peunajoh Prang - 688d20bd 2354 45d9 9400 ebbbbea6d4c2 | Cerpen | Potret Online

Palestina, Gencatan Senjata

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com