POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Peunajoh Prang

Indra Mardiani, M.PdOleh Indra Mardiani, M.Pd
January 22, 2025
Peunajoh Prang
🔊

Dengarkan Artikel

 

POTRET – Suasana pagi yang mencekam, dingin menusuk tulang dirasakan oleh Agam dan Pak Wa di atas Gunung Peut Sagoe, Kabupaten Pidie. Mereka terpisah dari teman-temannya saat latihan gerilya seminggu yang lalu.

Langkah kaki semakin melambat ketika Agam mendengar suara aneh di belakangnya. Ia berjaga-jaga, sembari berpikir untuk mengambil tindakan, jika diperlukan.

“Agam, ayuk kita jalan ke arah ini,” suara Pak Wa memecah kesunyian.

“Astaghfirullah, Pak Wa, bikin kaget! Hampir saja jantungku copot,” balas Agam sambil memegang dadanya.

“Agam, kamu harus lebih waspada. Hal seperti ini bisa terjadi tiba-tiba. Gunung ini begitu luas, jebakan ada di mana-mana.”

“Siap, Pak Wa,” jawab Agam sambil berdiri tegap. Tangan kanannya memberi hormat, sementara tangan kirinya memeluk erat senjata rakitan miliknya.

Agam adalah seorang anggota organisasi National Rifle Association di Amerika Serikat. Ia bergabung dengan organisasi tersebut saat menempuh pendidikan di sana. Setelah pulang ke Aceh, ia diminta bantuan oleh Pak Wa untuk merakit senjata yang akan digunakan oleh pasukan gerilya.

Keahliannya dalam merakit senjata akhirnya membawa Agam ke Gunung Peut Sagoe. Di sanalah ia bertemu dengan pasukan gerilya, yang terdiri dari anak-anak muda, baik laki-laki (agam) maupun perempuan (inoeng).

Pasukan melaksanakan salat dan menghafal Al-Qur’an di subuh hari, lalu melakukan latihan menjelang siang hingga sore. Para inoeng menyiapkan makanan untuk disantap setelah latihan. Salah satu menu yang menarik perhatian Agam adalah sie reuboh.

“Apa bahan dasar sie reuboh?” tanya Agam.

“Daging sapi,” jawab seorang inoeng. “Daging ini biasanya diantar oleh Bu Aisyah dua kali sebulan ke gunung untuk pasukan. Ini menu yang sangat populer di kalangan gerilya.”

Bu Aisyah adalah istri Pak Wa yang sangat setia menemani garis perjuangan suaminya, meski dia tidak naik gunung.

“Apa keistimewaan sie reuboh sampai jadi favorit?”

“Salah satu kelebihannya adalah tahan lama, karena diracik dari rempah-rempah khas Bumi Serambi Mekkah. Rasanya sangat nikmat di lidah. Dan ini tahan hingga satu bulan. Makanan ini memudahkan para gerilya untuk menyimpan dan mengonsumsinya kapan saja,” lanjut Inoeng.

“Selain sie reuboh, ada lagi menu yang juga disukai gerilya. Bahannya mudah didapat dan diolah, yaitu asam kareng.” Gadis yang sudah lama di gunung itu menambahkan.

📚 Artikel Terkait

Kesetiaan Lelaki dan Martabat Bangsa

MAA Se-Kluet Raya Sepakati Motif Senuwan Keluwat untuk Pakaian dan Souvenir

Puasa Oplosan

Mimpi di Atas Kertas

“Asam kareng?” Agam mengerutkan kening.

“Iya, asam kareng dibuat dari ikan teri yang sudah dijemur, lalu digoreng dan diulek bersama cabai, bawang merah, serta asam sunti. Kalau dimakan dengan nasi putih hangat, rasanya sungguh luar biasa.”

“Kedua makanan itu sering disebut peunajoh prang, karena selalu dikonsumsi pasukan gerilya di gunung.”

Agam manggut-manggut mendengar penjelasan inoeng. Selama tinggal di Amerika, ia belum pernah mencicipi makanan seperti ini.

***

Waktu latihan pun tiba. Seluruh pasukan mendengar arahan dari Pak Wa. Mereka dibagi menjadi sepuluh kelompok, masing-masing terdiri dari lima belas orang. Agam bergabung dengan kelompok Pak Wa, mengingat ia belum berpengalaman di gunung dalam kondisi seperti ini.

Seluruh pasukan mulai bergerak sesuai arahan. Agam dan tiga belas pasukan lainnya mengikuti Pak Wa ke arah utara Gunung Peut Sagoe. Satu jam telah berlalu, tiba-tiba salah satu pasukan tak sengaja menginjak ranjau sisa perjuangan masa lalu.

“Jangan bergerak!” seru Pak Wa dengan tegas. Ia segera mencari batu besar untuk menggantikan posisi kaki pasukan itu secara perlahan.

Pasukan lain diminta menjauh dari area tersebut, karena situasi bisa berbahaya. Setelah berhasil menggantikan posisi kaki dengan batu, Pak Wa segera berlari tanpa melihat pasti arah yang dituju.

Setelah jauh berlari dan tak mendengar suara ledakan, Pak Wa dan Agam menoleh ke belakang.

“Kok nggak ada siapa-siapa? Ke mana pasukan lainnya?” tanya Pak Wa, napasnya tersengal.

Agam yang masih ngos-ngosan hanya bisa melongo. “Tadi mereka bersama kita, kenapa sekarang sudah tidak ada?”

“Iya, Agam. Tadi aku hanya fokus berlari tanpa melihat ke belakang.”

“Tak ada jejak yang bisa kita ikuti, kecuali berpedoman pada kompas ke arah utara, sesuai kesepakatan,” ujar Agam, mencoba tenang.

Pak Wa mengangguk. Mereka mulai berjalan kembali setelah istirahat dan makan nasi dengan sie reuboh yang mereka bawa.

Jalan yang dilalui sudah begitu jauh, tetapi belum ada tanda-tanda keberadaan pasukan lain. Matahari mulai digantikan oleh rembulan. Bulu kuduk Agam meremang. Ini pengalaman pertamanya berada di pegunungan yang tidak dikenalnya.

“Mari kita bermalam di sini,” ujar Pak Wa sambil menunjuk sebuah pohon besar.

“Di sini? Hanya di bawah pohon? Tidak ada tenda atau terpal untuk melindungi kita dari hujan atau hewan buas?” tanya Agam, ragu.

“Iya, di sini. Tempat ini cukup aman,” jawab Pak Wa, yakin.

Malam itu, mereka berbagi nasi dengan sie reuboh. Hening, hanya suara angin dan desau daun yang menemani. Di balik dinginnya malam dan gelapnya hutan, Agam sadar: ini bukan sekadar latihan. Ini ujian nyata tentang keberanian, kepercayaan, dan bertahan hidup.

 

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Indra Mardiani, M.Pd

Indra Mardiani, M.Pd

Penulis bernama Indra Mardiani, M.Pd., saat ini bertugas di MIN 11 Banda Aceh. Baru memiliki beberapa buku solo dan buku antologi, ia sering mengatakan bahwa “Kebahagiaan harus diciptakan oleh diri sendiri, bukan hanya menunggu lingkungan yang membentuknya.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Palestina, Gencatan Senjata

Palestina, Gencatan Senjata

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00