Dengarkan Artikel
Oleh: Alya Azzahra
POTRET – Aku Zahra, hidupku tidak sempurna, ketika aku kecil, aku sering mendengar cerita teman-temanku serta melihat sepupuku bermain dan digendong oleh ayahnya dengan penuh rasa hangat. Namun aku hanya bisa menatap mereka dengan rasa ingin tahu. Sejak lahir ayahku tidak berada di rumah. Ibu selalu bilang “Ayah dan ibu sudah tidak bersama lagi, tapi kita akan tetap baik-baik saja, Nak!”
Aku tahu, meskipun ibu selalu tersenyum, ada rasa sedih yang selalu menghantui pikirannya, ketika melihatku tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah.
Ibu selalu mengusahakan yang terbaik untuk kami berdua, ibu bekerja keras setiap hari dari seorang penjual kue dari pagi sampai sore. Untuk merubah nasib ibuku kuliah lagi demi mendapat kehidupan yang lebih baik untuk kami. Alhamdulillah, saat ini ibuku menjadi seorang pengajar.
Aku selalu membantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah, agar dia bisa beristirahat. Meskipun demikian tak jarang aku sering melihatnya menagis dalam doanya selepas salat. Dia berusaha tegar didepanku, berusaha menguatkanku dengan kata-kata, ”Tidak apa-apa Nak! semua akan baik-baik saja kita akan berjuang bersama, Insyaallah Allah selalu bersama kita.”
Sampai saat ini, aku sudah duduk di bangku kelas 2 SMP, aku tidak mengenal wajah ayahku. Ibu sering menjelaskan padaku dengan penuh kesabaran bahwa ayah memilih jalan yang berbeda, dan keputusan berpisah adalah sesuatu yang tidak bisa diubah dan juga sudah menjadi ketentuan Allah.
Jujur, aku tidak pernah benar-benar mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Namun, dalam hatiku hanya ada rasa marah terhadap ayahku yang sudah meninggalkan aku dan ibu.
Sungguh ini sangat berat bagi ibu yang telah melahirkan dan membesarkanku. Ibu pekerja keras. Seringkali ibu berkata, ”Ibu hanya ingin kehidupanmu lebih baik, anakku. Oleh karena itu rajinlah ke sekolah dan mengaji. Tidak usah kamu pikirkan soal kebutuhan lainnya, jadilah anak pintar dan sholeha. Insyaallah selalu ada jalan.”
Sekolah adalah tempat yang penuh kenangan, teman-temanku sering bercerita tentang bagaimana mereka pergi ke sekolah bersama ayah. Mereka juga bercerita tentang liburan bersama keluarga di musim libur sekolah. Sementara aku selalu diantar oleh ibuku ke sekolah dan liburan juga bersama ibuku.
Teman-temanku kadang bertanya, ”Mengapa ayahmu tidak pernah datang?”
Dengan pertanyaan demikian, aku hanya bisa tersenyum dan menjawab, ”Aku tidak seberuntung kalian yang bisa bersama ayah, aku sudah tidak bersama ayahku lagi.
📚 Artikel Terkait
Meski berat dalam mengungkapkannya, tetapi aku tidak ingin berbohong. Ibu selalu mengingatkanku untuk tidak pernah berbohong dalam hidup.
Namun, bagaimanapun aku tetap saja iri dengan anak-anak yang begitu dekat dengan ayah mereka, yang bisa bercerita atau bermain bersama. Ibu selalu memberi pengertian bahwa tidak memiliki ayah bukan berarti hidupku kurang lengkap.
”Kamu tetap anak yang luar biasa, meski ayah tidak ada, ibu selalu ada untukmu dan kamu tidak akan sendirian.”
Tentu saja kata-kata ibuku membuat hatiku sedikit tenang. Pikiran bahwa aku tidak sempurna tetap saja ada. Namun, aku sungguh merasa beruntung memiliki ibu yang luar biasa.
Hari-hari berlalu begitu cepat, kini aku sudah berur 13 tahun, dan meskipun aku tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, aku belajar banyak dari kehidupan bersama ibu. Aku melihat bagaimana ibu berjuang setiap hari untuk memastikan aku bisa sekolah, bisa mengaji di tempat yang baik juga memiliki kehidupan yang baik.
Hari itu aku duduk bersama ibu di kamar, ibu membuka percakapan dengan sesuatu yang tidak biasa “ Nak, Ibu ingin kamu tahu bahwa hidup ini tidak selalu mudah tapi kita harus tetap berusaha.
Aku menatapnya merasa ada sesuatu yang berbeda dari cara bicara ibu. “Ayah memang tidak lagi bersama kita, tapi yakinlah Allah selalu memberi kita kekuatan. Kita harus bersyukur karena sudah 13 tahun kita bersama dan menjalani hidup dengan baik, meskipun hidup dengan penuh perjuangan. Banyak hal yang harus kita syukuri, Nak,” kata Ibu sambil mengelus kepalaku.
Aku hanya terdiam mendengar kata-kata ibu, tanpa terasa air mataku berderai. Aku tidak bisa berkata-kata. Betapa aku merasa bersyukur memiliki ibu sepertinya. Ibu mungkin tidak sempurna, tapi ibu selalu ada untukku. Dia memberikan segalanya yang terbaik untuk anak perempuannya ini. Aku tahu demi aku banyak hal yang harus dikorbankannya. Setiap tetes keringat dan air mata adalah bukti cinta yang besar dan tulus untukku.
Dari hari itu meskipun aku merasa berbeda, aku mulai belajar untuk lebih menerima kenyataan. Aku tahu aku tidak punya ayah, tetapi ibu selalu mengajariku untuk menjadi anak yang baik, sholeha dan kuat serta tidak mudah menyerah. Aku semakin menyadari bahwa meski ibu dan ayah tidak bersama, hidup kami masih penuh dengan cinta, ayah memang tidak ada bersama kami, tetapi ibu memberikan lebih dari cukup untuk menutupi segala kekurangan itu
Pada suatu kesempatan, aku teringat akan sebuah pertanyaan yang pernah diajukan oleh temanku di sekolah “Kenapa ayahmu tidak pernah datang?” Aku merasa ragu untuk menjawab, tetapi aku ingat perkataan ibu harus selalu jujur dalam hidup, meskipun tidak mudah.
”Ayahku memang tidak ada, tetapi aku punya ibu yang hebat, Aku tidak merasa kekurangan apa pun, karna ibu selalu memberi yang terbaik untukku,” jawabku dengan penuh percaya diri.
Teman-temanku terdiam dan aku merasa bangga dengan jawabanku sendiri.
Aku menyadari bahwa ini memeng tidak mudah, Namun berkat doa dan usaha ibu yang tidak pernah putus, aku bisa menjalani hidup dengan semangat dan percaya diri. Kami mungkin tidak memiliki ayah, tetapi kami memiliki satu sama lain dan itu lebih dari cukup untuk membuatku bersyukur dan kami memiliki cinta dan keberanian untuk menjalani hari-hari kedepan dengan penuh rasa syukur
Kini usiaku 13 tahun, aku bisa berkata dengan bangga, “Alhamdulillah meski hidup ini tidak mudah, aku masih bisa bertahan, aku tidak sendirian, aku memiliki ibu yang luar biasa. Alhamdulillah segala puji bagiMu ya Allah.”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






