Dengarkan Artikel
Penulis: Herawati, S.Pd
Pengajar Pada MTsN 1 Kota Langsa, Aceh
Literasi adalah fondasi penting dalam membangun peradaban. Sebagai seorang guru, saya selalu percaya bahwa kemampuan membaca dan menulis adalah jembatan menuju masa depan yang lebih cerah. Literasi bukan hanya sekadar keterampilan dasar, tetapi juga alat untuk membangun kreativitas, berpikir kritis, dan membuka wawasan yang lebih luas.
Namun, membangkitkan semangat literasi bukanlah perkara mudah, terutama di lingkungan sekolah atau Madrasah.
Tantangan seperti minimnya akses terhadap bahan bacaan berkualitas, rendahnya motivasi siswa, serta kurangnya dukungan sarana dan prasarana sering kali menjadi hambatan yang harus dihadapi.
Kendati demikian, saya selalu percaya bahwa setiap langkah kecil, jika dilakukan dengan konsisten dan semangat, mampu membawa perubahan besar. Dalam artikel ini, saya ingin berbagi perjalanan saya dalam menggerakan literasi di MTsN 1 Langsa, sebuah perjalanan penuh tantangan, namun membuahkan hasil manis yang membanggakan.
Awal mula gerakan literasi ini dimulai pada tahun 2023, ketika saya dipindah tugaskan ke MTsN 1 Langsa. Saat pertama kali tiba, saya menyadari bahwa di Madrasah ini terdapat banyak potensi luar biasa, baik dari siswa maupun rekan-rekan guru. Mereka memiliki bakat dan minat yang besar dalam menulis, namun potensi tersebut belum sepenuhnya tergali. Melihat peluang ini, saya merasa terpanggil untuk memulai langkah kecil. Sebagai langkah awal, saya mencoba mengajak siswa dan guru untuk menulis bersama.
Responsnya sungguh luar biasa, Siswa begitu antusias, terlebih ketika saya memberikan mereka kebebasan untuk menulis sesuai minat dan pengalaman mereka. Tidak hanya siswa, para rekan guru pun menyambut ajakan ini dengan semangat tinggi. Mereka tidak hanya mendampingi siswa, tetapi juga ikut serta menulis dan berbagi cerita inspiratif mereka dalam mengajar.
Namun, perjalanan tidak selalu mulus. Masalah pertama yang saya hadapi adalah keterbatasan fasilitas. Banyak siswa tidak memiliki laptop atau perangkat canggih untuk menulis karya mereka, sementara komputer sekolah pun jumlahnya terbatas dan penggunaannya harus bergantian.
Di tengah keterbatasan ini, saya mencari solusi sederhana namun efektif: siswa menulis melalui aplikasi WhatsApp di ponsel mereka. Meskipun sebagian besar dari mereka hanya memiliki ponsel sederhana, teknologi ini menjadi jembatan untuk tetap produktif. Siswa mengirimkan tulisan-tulisan mereka kepada saya melalui pesan WhatsApp, yang kemudian saya kumpulkan dan simpan di laptop pribadi untuk diedit.
Awalnya, tidak semua siswa percaya diri dengan tulisannya. Banyak dari mereka merasa takut salah atauk hawatir karya mereka tidak akan dihargai. Untuk mengatasihal ini, saya selalu memberikan apresiasi terhadap Setiap karya yang masuk, sekecil apa pun itu.
Saya memberikan umpan balik yang membangun, seperti mengomentari ide-ide menarik atau gaya bahasa yang unik, untuk mendorong semangat mereka agar terus menulis. Tidak jarang, saya juga mengadakan diskusi singkat melalui WhatsApp untuk membantu siswa yang merasa kesulitan menuangkan ide mereka dalam bentuk tulisan.
Selain keterbatasan fasilitas, tantangan lain adalah konsistensi . Menulis memerlukan disiplin, dan tidak semua siswa mampu melakukannya secara rutin. Untuk itu, saya menetapkan target mingguan,. Hal ini tidak hanya membuat mereka lebih terorganisir, tetapi juga menciptakan atmosfer literasi yang positif di kalangan siswa.
📚 Artikel Terkait
Perlahan, karya-karya yang terkumpul semakin banyak. Dari sekadar catatan sederhana, tulisan-tulisan siswa mulai menunjukkan perkembangan, baik dalam segi isi maupun gaya penulisan. Melalui proses pengumpulan, pengeditan, dan pembimbingan yang terus-menerus, kami akhirnya mampu menyusun kumpulan tulisan yang layak untuk diterbitkan. Tidak hanya menjadi kebanggaan bagi para siswa, karya inij uga menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.
Ketika proses editing selesai, tantangan berikutnya muncul. Untuk menerbitkan buku antologi siswa, kami menghadapi kendala finansial. Sebagian besar siswa berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah, Sehingga mereka tidak mampu menanggung biaya penerbitan. Saya pun membicarakan hal ini dengan pihak madrasah dan menjelaskan betapa pentingnya buku ini sebagai bentuk apresiasi atas usaha siswa dan guru.
Alhamdulillah, pihak madrasah memberikan dukungan penuh dengan memutuskan untuk membantu pembiayaan penerbitan. Tidak hanya itu, beberapa guru juga secara sukarela menyisihkan sebagian gaji mereka untuk mendukung proyek ini, sebuah bentuk Solidaritas yang sangat mengharukan.
Proses penerbitan pun menjadi pengalaman belajar tersendiri bagi semua pihak. Siswa diajak untuk memahami bagaimana sebuah buku diterbitkan, mulai dari tahap desain sampul, tata letak, hingga finalisasi naskah. Saya bekerjasama dengan penerbit Indie yang saya kenal, pihak Penerbit memberikan dukungan dengan memberikan potongan harga sebagai bentuk apresiasi terhadap usaha kami. Selama beberapa bulan, BBB kami bekerja siang dan malam untuk memastikan bahwa karya ini benar-benar layak dan dapat menjadi kebanggaan semua pihak.
Setelah perjuangan selama lima bulan, pada bulan April 2024, lahirlah dua karya : buku antologi siswa yang berjudul“Selaksa Kisah dari Madrasah Sawah” dan antologi guru yang berjudul “Pena Sang Pendidik Madrasah”. Keduanya adalah bukti nyata dari semangat dan kerja keras kami semua.
Buku “Selaksa Kisah dari Madrasah Sawah” berisi kumpulan cerita pendek, dan kisah inspiratif karya siswa yang menggambarkan kehidupan sehari-hari di madrasah, impian mereka, serta pandangan mereka tentang dunia. Sementara itu, “Pena Sang Pendidik Madrasah” menjadi wadah bagi para guru untuk berbagi pengalaman, inspirasi, dan pembelajaran yang penuh makna selama mendidik di madrasah.
Puncak kebahagiaan kami terjadi pada awal Juli 2024, saat kedua buku ini secara resmi diluncurkan oleh Bapak Zulkifli, S.Ag., M.Pd., selaku Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Kabid Penmad) Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh dan di saksikan langsung oleh Kakankemenag Kota Langsa, H. Fadhli S. Ag beserta jajarannya. Acara peluncuran yang bertempat di halaman MTsN 1 Langsa berlangsung dengan khidmat dan penuh kebanggaan. Dalam sambutannya, Bapak Zulkifli memberikan apresiasi yang mendalam atas upaya seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam gerakan literasi ini.
Beliau menekankan pentingnya menumbuhkan budaya menulis di kalangan siswa dan guru, serta menyatakan bahwa karya seperti ini adalah bukti nyata bahwa madrasah mampu bersaing dalam dunia literasi. Sambutan beliau diakhiri dengan pesan motivasi bagi siswa untuk terus berkarya dan menjadikan menulis sebagai bagian dari perjalanan hidup mereka.
Acara ini menjadi momen yang tak terlupakan, bukan hanya bagi saya, tetapi juga bagi siswa, guru, dan seluruh wargaMTsN 1 Langsa. Siswa yang karyanya dimuat di dalam buku terlibat begitu bangga saat nama mereka dipanggil untuk menerima buku dan sertifikat penghargaan.
Para guru juga mendapatkan apresiasi yang luar biasa atas dedikasi mereka dalam mendampingi siswa serta menghasilkan tulisan yang inspiratif.
Saya sangat bersyukur atas pencapaian ini. Di tahun kedua saya mengabdi di MTsN 1 Langsa, saya berhasil memotivasi siswa dan rekan-rekan guru untuk giat menulis. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan penuh pihak madrasah, khususnya Kepala Madrasah, Ibu Cut Nurlisma, S.Pd., yang tidak pernah lelah memberikan dorongan, fasilitas, dan perhatian penuh terhadap setiap inisiatif yang mendukung perkembangan siswa dan guru.
Beliau adalah sosok yang selalu percaya bahwa literasi adalah kunci kemajuan madrasah, dan keyakinan itulah yang menjadi energi bagi kami semua untuk terus bergerak.
Harapan saya, semangat literasi ini terus berlanjut dan menjadi tradisi positif di madrasah tercinta ini. Saya ingin melihat lebih banyak karya yang lahir dari tangan siswa dan guru MTsN 1 Langsa, karya-karya yang tidak hanya mencerminkan kreativitas dan kemampuan menulis, tetapi juga nilai-nilai luhur yang menjadi karakter Madrasah.
Dengan membaca dan menulis, kita tidak hanya membangun generasi yang cerdas, tetapi juga generasi yang mampu memberikan manfaat besar bagi bangsa dan agama.
Mari bersama-sama kita gerakkan literasi di lingkungan sekolah atau madrasah kita. Karena dari sebuah kata, kita bisa menciptakan perubahan besar. Dan perubahan besar itu selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten dan penuh semangat.
Salam Literasi!
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






