Dengarkan Artikel
‘
Oleh Don Zakiyamani
Perubahan sesuatu yang pasti. Entah itu secara cepat (revolusi) maupun alamiah (evolusi). Kepastian itu mengharuskan kita beradaptasi. Dan manusia memang dianugerahi kemampuan beradaptasi, ada yang cepat dan ada pula yang bertahap. Pastinya perubahan akan terus berjalan, kita ikut maupun tidak.
Hari ini dan kemarin maupun yang akan datang, kita terus mengalami perubahan. Secara biologis maupun psikologis. Dunia yang kita tempati, yang setiap hari menerima aroma kentut kita dengan tulus, terus mengalami perubahan. Begitu pula dengan para penghuninya.
Dampaknya, keperluan dan kebutuhan terus mengalami perubahan. Benda-benda harian, mingguan dan bulan maupun tahunan terus berubah. Itulah mengapa inovasi di segala bidang terus terjadi. Inovasi itu kemudian mengharuskan kita berbenah atau akan ditindas zaman.
Majalah POTRET yang lahir di 11 Januari 2003 akhirnya menyadari hal itu. Setelah berkeringat melalui versi cetaknya, akhirnya merespon dengan hadir dalam versi online. Ini bukan akhir yang semanis kita bayangkan. Keringat dan air mata ikut nimbrung dalam perjalanan majalah yang dibidani Tabrani Yunis.
Beliau, boleh penulis gunakan diksi beliau, mengingat kontribusinya terhadap literasi sangat besar. Dedikasi dan motivasi beliau bukan hanya retorika belaka, kehadiran majalah POTRET dan majalah Anak Cerdas adalah bukti nyatanya.
Majalah POTRET yang awalnya lebih fokus pada penulis perempuan, dengan konten yang bicara banyak soal perempuan, kini lebih majemuk. Varian latar belakang penulis bahkan dari luar negeri ikut mencicipi manisnya menulis di majalah POTRET. Itu artinya, majalah POTRET bukan hanya dikonsumsi domestik.
Membaca tulisan-tulisan di majalah POTRET, seolah membaca pikiran tokoh-tokoh dunia yang dipinjam para penulisnya. Mereka mencoba mengaktualisasi pikiran-pikiran Socrates, Plato, Aristoteles, Ghazali, Ibn Sina, Marx, Friedrich Nietzsche, Hamka, Soekarno, Tan Malaka dan segudang tokoh lainnya.
Bukan hanya itu, di majalah POTRET, kita seolah mengunjungi beberapa lokasi wisata dan budaya yang artinya tidak perlu tiket pesawat untuk mengetahui bagaimana karakter masyarakat, maupun keindahan lokasi tersebut. Hal ini disebabkan beberapa penulis luar negeri seolah tour guide wisata dan budaya bagi negerinya.
Kekayaan tak ternilai itu hanya dapat kita rasakan apabila kita sering berwisata bacaan di majalah POTRET. Menginjak 22 tahun, majalah POTRET, memang belum mampu bersaing dengan media-media yang sudah kita kenal. Faktornya, majalah POTRET, kekurangan SDM mumpuni dalam mengelola tekhnis dan konsep.
Beberpa personil dapur literaai majalah POTRET hengkang karena urusan pribadi. Guna mendapatkan personil baru, majalah POTRET harus memiliki anggaran yang cukup. Apalagi kita ketahui bersama, menjaga independensi media bukanlah perkara mudah. Di saat yang sama para personil juga manusia yang memiliki kebutuhan pribadi.
📚 Artikel Terkait
Benar bahwa itu faktor utama kalah bersaingnya majalah POTRET dari media online lainnya. Namun seperti pepatah mengatakan; “kekurangan adalah kelebihan”. Meski tanpa SDM dan pendanaan majalah POTRET terus menginisiasi dan menginspirasi para penulis dan pembaca untuk setia padanya.
Seperti namanya, majalah POTRET telah dan terus memotret peristiwa dari beragam perspektif. Sebuah peristiwa dapat maknai dengan beragam perspektif. Penganut eksistensialisme mazhab Satre, setuju bila kitalah yang memberi makna kehidupan. Kita yang menghidupkan makna setiap peristiwa, meski beberapa menganggapnya sudah takdir.
Pikiran-pikiran tokoh dunia belakangan begitu sering di beranda media sosial kita. Tentu saja ada personal atau kelompok orang yang kembali menghidupkan makna pikiran-pikiran mereka. Hal yang dilakukan para sahabat terhadap ucapan dan tindakan Nabi Muhammad, hal yang dilakukan Plato terhadap Socrates.
Majalah POTRET seolah berbicara pada zaman ini, bahwa kelemahan terbesar adalah menyerah. Majalah POTRET tidak ingin menyerah di tengah keterbatasan, karena keterbatasan adalah bukti adanya yang Maha tidak terbatas (Allah SWT). Dan mengetahui keterɓatasan adalah sikap bijak dan toleransi terhadap perkembangan zaman.
Majalah POTRET barangkali bukan pilihan utama para penulis hebat. Tentu saja para penulis hebat lebih bangga apabila tulisannya dimuat di media daerah dan nasional yang terkenal. Namun bagi majalah POTRET, hal itu bukan masalah besar. Hal itu malah menjadi motivasi bagi redaksi majalah POTRET untuk mengorbitkan para penulis pemula.
Meski kebanyakan penulis pemula yang mengisi ruang majalah POTRET, bukan berarti kualitas majalah itu berkurang. Sebelum purnama hadir, bulan sabit yang menghiasi angkasa. Sebelum mahir semuanya pemula, tidak ada penulis yang langsung mahir.
Majalah POTRET mengikhtiarkan para penulis yang ragu dengan kualitas tulisannya untuk dapat berkontribusi. Majalah POTRET memberi peluang pada semua yang ingin. Tidak ada kelas sosial kata Karl Marx, setiap individu punya hak setara asalkan mau menulis.
Bagi majalah POTRET, gelar akademik dan status sosial bukanlah pertimbangan utama sebuah tulisan dimuat. Keadilan sosial bagi seluruh penulis, setidaknya sudah mengimplentasikan nilai pancasila, terutama sila ke-5.
Namun demikian, di usia 22 tahun, majalah POTRET, harus segera berbenah. Memahami keinginan pembaca dan bertahan dalam bersaing. Inovasi sangat dibutuhkan agar majalah POTRET menjadi ubermensche media di Aceh maupun indonesia.
Nietzsche memberi kriteria khusus agar majalah POTRET menjadi ubermensche. Benar bahwa selama ini majalah POTRET sudah mandiri, namun belum sepenuhnya terlaksana. Nietzsche berpesan, kemandirian bagi sebuah media bertujuan mencapai kebebasan. Kebebasan yang akan melahirkan kreatifitas. Melalui kreatiftas, masih menurut Nietzsche, akan menciptakan majalah POTRET yang berkembang. Memaksimalkan potensi yang ada sehingga akan ada ciri khas bahkan unik dibandingkan media massa lainnya.
Sampai saat ini, majalah POTRET belum unik. Itu artinya majalah POTRET butuh orang-orang kreatif yang mampu memikirkan dan mengeksekusi pikiran itu hingga majalah POTRET dapat menjadi unik.
Keinginan Nietzsche agar majalah POTRET unik tentu saja merupakan tantangan. Kritik Nietzsche itu bertujuan majalah POTRET mampu memahami diri sendiri. Kalau pesan paman Sun Tzu; “Kenali dirimu sendiri, dan kenali pula musuhmu. Niscaya dalam 100 pertempuran akan ada 100 kali kemenangan.” meski Nietzsche dan Sun Tzu tak pernah ngopi bareng, namun keduanya kerap berkorespondensi dalam realitas kehidupan kita.
Majalah POTRET harus memahami medan perang digital. Bukan hanya para pembaca, mereka yang tulus bodoh dan enggan membaca pun harus diajak membaca bahkan menulis. Mereka berhak bodoh dan malas membaca, namun majalah POTRET diberi kewajiban agar mereka tergoda bahkan kecanduan akan majalah POTRET
Tantangan itu harus dianggap sebagai misi suci, sehingga tetap menjaga nilai moralitas. Independensi media harus terjaga agar kehendak berkuasa tidak diracuni. Majalah POTRET harus berkuasa, sehingga mampu mengatur pola pikir pembaca, bahkan media yang sedang diasuh para birokrat dan politisi. Nietzsche ingin majalah POTRET menjadi ubernensche, menjadi imam bagi media lain.
Meski potret majalah POTRET tidak begitu jelas, bahkan subjektif, namun kehendak berkuasa mengharuskan saya menulis. Meski tidak mencapai klimaks, nalar ini mulai berereksi saat kanda Tabrani menyentuh titik vital akal. Tahun tanpa karya adalah tahun kemandulan bagi mereka yang berakal dan bernalar. Selamat milad majalah POTRET, semoga mencapai klimaks cita-cita.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






