POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Janji Menteri pun Tak Mampu Meluluskan Supriani

RedaksiOleh Redaksi
January 10, 2025
Tags: #Kriminalisasi Guru#Nasib Guru
Janji Menteri pun Tak Mampu Meluluskan Supriani
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Di sudut negeri yang terus melafalkan janji, kisah seorang guru bernama Supriyani meneteskan luka pilu. Takdir, entah bersurat entah berselingkuh, menjadikannya simbol derita yang disuguhkan pada piring kemunafikan birokrasi.

Tulisan ini untuk kesekian kalinya tentang Supriani. Belum cukup deritanya dikriminalisasi, lalu dijanjikan lulus PPPK oleh Menteri Abdul Mukti. Ternyata, janji tinggal janji. Sambil ditemani segelas Americano Sambas, yok kita kulik lagi kisah sedih guru honor yang belum keluar dari derita.

Supriyani, perempuan tangguh yang telah mendidik anak bangsa selama 16 tahun di SDN 4 Baito. Tapi apa balasannya? Bukan penghormatan, bukan pula pengakuan. Sebaliknya, hanya tulisan dingin di layar pengumuman, “R3. Non-ASN Terdata. Tidak Lulus.”

Padahal, nama Supriyani telah dibalut dengan janji suci dari sang Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. Ya, janji. Bukankah janji adalah mantra paling ampuh yang kerap dilupakan setelah tujuan tercapai? Menteri itu, dengan segala wewenang dan retorikanya, pernah berkata, “Dia akan diluluskan secara afirmatif.” Namun, realitas berkata lain. Nilainya 478 dari 670. Cukup tinggi, tapi tidak cukup untuk lulus. Begitulah sistem menertawakan perjuangan.

Kepala sekolahnya, Sanaali, bahkan terperanjat mendengar kabar ini. “Bukannya sudah ada komitmen?” tanyanya, polos tapi penuh getir. Siapa yang bisa menjawab? Apakah birokrasi memiliki wajah untuk menjawab? Atau hanya topeng yang berganti-ganti?

Dunia Supriyani seakan runtuh. Setiap malamnya kini dihantui pertanyaan, “Apa salahku?” Tidak cukupkah 16 tahun mengabdi? Tidak cukupkah ia melewati ujian demi ujian? Tidak cukupkah ia mempersiapkan diri di tengah kriminalisasi yang menjeratnya? Kasus tuduhan penganiayaan terhadap muridnya, yang entah benar entah rekayasa, menjadi beban tambahan yang menyesakkan.

📚 Artikel Terkait

BENGKEL OPINI RAKyat

Ayo Mahasiswa, Gunakan Waktu Luang Mu Sebaik Mungkin!

Kala Belantara Bicara

Bencana Ini Diskriminatif

Ironi ini menggantung di udara seperti senja yang kehilangan warna. Menteri pernah berkata, “Kami akan bantu afirmasi.” Tapi, seperti banyak kata yang terucap tanpa makna, janji itu hanyalah angin yang berhembus, lalu lenyap. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pun turut angkat bicara, menyuarakan keadilan untuk Supriyani. Namun, suara mereka seperti bisikan di tengah badai.

Adakah yang peduli? Atau ini hanyalah drama kecil di panggung besar bernama Indonesia? Guru, yang seharusnya menjadi pelita, kini menjadi korban. Supriyani hanya satu dari ribuan kisah serupa. Para pengabdi yang tak pernah dihitung, kecuali ketika kampanye datang mengetuk.

Penguasa berdiri di podium, melontarkan pidato penuh pujian kepada guru-guru. Mereka disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi bukankah pahlawan, setidaknya, layak mendapatkan pengakuan? Supriyani tak meminta banyak. Hanya keadilan. Hanya penghargaan atas dedikasi yang telah ia berikan.

Namun, mungkin memang begini nasib orang kecil. Dalam skema besar kekuasaan, mereka hanyalah pion yang bisa digeser, diabaikan, atau bahkan dikorbankan. Supriyani menangis, tapi tangisnya tenggelam dalam gemuruh tepuk tangan bagi janji-janji yang tak pernah ditepati.

Begitulah, hidup terus berjalan. Bagi Supriyani, harapan adalah candu yang membuatnya tetap berdiri. Bagi kita, mungkin ini hanya berita yang lewat begitu saja. Tapi ingatlah, ketika kita membiarkan satu janji dilanggar, kita membuka jalan untuk seribu kebohongan berikutnya.

#camanewak

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #Kriminalisasi Guru#Nasib Guru
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
22 Tahun Usia Majalah POTRET, Konsisten Kembangkan Budaya Literasi

22 Tahun Usia Majalah POTRET, Konsisten Kembangkan Budaya Literasi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00