Dengarkan Artikel
Oleh: Umi Hanin
Perempuan yang kusebut ibu itu
lincah menanak dan meracik
kepul asap bermuara pada dinding langit
embus angin bersama harapan
melembutkan jantung hati
Racikan ibu bermula dari panci-panci
berisi gulai patin diberi sejumput:
lada hitam, kapulaga, bunga lawang dan
sekerat asam kandis berasa manis
Suatu hari aku menolak ibu
memerciki bumbu dengan si kecil pedas itu
“Hendak belajar darimana kau,
jika semua harus terasa manis dan gurih?”
jawabnya dengan tangan terus menata bekal masa depan
di atas meja kayu sisa pembalakan
📚 Artikel Terkait
Di balik pedasnya lada ada cerita
tentang pelaut yang berlayar jauh mencari surga
begitu pula sebatang kayu manis
tersimpan sejarah tentang niaga antar benua
begitulah ibu bercerita
Itulah ibu
sosok yang selalu setia
sembunyikan remah derita
di balik taplak berenda emas yang cemas
Kini ibu hanya sendiri
menyirami cikal bakal kehidupan
dengan rindu yang tak pernah padam
doanya adalah kompas melintas batas
melibas sekat sengatan matahari
menitip jejak dari balik keriput
Ibu selalu menanti
hangatkan kembali pepes teri
berselimut sereh dan salam kerinduan
sambil sesekali memilah rempah di atas tampah
“Bersyukurlah anak-anakku,
ibu selalu melahirkan dan menyusuimu.
jaga negeri ini! biar tak tergadai gulai tak tumpah di belanga.”
ibu kembali meracik rempah dengan berurai air mata.
Tangerang, 17 September 2024
BIONARASI
Umi Hanin lahir di kota Tangerang dan menetap di kota yang sama. Anak bungsu dari lima bersaudara. Mengawali terjun ke dunia literasi akhir tahun 2021 dengan debut antologi yang pertama berjudul Kisah-kisah Pendemi with Deka Amalia. Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mencoba melebarkan sayap dengan mengikuti Komunitas Menulis Online (KMO) batch 52. Pernah belajar di Asqa Imagination Scholl (AIS) dan Ruang Kata (RK). Penulis bisa dihubungi lewat IG: @UmiHanin49
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






