• Latest
Gaza yang Tak Pernah Padam

Gaza yang Tak Pernah Padam

Januari 9, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Gaza yang Tak Pernah Padam

Gunawan Trihantoroby Gunawan Trihantoro
Januari 9, 2025
Reading Time: 2 mins read
Gaza yang Tak Pernah Padam
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris KEAI Provinsi Jawa Tengah)

Perjuangan menyatukan anak-anak dengan keluarga di Gaza sangat penting. Banyak anak terpisah akibat perang, dan organisasi kemanusiaan berupaya reunifikasi. Proses ini memberikan harapan, rasa aman, serta mengurangi trauma emosional akibat dampak perang yang menghancurkan. [1]
——–

Di tanah Gaza, cerita terus ditulis,
Darah dan air mata membentuk sungai menangis.
Anak-anak terpisah dari dekapan ibu,
Di bawah langit yang penuh debu.

Seorang ibu berlutut di antara puing,
“Di mana kau, anakku? Di mana kau berlindung?”
Hanya angin yang menjawab lirih,
Membawa bisikan, kisah yang pedih.

“Bu, aku di sini, tapi tak terlihat,
Di balik bayang perang yang menggurat.”
Suara itu ada, tapi tiada wujudnya,
Harapan ibu menggema di langit Gaza.

Seperti pecahan kaca yang berserak di jalan,
Keluarga terpisah oleh perang yang kejam.
Rindu menjadi duri dalam dada,
Doa melayang, berharap sebuah asa.

Di tenda pengungsian, seorang anak bertanya,
“Paman, kapan aku pulang ke rumah kita?”
Sang relawan menatap dengan mata berkaca,
“Nak, kita akan pulang, asal kau percaya.”

Langkah-langkah kecil menyusuri lorong,
Di antara reruntuhan yang berisi kenangan kosong.
Di setiap sudut, cinta tetap berbisik,
Menghidupkan harapan yang sempat tercekik.

Seorang ayah berjalan tanpa arah,
Matanya mencari dalam gelap yang resah.
“Adakah kau melihat putraku, kawan?”
“Aku belum, tapi jangan putus harapan.”

Lalu di satu sudut, pelukan itu terjadi,
“Abi!” teriak anak kecil yang berlari.
Air mata menjadi bahasa tanpa suara,
Mereka kembali, setelah lama terpisah.

Namun, banyak yang masih meratap,
Di tenda-tenda, di malam yang gelap.
Anak-anak tanpa nama, tanpa wajah,
Menunggu tangan yang datang menggapai.

“Bu, apakah aku akan bertemu ayah?”
Tanya seorang bocah dengan mata pasrah.
“Iya, sayang, doa kita takkan henti,”
Jawab sang ibu, meski hatinya perih.

Gaza, di mana cinta dan luka bertemu,
Setiap anak adalah cerita yang pilu.
Namun cinta keluarga lebih kuat dari perang,
Menciptakan nyala di tengah bayang.

Pada malam yang dingin, doa mengudara,
“Maha Kuasa, pulangkan anak-anak kita.”
Dan di balik reruntuhan, suara kecil menjawab,
“Aku di sini, Ibu. Aku takkan lenyap.”

Para relawan terus melangkah gigih,
Menyatukan yang tercerai dalam kasih.
Di antara gelap, mereka membawa terang,
Menyalakan kembali mimpi yang hilang.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026

Di Gaza, harapan itu tak pernah padam,
Meski badai datang berkali menghantam.
Anak-anak dan keluarga akan bersua,
Di tanah yang menjanjikan surga tanpa duka.

Dan meski perang mencoba memisahkan,
Rindu dan kasih tak akan pernah pudar.
Gaza, engkau adalah cerita tak terlukiskan,
Tentang cinta yang melawan kehancuran.

ADVERTISEMENT

Rumah Kayu Cepu, 9 Januari 2025

Catatan:
[1] Puisi esai ini terinspirasi dari kisah nyata. Sumber inspirasi dari
https://news.okezone.com/read/2025/01/01/18/3100518/perjuangan-menyatukan-kembali-anakanak-dengan-keluarganya-di-gaza

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Tangis yang Tak Terdengar

The Unheard Cry

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com