POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Digitalisasi

Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI”

Redaksi by Redaksi
Februari 1, 2025
in Digitalisasi
0
Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI” - IMG 20250201 WA0009 | Digitalisasi | Potret Online

Oleh Muhammad Afnizal, S.Sos., M.Sos.

Alumnus Sosiologi USK dan Magister Sosiologi USU, Sekarang Bertugas Sebagai Guru Sosiologi MAN 1 Aceh Timur

Wajah masa depan pendidikan suatu bangsa, sangatlah bergantung dari upaya masyarakat berpartisipasi di dalamnya. Di Indonesia, juga sama. Mengapa demikian, karena apa yang kita semai untuk memperbaiki kualitas pendidikan, itulah hasil yang akan kita petik, juga generasi penerus akan rasakan.

Baca Juga
  • 01
    Artikel
    Teknologi Membawa Nikmat
    03 Feb 2022
  • Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI” - 2025 05 21 07 53 26 | Digitalisasi | Potret Online
    #Kebangkitan Nasional
    Merayakan Kebangkitan Nasional di Era Artificial Intelligence
    21 Mei 2025

Kemunculan ‘Artificial Intelligence’ (AI) alias Kecerdasan buatan, telah membuat perubahan yang sangat besar. Perubahan dimaksud, terjadi dalam berbagai lini kehidupan masyarakat dewasa kini, termasuk pendidikan. Diakui, AI ini banyak sekali membawa menfaat untuk membantu pekerjaan, memudahkan kinerja. Pemanfaatan kecerdasan buatan pun dapat diselewengkan untuk‘menggantikan’ kita supaya terlihat bekerja.

Institut Public de Sondage d’Opinion Secteur (Ipsos), adalah perusahaan riset pasar dan konsultasi multinasional. Pada Mei 2023, mensurvei penilaian optimistis masyarakat dunia terhadap AI. Indonesia memuncaki sebagai negara yang paling setuju, bahwa AI membawa lebih banyak manfaat dibanding kerugian.

Baca Juga
  • Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI” - F5323412 1F4F 41C5 81A3 EF1840BDA63A | Digitalisasi | Potret Online
    Aceh
    Menyiapkan Guru Terampil Mengajar di Era Digital, Tugas Siapa?
    17 Mei 2021
  • Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI” - 2025 07 03 08 10 47 | Digitalisasi | Potret Online
    #Era AI
    The AI Delusion
    03 Jul 2025

Tingkat optimistis masyarakat Indonesia, adalah 78 persen. Diikuti Thailand (74%), Meksiko (73%), Malaysia (69%), dan Peru (67%). Di sisi lain, Amerika Serikat dan Prancis menjadi negara dengan tingkat optimisme paling rendah terhadap AI. Hanya 37% responden yang menilai bahwa kecerdasan buatan justru membawa kebaikan lebih banyak ketimbang kerugian.

Secara usia, generasi Z menjadi kelompok yang paling optimis dengan kebermanfaatan AI secara global pada angka 62 persen. Data tersebut bukan tidak berdasar, analisis dapat diye haklan. Bahwa negara dengan perkembangan teknologi sangat maju, justru menjadi yang paling pesimis terhadap perkembangan kecerdasan buatan. Kelompok usia yang lebihd ewasa, menilai bahwa AI justru dapat lebih merugikan. Dibandingkan dengan kelompok usia gen Z yang umumnya belum terlalu bijak dalam mengambil kesimpulan dan memaknai filosofi hidup.

Baca Juga
  • 01
    AGT
    BELAJAR DARI SUKSESNYA SEORANG PUTRI ARIANI
    25 Jun 2023
  • Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI” - b26136d8 4f94 4636 aeb2 914e420cdd1b | Digitalisasi | Potret Online
    Aceh
    DIGITALISASI KEARIFAN LOKAL, KENAPA TIDAK?
    07 Okt 2024

Beberapa waktu yang lalu, gen Z di Amerika Serikat beramai-ramai beralih dari penggunaan smartphone ke pon selfitur atau hp jadul. Alasan mereka, untuk meminimalisir kecanduan, depresi, serta memaksimalkan interaksi sosial di kehidupan nyata dibanding dunia maya. Kecerdasan buatan dan kecanggihan teknologi, telah membuat banyak negara maju malah menjadi ‘puyeng’ dan mengeluarkan sejumlah kebijakan.

Persinggungan dan benturan antara sisi manusiawi dengan robotik, membuat Pemerintah Jepang menggagas Society 5.0 misalnya. Dengan menitikberatkan perkembangan masyarakat yang berpusat pada manusia. Lebih memanusiawikan manusia. Menyeimbangkan penyelesaian masalah sosial dan kemajuan ekonomi dengan sistem yang saling berinteraksi antara ruang siber dan fisik.

Di negara kita, tahapan revolusi industri diupayakan sukses pada era revolusi Industri 4.0, era digitalisasi dan kecerdasan buatan atau AI. Negara maju seperti Jepang, sudah pada tahapan kegelisahan akibat efek buruk AI. Pemanfaatan yang justru menyisakan sejumlah kerugian dan keguncangan struktur tatanan hidup humanis (Society 5.0).

Ibarat Pisau Bermata Dua

Sama sekali bukan bermaksud skeptis, bahwa AI harus ditinggalkan sama sekali. Justru sebaliknya, kita percaya bahwa AI harus terus dipelajari, dikembangkan dan tumbuh berdampingan dengan masyarakat. Kemunduran masyarakat kita dalam mempelajari AI justru akan membuat negara kita terpuruk, menjadi terbelakang.
Harapannya, guru dan siswa kita sebagai agen aktif dunia pendidikan punya semangat tinggi dalam memanfaatkan AI.

Kenyataannya, banyak contoh pemanfaatan AI justru akan merendahkan sisi moralitas. Guru memanfaatkan AI membuat soal ujian sekejap mata. Bahkan terkadang merenung atau menelaah soal tersebut pun tidak lagi. Ironisnya, guru tersebut malah tidak tahu jawaban dari soal yang diberikan kepada siswa. Tidak bermaksud merendahkan guru, karena saya juga guru. Namun oknum guru semacam ini banyak terdapat di sekolah kita.

Ibarat pepatah, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Siswa akan memanfaatkan AI untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, betapa banyak pekerjaan rumah, ujian, skripsi, tesis, disertasi yang bisa diselesaikan dengan bantuan AI, copi paste, dan plagiat. Siswa yang dibelikan gawai, awalnya alasan belajar, mengakses kecanggihan teknologi danAI. Faktanya malah semakin candu dengan game online dan-drama Korea. Guru yang seharusnya memanfaatkan AI dengan smartphone mereka ketika mengakses Wi-Fi sekolah.

Untuk memudahkan mereka mengajar, mendidik putra putri bangsa.Membawa arah pendidikan kepada ranah yang lebih baik.Kenyataannya, justru sibuk menyebarkan hoaks baik disengaja, maupun tidak. Menonton YouTube untuk membela/mencaci capres tertentu, menyaksikan joget di tiktok. Serta beragam aplikasi minim faidah lainnya pada jam kerja di sekolah.

Islam adalah agama yang sangat menghargai ilmu pengetahuan. Kehadiran AI yang memudahkan sejumlah Pekerjaan tidaklah ditolak, diterima namun dengan catatan tetap dalam koridor kepantasan dan kebenaran. Yang dilarang, justru segala bentuk kecurangan, manipulatif, dan upaya merugikan diri sendiri dan orang lain dalam memanfaatkan AI.

Kecerdasan buatan sangat perlu dipelajari. Sebagaii lustrasi, perang di dunia saat ini bukan lagi menitikberatkanpada perang gerilya, bersembunyi di hutan. Melainkan perang teknologi dan kecanggihan AI. Robotik, nuklir dan kecanggihan satelit militer. Rakyat kita, bangsa kita bisa diluluhlantakkan hanya sekali ‘pencet’ tombol nuklir dari jarak jauh.

Negara mayoritas penduduk muslim banyak yang menjadi korban perang, salah satu penyebabnya adalah penguasaan teknologi dan kecerdasan buatan rendah. Demikian juga pendidikan, banyak yang terbelakang akibat tidak cakap dalam menguasai teknologi yang berisi Kecerdasan buatan di dalamnya.

Instan dan Keberkahan

Memanfaatkan AI, sejatinya tidak cukup juga pada ranah‘asal’ untuk keperluan pembelajaran. Guru dan siswa, memikul tanggung jawab besar dalam menggapai keberkahan ilmu pengetahuan. Bukan sekadar melaksanakan tanggungjawab mengajar dan belajar. Ilmu yang bermanfaat bukan sekadar dibagikan dan dihafalkan, namun yang menjadi berkah bagi pemiliknya. Instan dengan AI harus diwaspadai,jika malah mengurangi makna pembelajaran itu sendiri.

Sebagai contoh, sekelas Imam Bukhari saja menulis shahih, Bukharinya hingga 16 tahun lamanya. Beliau setiap akan menulis sebuah hadist di dalamnya melalui proses berwudhu, shalat istikharah dan berkontemplasi untuk merenung dan memastikan keshahihan haditsnya. Cuplikan kisah tersebut bukan hanya terjadi pada diri Imam Bukhari, namun juga terjadi pada diri kebanyakan ulama lainnya dalam menulis kitab mereka. Hasilnya, keberkahan dan kebermanfaatan terasa hingga ratusan tahun lamanya.

Maunya kita instan, mudah, hingga celakanya kalau bisa tidak bekerja lagi biar AI yang menyelesaikan semua pekerjaan kita. Tidak ada proses isntan yang baik, terlebih untuk proses pembelajaran yang kompleks serta mencari nilai keberkahan di dalamnya. Guru banyak memanfaatkan AI, namun ruh pembelajaran telah terkikis.
Zaman dulu menulis di atas batu, dengan menggunakan sabat dan grip. Segera setelah ditulis, terhafal, terekam, di ingatan.

Buku zaman dulu nyatanya terasa lebih banyak dijadikan rujukan hingga sekarang ini dalam berbagai kajian literatur. Zaman kini, buku dan tulisan ilmiah yang dibuat dengan AI, bertumpuk di perpustakaan dan seolah hilang berkahnya. Harapan kita, AI dipelajari oleh guru dan siswa.Beriringan dengan bertumbuhnya budi luhur pada diri guru dan siswa.

Previous Post

Dewi Sartika: Lentera Priangan yang Tak Padam

Next Post

Sambut Usia 28 Tahun, Kuflet Roadshow Kunjungi 11 Kota di Provinsi Aceh

Next Post

Sambut Usia 28 Tahun, Kuflet Roadshow Kunjungi 11 Kota di Provinsi Aceh

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah