• Latest
Monolog, “Suara Perempuan dari Lampadang”

**Monolog Mata Ie: Surat Cinta yang Tak Pernah Usai**

Januari 5, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

**Monolog Mata Ie: Surat Cinta yang Tak Pernah Usai**

LK.Araby LK.Ara
Januari 5, 2025
Reading Time: 2 mins read
Tags: #Puisi
Monolog, “Suara Perempuan dari Lampadang”
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Puisi LK.Ara 

(Aktor berdiri di tengah panggung, menghadap ke arah penonton. Cahaya lembut menerangi, suara gemericik air terdengar di latar belakang. Dia menarik napas dalam, seolah mencium udara pagi yang segar.)

Ah… udara ini. Udara pagi Mata Ie.
Pernahkah kalian rasakan kehadirannya?
Lembut, menyelinap tanpa suara,
menggenggam hati seperti surat cinta tanpa tinta.

Aku berdiri di sini,
di tempat yang dulu disinggahi megahnya sejarah.
Bayangkan, Sultan Iskandar Muda berjalan di antara pepohonan ini.
Langkahnya…
Gagah, seperti arus deras yang tak terbendung,
dan di sisinya, Puteri Pahang,
anggun, bagai mawar yang mekar tanpa luka.

(Langkah kecil diambil, tangan terulur seolah menyentuh ranting.)

Kalian tahu?
Pohon-pohon ini pernah tunduk padanya.
Bukan karena takut,
tapi karena cinta.
Ya, cinta.
Cinta seorang pemimpin yang merawat alam,
bukan menguasainya.

Dia berbicara pada gunung,
berbisik pada angin,
“Engkaulah jiwa negeri ini.
Aku berjanji, tidak akan ada luka di tubuhmu
selama aku bernafas.”

(Kepala tertunduk sejenak, suara melembut.)

Dan kini…
Apakah kita masih mendengar bisikan itu?
Apakah janji itu masih hidup?

(Langkah kecil lagi, kini pandangan tertuju pada penonton.)

Lihatlah air ini,
mata air yang pernah menyegarkan jiwa raja.
Ia tak pernah meminta apa-apa,
hanya ingin terus mengalir,
membawa sejuk,
menyampaikan kisah.

(Langkah semakin mendekat, kini berbicara penuh emosi.)

Tapi kita? Kita yang seharusnya menjaga?
Apakah kita lupa akan cinta itu?
Surat cinta dari alam…
dari ranting, daun, dan udara.

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026

(Menatap tajam, lalu perlahan melembut.)

Mata Ie berbicara kepada kita hari ini,
seperti kepada Sultan di masa lalu.
Ia berkata,
“Jangan biarkan aku terdiam.
Jangan biarkan aku menangis.
Ingatlah, aku adalah surat cinta,
bukan luka.”

(Langkah mundur perlahan, pandangan teralihkan ke langit.)

Dan aku…
Aku hanya saksi.
Hanya suara dari masa lalu,
mengulang cerita agar tak dilupakan.

(Menunduk, mengangkat tangan seolah menyerahkan sesuatu kepada penonton.)

ADVERTISEMENT

Surat cinta ini,
kubawa untukmu.
Jangan biarkan ia hilang.

(Cahaya perlahan meredup, gemericik air semakin keras, dan panggung gelap.)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Tukin Dosen, Sebuah Saga Nomenklatur

Tukin Dosen, Sebuah Saga Nomenklatur

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com