POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Monolog, “Suara Perempuan dari Lampadang”

RedaksiOleh Redaksi
January 4, 2025
Monolog, “Suara Perempuan dari Lampadang”
🔊

Dengarkan Artikel

L K Ara

*(Seorang Perempuan berdiri di tengah panggung, mengenakan pakaian tradisional Aceh. Di tangannya tergenggam rencong kecil. Wajahnya penuh keteguhan. Ia berbicara dengan nada pelan, tapi penuh keyakinan.)*

**Perempuan**
Aku hanyalah seorang perempuan dari Lampadang.
Tidak ada yang istimewa dalam hidupku—
Sejak kecil, aku hanya mengenal sawah, sungai, dan masjid di ujung kampung.
Namun, ada satu yang aku pelajari dari ayahku:
Jika kau membiarkan kehormatan diinjak,
kau kehilangan segalanya.

*(Ia menatap rencong di tangannya, lalu menghela napas panjang.)*

Hari itu, aku melihatnya sendiri.
Langit yang cerah tiba-tiba memerah.
Asap hitam melingkupi udara.
Masjid kita—Baiturrahman—terbakar.
Rumah Tuhan kita, diinjak oleh mereka yang mengaku penguasa.
Dan aku bertanya pada diriku sendiri:
Apakah ini saatnya diam?
Apakah aku hanya seorang perempuan yang tak berdaya?

*(Ia berjalan perlahan, matanya menatap jauh seolah mengingat kejadian itu.)*

Aku memanggil saudara-saudaraku.
“Lihatlah ini!” kataku pada mereka.
“Apakah kita akan membiarkan tanah kita dicemari?
Apakah kita akan membiarkan api membakar iman kita?”
Mereka mendengarkan.
Mereka mengerti.
Dan bersama-sama, kami bangkit.

📚 Artikel Terkait

Senyuman Bu Khadijah di Blangpadang dan Cahaya Kehidupan

Ayyash di Bawah Langit Terluka

Moral yang Ikut Terguling

Terulang Rindu Bagimu Die

*(Ia menggenggam rencongnya dengan erat, suaranya semakin lantang.)*

Aku tidak peduli siapa diriku.
Aku tidak peduli apakah aku seorang perempuan
Aku tahu satu hal:
Tanah ini milik kita.
Dan kehormatan ini adalah harga diri kita.

*(Ia berhenti sejenak, pandangannya beralih ke penonton, penuh emosi.)*

Aku melihat Kohler jatuh.
Ya, ia jatuh di atas tanah yang ia injak dengan congkak.
Namun, tahukah kalian?
Kemenangan itu hanyalah awal.
Aku tahu esok akan lebih berat.
Mereka akan datang lagi,
Dengan lebih banyak pasukan, lebih banyak senjata.
Tapi aku tak takut.
Karena aku percaya—
Selama iman ini tetap ada di hati kami,
Tidak ada penjajah yang bisa menghancurkan kami.

*(Ia mengangkat rencongnya tinggi-tinggi, lalu berbicara dengan penuh tekad.)*

Aku adalah suara dari Lampadang.
Aku adalah bara yang takkan padam.
Dan selama bumi ini berputar,
Aku akan terus berjuang.

*(Cahaya panggung mulai meredup. Perempuan itu berdiri tegak, wajahnya tetap tegas, sebelum lampu benar-benar padam.)*

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kisah Bocornya Ban dan Heroisme Tersembunyi

Kisah Bocornya Ban dan Heroisme Tersembunyi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00