Dengarkan Artikel
Oleh Nurbadriyah
Pengawas SMA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten,
Ketua umum Perkumpulan Penulis Motivator Nasional
Pak Adnan adalah seorang pengawas sekolah yang selalu dikenal sebagai “sang lebah.” Julukan ini bukan tanpa alasan. Seperti seekor lebah, ia memiliki sikap positif, produktif, dan selalu fokus pada kebaikan dalam setiap tantangan yang dihadapinya.
Ketika Permenpanrb- Nomor 21 Tahun 2024 muncul, yang mengatur perubahan istilah pengawas menjadi pendamping satuan pendidikan, banyak yang bingung dan khawatir. Namun, Pak Adnan justru melihat ini sebagai peluang emas.
“Perubahan ini bukan penghapusan peran, melainkan peningkatan tanggung jawab kita untuk lebih dekat dengan sekolah,” katanya dengan senyum optimis kepada rekan-rekannya.
Ia segera mempelajari aturan baru itu dengan seksama. Ia hadir dalam berbagai pelatihan, berdiskusi dengan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan, serta menggali pandangan dari komunitas pendidikan setempat. Bagi Pak Adnan, setiap perubahan adalah kesempatan untuk belajar dan berkontribusi lebih baik.
“Apapun perubahan kurikulum, peraturan, atau kebijakan, yakinlah Allah akan memberikan banyak kemudahan dan keberkahan rezeki bagi orang-orang yang selalu fokus pada pekerjaan dan tugasnya. Mereka yang mengutamakan kerja sama dalam hal kebaikan, menjadi produktif, dan melakukan setiap hal dengan berkualitas akan melihat dampaknya—tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain, keluarga, dan masyarakat,” sering ia sampaikan kepada rekan-rekannya.
Kolaborasi dan Kompetensi
Pak Adnan dikenal sebagai pribadi yang rajin meningkatkan kompetensi dirinya. Ia sering menghadiri seminar, membaca buku-buku terbaru tentang pendidikan, dan berdiskusi dengan para pakar. Tidak hanya itu, ia juga membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari Dinas Pendidikan, LSM, hingga organisasi guru.
“Kolaborasi adalah kunci,” katanya. “Ketika kita bekerja sama, kita tidak hanya tumbuh secara pribadi, tetapi juga dapat membantu orang lain untuk berkembang.”
📚 Artikel Terkait
Ia juga sering mengingatkan rekan-rekannya, “Seseorang yang berhenti belajar, berhenti tumbuh. Jika kita ingin mendidik generasi terbaik, kita harus menjadi pendidik yang terus belajar.”
Hasil dari dedikasi Pak Adnan terlihat nyata. Sekolah-sekolah yang ia dampingi menunjukkan peningkatan signifikan dalam mutu pendidikan. Guru-guru lebih percaya diri dalam mengimplementasikan kurikulum baru, siswa lebih kreatif dan kritis, serta nilai-nilai karakter seperti kejujuran, disiplin, dan kerja keras mulai tumbuh di lingkungan sekolah.
Menginspirasi Generasi Berdaya Saing Global
Pak Adnan tidak hanya membimbing sekolah untuk berprestasi, tetapi juga mendorong mereka menghasilkan siswa-siswa yang berdaya saing global. Ia memotivasi guru untuk mengintegrasikan pembelajaran berbasis teknologi, mengajarkan nilai-nilai moral, dan membangun kompetensi abad ke-21 pada siswa.
Di sisi lain, ada Pak Beni, seorang pengawas yang sering disebut sebagai “si lalat.” Pak Beni selalu skeptis terhadap perubahan. Setiap ada aturan baru, ia hanya mengeluh, menganggapnya sebagai beban, dan sering kali menuduh pemerintah tidak memahami kondisi lapangan.
“Ini semua cuma teori!” protesnya dalam sebuah pertemuan. “Kita sudah terlalu sibuk, kenapa harus ditambah dengan hal-hal yang tidak jelas manfaatnya?”
Pak Beni jarang meningkatkan kompetensinya. Ia merasa sudah tahu segalanya dan menolak masukan dari rekan-rekannya. Akibatnya, sekolah-sekolah yang ia awasi stagnan, bahkan beberapa menunjukkan penurunan mutu. Guru-guru merasa tidak mendapat dukungan, dan siswa-siswa kehilangan motivasi untuk berprestasi.
Pelajaran dari Sang Lebah
Pak Adnan menunjukkan bahwa menjadi seorang pendamping pendidikan berarti menjadi teladan. Sikap positif, kolaborasi, dan pembelajaran sepanjang hayat adalah kunci suksesnya. Ia percaya bahwa pendidikan adalah kerja bersama, dan setiap individu di dalamnya memiliki potensi besar untuk berkembang.
“Jika ingin dunia berubah menjadi lebih baik,” kata Pak Adnan suatu hari, “kita harus memulainya dari diri sendiri. Kita tidak bisa mengubah angin, tetapi kita bisa menyesuaikan layar kita untuk tetap melaju.”
Ia juga menegaskan, “Jangan pernah takut akan perubahan. Dalam setiap perubahan, ada peluang untuk menjadi lebih baik, asalkan kita mau beradaptasi dan terus bergerak maju.”
Pada akhirnya, pengawas seperti Pak Adnan bukan hanya berilmu dan kompeten untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menjadi inspirasi bagi orang lain. Ia membantu menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan kompetensi yang mampu bersaing di tingkat global.
“Kunci keberhasilan bukan hanya kerja keras, tetapi juga kerja bersama. Dan ingatlah, apa pun yang kita lakukan dengan ikhlas, Allah pasti akan memberikan keberkahan yang melimpah.”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






