Dengarkan Artikel
Oleh:Sabariati Diva Mulyana
Mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
Pada tanggal 1 Desember 2024, penulis mengamati pengamatan langsung di Pasar Almahira Lamdingin, Banda Aceh, untuk memahami kondisi dan latarbelakang kehidupan seorang pengemis. Pengamatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan lebih dalam mengenai tantangan yang dihadapi oleh individu penyandang disabilitas, serta untuk menggali faktor-faktor sosial dan ekonomi yang mempengaruhi kehidupan mereka.
Pengemis yang diamati adalah seorang lelaki berusia sekitar 67 tahun, penyandang disabilitas yang kehilangan kedua tangannya akibat kecelakaan kerja. Beliau dulunya bekerja sebagai kuli bangunan, di mana sebuah insiden tragis menyebabkan tangannya terjepit dan harus diamputasi. Selain itu, beliau juga menderita penyakit diabetes yang semakin memperburuk kondisinya.
Dalam wawancara, bapak tersebut menjelaskan bahwa mengemis adalah satu-satunya pilihan yang tersisa baginya. Dengan kondisi fisik yang sangat terbatas, beliau tidak dapat melakukan pekerjaan lain. “Saya tidak punya tangan, tidak ada pekerjaan lain yang bisa saya lakukan,” ungkapnya dengan nada penuh harapan, meskipun terpaksa menjalani kehidupan sebagai pengemis.
📚 Artikel Terkait
Meskipun dalam keadaan sulit, bapak tersebut menunjukkan usaha untuk menjaga penampilannya. Ia mengenakan pakaian yang relatif rapi dan bersih, mencerminkan rasa hormat terhadap dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Ia membawa sebuah kotak kecil untuk mengumpulkan sumbangan dari para pengunjung pasar dan pemilik toko. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun hidup dalam keterbatasan, ia tetap berusaha untuk tampil baik di hadapan orang lain.
Kisah bapak ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi oleh banyak penyandang disabilitas di Indonesia, khususnya di Banda Aceh. Masyarakat seringkali kurang memahami kondisi mereka dan stigma negatif terhadap penyandang disabilitas masih ada. Keterbatasan akses terhadap pekerjaan yang layak membuat banyak dari mereka terpaksa mengandalkan cara-cara seperti mengemis untuk bertahan hidup.
Kondisi seperti ini menuntut perhatian dari pemerintah dan masyarakat luas. Dukungan dalam bentuk pelatihan keterampilan, aksesibilitas terhadap lapangan pekerjaan, serta program-program sosial dapat membantu meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas. Kesadaran masyarakat juga perlu ditingkatkan agar lebih empatik terhadap kondisi mereka.
Kondisi pengemis penyandang disabilitas di Banda Aceh mencerminkan tantangan sosial yang kompleks. Keterbatasan akses terhadap pekerjaan dan stigma negatif dari masyarakat menjadi dua faktor utama yang memperburuk situasi mereka. Pengamatan menunjukkan bahwa meskipun ada upaya dari Dinas Sosial untuk memberikan bantuan dan rehabilitasi, banyak penyandang disabilitas masih terpaksa mengandalkan mengemis sebagai sumber penghidupan. Peran masyarakat dalam memberikan dukungan dan pemahaman terhadap kondisi mereka sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan empatik.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






