Dengarkan Artikel
Oleh Ahmad Rochied
Mahasiswa semester 5, Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh
Di tengah keramaian dan kesibukan kota Banda Aceh, semakin seeing ditemukan masalah sosialyang seharusnya tidak terjadi. Maraknya aktivitas para pengemis menghiasi setiap sudut sudut kota, di jalan-jalan, persimpangan lampu lalu lintas, Dan tempat-tempat keramaian lain seperti kawasan kuliner dan Wisata di kota Banda Aceh.
Entah apakah sebab semakin sering kehadiran pengemis di kota ini. Beragam orang dan cara yang mereka lakukan. Perlu ada survey atau bahkan penelitian yang mendalam untuk mengkaji dan melihat dengan jelas Hal ini, agar tidak menimbulkan masalah baru yang bisa jadi mengganggu kondisi kota.
Selama ini, yang sering kita dengar, ada sejumlah faktor yang menyebabkan hal itu semakin jelas kita saksikan kehadiran para pengemis tersebut. Salah satu faktor internal yang sering ditemui adalah kondisi kesehatan. banyak pengemis yang memiliki masalah fisik atau mental yang menghambat kemampuan mereka untuk bekerja. Selain itu, keterbatasan pendidikan juga menjadi penyebab utama mengapa seseorang kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak, yang akhirnya membuat mereka terpaksa mengandalkan mengemis sebagai sumber penghidupan.
Kehilangan anggota keluarga juga menjadi salah satu penyebab yang mendorong seseorang untuk mengemis, seperti yang dialami oleh seorang wanita tua bernama Bu Ani. Berusia sekitar 60 tahun, Bu Ani kehilangan suaminya pada masa konflik GAM yang terjadi beberapa tahun silam di Aceh, dan hingga kini, ia belum menerima kabar apapun mengenai keberadaan suaminya. Saat ini, Bu Ani tinggal bersama anaknya yang mengidap down syndrome, mereka tinggal di daerah Lhong Raya dan demi menghidupi dirinya serta anaknya, ia memutuskan untuk mengemis sebagai sumber penghasilan. Ia mengemis di sekitaran pasar Aceh dan juga Darussalam.
📚 Artikel Terkait
Faktor eksternal, seperti terbatasnya lapangan pekerjaan atau tidak tersedianya pekerjaan yang layak, juga menjadi salah satu penyebab seseorang memilih untuk mengemis. Bu Ani mengaku sempat mencoba mencari pekerjaan sebagai asisten rumah tangga dan tukang cuci, namun ia ditolak karena keterbatasanfisik yang dimilikinya. Cacat fisik yang dialami adalah cacatfisik pada bagian kaki, sehingga Bu Ani kesulitan melakukanpekerjaan fisik.
Ia mengaku bahwa mengemis menjadi pilihan karena dirasa lebih mudah dan dapat menghasilkan uang yang lebih banyak. Meskipun demikian, mengemis jelas bukanlah cara yang tepat untuk memperoleh penghasilan.
Memberikan uang kepada mereka yang meminta di jalan justru dapat memperkuat ketergantungan mereka pada pemberian tersebut, dan tidak memberikan kesempatan untuk berkembang. Sebaliknya, dengan tidak memberikan uang, kita membantu mereka untuk tidak bergantung pada belas kasihan orang lain, melainkan memberi peluang untuk mencari penghasilan yang lebih baik dan lebih layak.
Meskipun niat untuk membantu dengan memberi uang datang dari rasa empati, cara ini kadang justru memperburuk keadaan, karena membuat mereka untuk terus bergantung pada cara-cara yang tidak produktif. Cara lain menyikapi pengemis agar tidak bergantungan mencari uang dengan meminta-minta adalah memotivasi mereka agar mereka tahu, meminta-minta atau mengemis merupakan hal yang salah, selain itu kita dapat memberikan support atau bantuan seperti memberikan informasi tentang Lembaga sosial yang dapat membantu mereka.
Masalah pengemis di jalanan merupakan persoalan sosial yang kompleks. Pemerintah harus mempunyai perhatian serius dalam permasalahan ini. Langkah dan cara yang dapat diambil oleh pemerintah adalah dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih inklusif, yang tidak hanya terbuka bagi mereka yang tidak memiliki keterbatasan, tetapi juga bagi mereka yang memiliki disabilitas atau keterbatasan fisik dan mental. Sekarang ini, banyak orang dengan disabilitas yang kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, meskipun mereka memiliki potensi dan kemampuan yang tidak kalah dengan individu lainnya. Pemerintah dapat memberikan dukungan dalam bentuk kebijakan yang lebih mendukung disabilitas, contohnhya seperti insentif bagi perusahaan yang membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas.
Pemerintah juga dapat berkolaborasi dengan lembaga-lembaga sosial yang memiliki kapasitas untuk merehabilitasi pengemis. Lembaga-lembaga sosial ini memiliki pengalaman dalam membantu individu maupun sekelompok orang yang terjebak dalam kemiskinan atau kecanduan, dan dapat memberikan pelatihan keterampilan serta pendidikan yang dibutuhkan agar mereka dapat mandiri.
Harapannya, melalui upaya-upaya tersebut, jumlah pengemis akan belrkurang secara signifikan, sekaligus turut menurunkan tingkat kemiskinan yang menjadi salah satu akar penyebab munculnya masalah sosial ini.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






