POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mati Rasa 20 Tahun Tsunami Aceh di Benak Generasi Alpha

Muhammad KharaziOleh Muhammad Kharazi
December 26, 2024
Tags: #20 Tahun Tsunami Aceh#Generasi Alpha
Om Bus-Syaikh Fadil: Pahlawan atau Pengumbar Janji?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Tgk. Muhammad Kharazi, M. Ag

 

Hari ini, tepatnya 26 Desember 2024, masyarakat Aceh memperingati 20 tahun tragedi tsunami yang dahsyat. Dua dekade telah berlalu sejak gelombang tsunami dahsyat menghantam pesisir Aceh pada 26 Desember 2004. Peristiwa yang merenggut ratusan ribu nyawa itu menyisakan trauma mendalam bagi generasi yang menyaksikannya secara langsung. Namun, bagaimana dengan generasi yang lahir atau tumbuh setelah bencana itu? Bagaimana memori kolektif tentang tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah Indonesia ini terpelihara di benak Generasi Alpha, yang kini mendominasi populasi muda di Aceh?

Generasi Alpha, yang lahir antara awal 2010-an hingga sekarang, tumbuh dalam era digital dengan akses informasi yang nyaris tanpa batas. Mereka tidak mengalami langsung terjangan tsunami, tetapi hanya mendengar kisahnya dari orang tua, guru, atau melihat rekaman video dan foto yang beredar di media sosial.

Sayangnya, informasi ini sering kali menjadi fragmen-fragmen tanpa kedalaman emosional yang cukup untuk menggugah kesadaran dan rasa empati. Bagi sebagian besar dari mereka, tsunami adalah sekadar peristiwa sejarah yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini menggambarkan apa yang disebut sebagai “mati rasa kolektif.” Dalam konteks ini, mati rasa bukan sekadar ketidakpedulian, tetapi juga hilangnya sensitivitas terhadap nilai-nilai historis, moral, dan spiritual yang seharusnya diwariskan oleh generasi sebelumnya. Dalam masyarakat Aceh, yang dikenal dengan identitas keislamannya yang kuat, hal ini mengkhawatirkan karena memori tsunami semestinya menjadi pelajaran teologis yang mendalam.

Tsunami sebagai Peringatan Teologis

Dalam Islam, bencana alam sering dipahami sebagai bentuk ujian atau peringatan dari Allah SWT. Tsunami Aceh, dengan segala kedahsyatannya, seharusnya menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama. Ulama-ulama Aceh pasca-tsunami kerap menyampaikan bahwa tragedi ini adalah bentuk teguran agar umat manusia kembali kepada nilai-nilai agama, memperbaiki akhlak, dan menjauhi perbuatan maksiat.

Namun, pesan-pesan ini tampaknya semakin memudar dalam arus modernitas yang melanda Generasi Alpha. Kurangnya pemahaman akan makna spiritual dari bencana ini terlihat dari degradasi moral yang makin nyata, seperti meningkatnya kasus kriminalitas di kalangan remaja. Salah satu contoh mencolok adalah kasus pembegalan yang akhir-akhir ini marak di Aceh Utara. Pelakunya, ironisnya, adalah anak-anak muda yang lahir setelah tsunami.

 

📚 Artikel Terkait

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Kuda-Tunggangan dan Macan-Sirkus

Hutan Kota

JANGAN PICIK MENGHUJAT STATISTIK

Perilaku seperti ini mencerminkan hilangnya nilai-nilai akhlak yang dulu menjadi ciri khas masyarakat Aceh. Generasi Alpha di Aceh, meski tumbuh dalam lingkungan yang masih kental dengan syariat Islam, tampaknya mengalami krisis identitas yang serius. Mereka terombang-ambing antara budaya lokal yang sarat nilai religius dan pengaruh budaya global yang cenderung hedonis.

Peran Orang Tua dan Pendidikan

Kemunduran moral Generasi Alpha di Aceh tidak sepenuhnya salah mereka. Ada faktor lain yang turut andil, salah satunya adalah minimnya peran orang tua dalam membangun kesadaran sejarah dan spiritual anak-anak mereka. Banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau terlena dengan kenyamanan hidup pasca-rekonstruksi Aceh, sehingga lupa menanamkan nilai-nilai agama dan kearifan lokal kepada generasi penerus.

Selain itu, sistem pendidikan formal di Aceh juga perlu dievaluasi. Sejauh mana kurikulum sekolah mampu mengintegrasikan pelajaran sejarah lokal dengan nilai-nilai moral dan spiritual? Apakah pembelajaran tentang tsunami hanya sebatas fakta-fakta kronologis, tanpa menyentuh makna teologisnya?

Jika ya, maka tidak mengherankan jika Generasi Alpha tumbuh dengan pemahaman yang dangkal tentang tragedi ini.

Menyalakan Kembali Memori Kolektif

Untuk mengatasi masalah ini, masyarakat Aceh perlu menyusun strategi untuk menyalakan kembali memori kolektif tentang tsunami, terutama di kalangan Generasi Alpha. Salah satu caranya adalah dengan menghidupkan tradisi zikir bersama atau pengajian yang mengingatkan mereka akan pentingnya hubungan dengan Allah SWT. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat ikatan spiritual, tetapi juga membangun solidaritas sosial.

Selain itu, pemanfaatan teknologi digital juga bisa menjadi solusi. Media sosial, yang sangat dekat dengan kehidupan Generasi Alpha, dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan konten edukatif dan inspiratif tentang tsunami. Misalnya, membuat video dokumenter pendek, infografis, atau podcast yang mengisahkan pengalaman para penyintas dan hikmah yang mereka petik dari tragedi tersebut.

Harapan untuk Masa Depan

Generasi Alpha adalah masa depan Aceh. Jika mereka dibiarkan terjebak dalam apatisme dan degradasi moral, maka mimpi Aceh untuk bangkit sebagai daerah yang religius dan bermartabat akan sulit terwujud. Oleh karena itu, semua pihak—orang tua, pendidik, ulama, dan pemerintah—perlu bekerja sama untuk membangun kembali kesadaran sejarah dan spiritual mereka.

 

Tsunami Aceh bukan sekadar bencana alam, tetapi juga peristiwa yang sarat pelajaran. Jika Generasi Alpha mampu memahami makna mendalam dari tragedi ini, maka mereka tidak hanya akan menghormati warisan sejarah, tetapi juga menjadi generasi yang tangguh, berakhlak mulia, dan beriman kuat. Pada akhirnya, memori tsunami bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga membangun masa depan yang lebih baik.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #20 Tahun Tsunami Aceh#Generasi Alpha
Muhammad Kharazi

Muhammad Kharazi

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Harapan Besar Sri Eko Sriyanto Galgendu Kepada Presiden Terpilih Prabowo Subianto Dapat Segera Memulihkan Ekonomi Indonesia Yang Terpuruk

Kabinet Merah Putih Yang Gemuk

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00