Dengarkan Artikel
Oleh : Nura Avadatis Sulha Hassan
Aku Nura, seorang gadis berusia 17 tahun, sekarang duduk di kelas XII jurusan Tata Boga di SMKN 3 Pariwisata Banda Aceh. Dilihat dari usiaku, aku lahir tiga tahun setelah kejadian Tsunami yang terjadi pada Desember 2004 silam. Meskipun demikian setelah aku beranjak sedikit besar, orang tuaku, nenekku dan Nek Mi selalu bercerita tentang kejadian tersebut.
Memang tragedi besar yang terjadi 20 tahun silam itu tidak merenggut nyawa dari pihak sebelah ibuku karena mereka tinggal di Montasik, sebuah kecamatan di Aceh Besar dengan jarak tempuh sekitar 30 menit dari pusat kota Banda Aceh dan kawasan tersebut letakknya jauh dari pesisir pantai.
Namun demikian, dari sebelah ayahku ada satu keluarga kandungnya yang terkena bencana tersebut, karena mereka tinggal di daerah Blang Oi, kecamatan Meuraxa yang hanya berjarak 1 km dari pesisir Pantai Ulee Lheu.
Dari semenjak kecil, baik Abu, panggilanku untuk ayah, maupun Nek Nyak sering mengulang-ulang cerita tentang keluarga pamanku yang hilang tersebut. Memori itu membuat peristiwa Tsunami terdengar akrab bagiku. Selain itu, abu sering bercerita bahwa ketika sedang mencari paman dan keluarganya, abu tiba-tiba bertemu dengan sekelompok anggota NGO (Non Government Organization) yang bekerja pada radio BBC.
Mereka mengajak Abu untuk bergabung dengan mereka memberitakan tentang bencana dahsyat yang memporak-porandakan Nanggroe Aceh tersebut. Kata Abuku, bayaran bekerja di BBC sangat besar, 100 dolar sehari. Jika dikalikan dengan rate pada saat itu, artinya gaji tersebut berjumlah 1000.000 rupiah perhari.
Suatu siang setelah bekerja selama tiga hari dengan BBC, Abu bertemu dengan anggota NGO lain. Kata Abu nama mereka adalah Red Cross, dalam Bahasa Indonesia kita sebut Palang Merah. Salah satu anggota Red Cross tersebut duduk dan mengobrol dengan ayahku dan mengajaknya ke Meulaboh melihat kondisi di sana dengan helikopter pribadi perusahaan mereka. Abuku bimbang, karena sudah bekerja dengan BBC dan mendapat bayaran besar, dua kali bahkan mungkin tiga kali lipat jika dibandingkan dengan honor yang ditawarkan oleh organisasi non profit tersebut.
Namun perkataan kawan barunya menyentak alam bawah sadarnya, “Jangan mencari keuntungan dalam musibah saudara-saudaramu.” Mendengar itu, abu mengambil ranselnya dan berpamitan dengan anggota BBC, langsung terbang ke Meulaboh membawa berlembar-lembar selimut dan beberapa karung ransum yang akan mereka bagikan untuk saudara-saudara yang berada di wilayah barat sana.
📚 Artikel Terkait
Sepulang dari sana, abu sudah menjadi staf tetap di IFRC (International Red Cross and Red Cressent). Abu mengenal banyak orang hebat di organisasi tersebut seperti Sir Landon dari Inggris, Sir Paul dari Eropa Barat, Madam Vallery Hannam dari Australia dan banyak orang-orang hebat lainnya dari seluruh benua di dunia. Bahkan beberapa orang dari mereka sempat menghadiri acara pesta pernikahan orang tuaku yang digelar pada November 2005.
Saat menatap foto wedding party mereka, aku selalu merasa bangga bahwa orang tuaku merupakan bagian dari masyarakat internasional. Bahkan kata Abu, foto pernikahan mereka sempat dimuat di majalah TIME, sebuah majalah terkemuka di dunia, disebabkan salah satu wartawan majalah tersebut adalah teman ayahku. Namanya Uncle Virgyl.
Selain mendengar pengalaman-pengalaman menarik ayahku tentang kegiatan mereka di NGO Red Cross tersebut, ayahku juga bercerita tentang keadaan pulau Sabang yang tidak terdampak terlalu berat seperti Banda Aceh. Selain itu, ada sebuah daerah lain yang dikelilingi oleh lautan, tapi tidak banyak korban jiwa yang ditemukan di sana. Kenapa hal tersebut bisa terjadi?
Ternyata kejadian tsunami bukan pertama sekali terjadi Aceh. Beratus tahun lalu, kejadian yang sama juga pernah menimpa tanoh seuramo Makkah ini. Hal tersebut sudah menjadi cerita rakyat yang selalu diceritakan berulang kali oleh orang tua di daerah Sinabang sana, bahwa jika terjadi ‘smong’ atau banjir besar dari laut mereka harus lari ke dataran yang lebih tinggi.
Selain itu, ayahku juga bercerita bahwa bentuk rumoh Aceh yang tinggi sangat membantu jika terjadi bencana banjir besar, karena air akan menghantam bawah rumah yang hanya terdiri dari tameh atau tiang rumah saja, bukan dindingnya. Pun bentuk rumah-rumah ibadah seperti masjid yang dindingnya banyak rongga terbuka juga baik untuk menahan air bah yang datang.
Setelah aku dewasa, setiap kali gempa datang, Abu selalu mengajak kami turun dari rumah toko kami yang berlantai dua untuk menuju tanah lapang di samping rumah. Kata Abu, saat gempa usahakan keluar dari bangunan beton. Jika gempa terlalu kuat dan tidak ada kesempatan untuk lari, berlindunglah di bawah meja-meja kayu atau benda apapun yang bisa menahan atap atau dinding yang bisa jadi tiba-tiba roboh.
“Kita tinggal di daerah maritim yang kaya, selain kaya juga kadan-kadang alam menunjukkan keaktifannya. Maka sebagai orang cerdas, kita harus belajar dari pengalaman yang terjadi. Saat gempa jauhi bangunan yang mudah roboh. Jika ada indikasi ie beuna dan sirine bahaya dibunyikan, larilah ke tempat yang tinggi.”
Begitu ujar Abuku suatu malam menutup cerita tentang pengalaman-pengalamannya bekerja di sebuah NGO internasional yang sangat besar tersebut. Mendengar cerita-ceritanya, aku juga jadi ingin menjadi anggota Red Cross seperti ayahku. Pun setiap kali melewati Museum Tsunami dengan kawan-kawanku, aku akan selalu berteriak bangga menunjuk-nunjuk sebuah rongsokan truk yang diparkir tepat di halaman museum tersebut, “Itu mobil Red Cross, tempat ayahku bekerja dulu.”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






