POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pengemis, Antara Profesi dan Kondisi Kemiskinan?

RedaksiOleh Redaksi
December 14, 2024
Tags: #pengemis
Pengemis, Antara Profesi dan Kondisi Kemiskinan?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Faisal Ali Bahagia

Prodi Ekonomi Syariah, Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Mengemis, sering kali memicu perdebatan tentang apakah aktivitas ini merupakan profesi atau hanya cerminan kondisi yang memaksa atau terpaksa mengemis. Dalam banyak kasus, mengemis adalah hasil dari keadaan sulit seperti kemiskinan ekstrem, kehilangan pekerjaan, kurangnya pendidikan, atau keterbatasan fisik. Kondisi ini membuat seseorang terpaksa meminta-minta demi bertahan hidup.

Dalam konteks seperti ini, mengemis bukanlah pilihan, melainkan refleksi dari kegagalan sistem sosial dalam menyediakan jaring pengaman yang memadai. Di Aceh, dengan nilai-nilai syariah yang kuat, kewajiban membantu kaum dhuafa melalui zakat, infak, dan sedekah menjadi solusi ideal untuk mengurangi fenomena ini. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa ada pula individu yang menjadikan mengemis sebagai aktivitas berulang atau bahkan profesi.

Beberapa orang sengaja memilih untuk mengemis, karena melihatnya sebagai cara mudah untuk mendapatkan uang tanpa harus bekerja keras. Hal ini terkadang melibatkan sindikat yang memperkerjakan pengemis secara terorganisir, sehingga menciptakan tantangan moral dan sosial.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk bersikap bijak, dengan memberikan bantuan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan sambil mendorong upaya pemberdayaan ekonomi, seperti pelatihan keterampilan atau modal usaha mikro. Selain itu, pengawasan dan penegakan hukum yang tegas diperlukan untuk mencegah eksploitasi. Dengan pendekatan yang seimbang, fenomena mengemis dapat ditangani secara lebih manusiawi sekaligus mendorong kemandirian.

Ada juga fenomena saat ini pengemis yang berinovasi dalam mendapatkan pendapatan dengan menjual rasa iba dengan produk seperti “jambu biji” yang tidak memiliki kejelasan harga adalah sebuah fenomena yang terjadi saat ini di kota Banda Aceh. Pada satu sisi, pendekatan ini tampak seperti memanfaatkan empati konsumen sebagai daya tarik utama.

“Rasa iiba” di sini mungkin merujuk pada kisah emosional yang dikaitkan dengan produk tersebut. Hal ini terjadi beberapa tempat yang diobservasi, seperti warkop area Darussalam dan simpang lampu merah yang ada di kota Banda Aceh.

Seperti yang terjadi pada seorang anak yang berumur 9-14 tahun yang berjualan jambi biji di area tertentu,  pada saat jualan anak tersebut tidak menyebutkan harganya. Sehingga setiap pembelimempunyai harga yang relatif  berbeda. Ini adalah strategi yang sering digunakan untuk menumbuhkan rasa iba dan dukungan konsumen.

📚 Artikel Terkait

Masjid Indah, Tanpa Sampah

Penghargaan PIN  Sikap Siswa SDIT An Nur, Pidie Jaya

Narkoba Melenyapkan Anak Negeri

Konsekuensi Hukum Bila Ijazah Jokowi Terbukti Palsu

Fenomena pengemis yang menjual “rasa hiba” dengan menawarkan produk seperti jambu biji, tanpa kejelasan harga mengundang banyak pertanyaan menarik, baik dari sisi sosial maupun etis. Dalam konteks ini, “jualan” yang dilakukan bukan sekadar menjajakan barang, tetapi lebih banyak bermain pada emosi orang yang melintas rasa iba terhadap mereka yang terlihat membutuhkan.

Di satu sisi, langkah ini bisa dianggap sebagai bentuk kreatif dalam mencari rezeki. Dibandingkan hanya meminta-minta tanpa memberi imbalan apa pun, menawarkan barang, meskipun kecil seperti jambu biji menunjukkan usaha untuk memberi nilai tukar, meskipun harganya sering kali diabaikan oleh pembeli,karena didorong rasa iba. Model ini juga bisa dilihat sebagai upaya “pengemis modern” untuk tetap mempertahankan martabat mereka di tengah sulitnya kehidupan.

Namun, tanpa kejelasan harga, ada potensi manipulasi emosi. Rasa iba yang dibangun dapat dianggap sebagai cara eksploitasi psikologis. Apalagi jika barang yang dijual hanya menjadi simbolis, bukan nilai utama dari transaksi itu sendiri. Situasi ini memicu dilema: apakah kita benar-benar membantu atau justru mendukung budaya yang tidak transparan?

Jika dilihat dari sudut pandang sosial, penting bagi masyarakat untuk mendukung solusi yang lebih berkelanjutan, seperti pemberdayaan ekonomi dan edukasi, daripada hanya memberikan bantuan instan yang mungkin tidak menyelesaikan akar permasalahan. Memberi sedekah tentu baik, tapi memastikan bahwa bantuan tersebut memiliki dampak positif jangka panjang adalah tanggung jawab bersama.

Sebagai refleksi, pengemis dengan pendekatan ini seakan mengaburkan garis antara bekerja dan meminta-minta.

Masyarakat, sebagai bagian dari sistem sosial, perlu memikirkan cara agar bantuan yang diberikan lebih memberdayakan, bukan hanya mengobati rasa iba sesaat.

Pemerintah memiliki peran penting dalam menangani  fenomena pengemis yang menjual “rasa iba” dengan menawarkan produk simbolis seperti jambu biji, tanpa kejelasan harga. Langkah pertama yang perlu diambil adalah memberdayakan kelompok rentan melalui program pelatihan keterampilan dan bantuan modal usaha mikro.

Dengan memberikan peluang untuk berwirausaha, mereka dapat beralih dari meminta-minta menjadi pelaku ekonomi yang lebih mandiri. Selain itu, pemerintah juga harus mengatur dan mengawasi aktivitas pengemis melalui regulasi yang jelas, termasuk mencegah eksploitasi oleh pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan mereka untuk keuntungan pribadi.

Tidak kalah penting, bantuan sosial yang tepat sasaran harus terus diperkuat, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) atau penyediaan rumah singgah yang tidak hanya memberikan tempat tinggal sementara, tetapi juga pembinaan dan dukungan psikologis. Di sisi lain, edukasi masyarakat juga menjadi kunci agar mereka lebih memilih mendukung program pemberdayaan dibandingkan sekadar memberikan uang kepada pengemis.

Melalui kampanye sosial dan kerja sama dengan lembaga swasta, serta organisasi non-pemerintah, pemerintah dapat menciptakan pendekatan terpadu untuk mengatasi masalah ini. Dengan langkah-langkah tersebut, fenomena ini tidak hanya dapat diminimalkan, tetapi juga dapat membuka jalan bagi kehidupan yang lebih bermartabat bagi para pengemis

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #pengemis
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Di Balik Senyum Murung

Di Balik Senyum Murung

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00